Perjalanan baru diawali dengan perubahan status dari Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan Singaraja menjadi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2025. Kebijakan ini membuka ruang pengembangan akademik dan kelembagaan yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi pendidikan tinggi keagamaan Hindu Negeri satu-satunya di Bali Utara ini.
Babak kepemimpinan institut dimulai dengan pelantikan Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A. sebagai Rektor, yang berlangsung pada Senin, 30 Juni 2025, di Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia. Pelantikan dilakukan langsung oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. Momentum ini menandai dimulainya kepemimpinan definitif ditengah masa transisi kelembagaan.
Penguatan status institut kemudian ditegaskan melalui peresmian Institut Mpu Kuturan oleh Menteri Agama RI pada Sabtu, 20 September 2025. Kehadiran Menteri Agama dalam peresmian tersebut tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga menunjukkan dukungan negara terhadap pengembangan pendidikan di wilayah Bali Utara.
Sejalan dengan transformasi kelembagaan, sepanjang 2025 pembangunan fisik menjadi salah satu fokus utama. IMK memulai pembangunan tahap pertama Gedung Pelayanan Akademik di Kampus Pascasarjana Jalan Kresna, Singaraja. Selain itu, pembangunan juga dilakukan di Kampus Menjangan, Banyuning, melalui pembangunan Gedung Pelayanan Akademik.
Rektor Institut Mpu Kuturan, Prof. Dr. Drs. I Gede Suwindia, M.A., menegaskan bahwa perubahan status kelembagaan harus diiringi dengan perubahan nyata dalam kualitas pelayanan.
“Transformasi menjadi institut tidak boleh berhenti pada aspek administratif. Yang lebih penting adalah bagaimana perubahan ini dirasakan langsung oleh mahasiswa, dosen, dan masyarakat melalui peningkatan layanan dan mutu pendidikan,” ujarnya.
Upaya peningkatan mutu tersebut diwujudkan antara lain melalui pengadaan sarana dan prasarana pembelajaran, termasuk digitalisasi ruang kelas. Langkah ini menjadi bagian dari pengembangan Smart Kampus, selaras dengan tagline GASS (Green, Arta, Smart, and Spiritual) yang diusung institut. Digitalisasi diarahkan untuk menciptakan pembelajaran yang adaptif dan efisien.
“Teknologi harus digunakan secara bijaksana. Smart Kampus bagi kami adalah teknologi yang ramah lingkungan, bernilai guna, dan tetap berakar pada spiritualitas,” kata Suwindia.
Pada saat yang sama, aktivitas tridharma perguruan tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat terus diperkuat sepanjang 2025. Berbagai kegiatan akademik diarahkan untuk mempertemukan keilmuan dengan kearifan lokal Hindu, sekaligus membentuk lulusan berkualitas. (dik/bea)