Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jaga Telinga, Cegah Bullying: Gerakan Sehat dari SDN 1 Tonja

Iqbal Kurnia • Rabu, 31 Desember 2025 | 13:54 WIB
Penyampaian Materi dengan Media Slide Power Point dan Pelatihan
Penyampaian Materi dengan Media Slide Power Point dan Pelatihan

 

BALIEXPRESS.ID - Di tengah riuh rendah suara anak-anak bermain di halaman SD Negeri 1 Tonja, Denpasar Utara, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: kesehatan telinga. Pengetahuan mengenai kesehatan telinga sangat penting diberikan sejak usia dini. Tentunya dengan telinga yang bersih dan sehat dapat mempengaruhi kenyamanan belajar.selain itu, rasa aman psikologis mereka di sekolah juga harus diperhatikan. Padahal, dua hal ini sangat menentukan bagaimana seorang anak belajar, bergaul, dan tumbuh percaya diri.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, dr. Diana Sudana dan tim pengabdian masyarakat dari Universitas Warmadewa bekerja sama dengan SDN 1 Tonja menggelar program penyuluhan dan pelatihan kesehatan telinga, sekaligus sosialisasi bahaya perundungan (bullying) bagi siswa kelas VI. Sekolah ini dipilih karena jumlah siswanya besar, berada di kawasan padat penduduk, dan data fasilitas kesehatan setempat menunjukkan masih sering ditemukannya kasus gangguan telinga pada anak usia sekolah dasar.

Mengapa Telinga Anak Harus Dijaga?

Telinga bukan sekadar organ untuk mendengar, tetapi pintu utama anak menerima informasi di kelas. Gangguan seperti infeksi, telinga tersumbat kotoran, atau penurunan pendengaran dapat membuat anak sulit mengikuti pelajaran, tertinggal dalam memahami instruksi guru, bahkan tampak “tidak memperhatikan” padahal sebenarnya tidak mendengar dengan jelas.

Sayangnya, banyak kebiasaan sehari-hari yang justru berisiko merusak telinga anak: mengorek telinga dengan benda tajam, memakai cotton bud terlalu dalam, hingga mulai terbiasa menggunakan earphone dengan volume keras. Jika dibiarkan, masalah-masalah ini bisa berkembang menjadi gangguan pendengaran yang mengganggu proses belajar dan kehidupan sosial mereka.

Dari Kelas Belajar, Menjadi Kelas Penyuluhan

Program PKM di SDN 1 Tonja dirancang tidak sekadar “ceramah di depan kelas”. Kegiatan dimulai dengan perkenalan sederhana tentang telinga: bentuknya, bagian-bagiannya, dan bagaimana suara bisa sampai ke otak. Materi disampaikan dengan gambar menarik dan bahasa yang mudah dipahami anak usia sekolah dasar.

Setelah itu, siswa diajak berdiskusi tentang kebiasaan mereka: siapa yang suka mengorek telinga sendiri, siapa yang pernah merasa telinganya sakit atau berdengung, dan siapa yang sering menggunakan earphone. Dari sini, tim menjelaskan mana kebiasaan yang aman dan mana yang berbahaya, serta cara membersihkan telinga yang benar tanpa merusak gendang telinga.

Kegiatan tidak berhenti di situ. Anak-anak juga diberi pelatihan praktis, misalnya cara mengeringkan telinga setelah mandi, kapan harus meminta bantuan orang dewasa atau dokter, dan apa yang harus dilakukan jika melihat temannya mengalami keluhan telinga. Guru pun dilibatkan agar dapat mengenali tanda-tanda awal gangguan pendengaran, seperti siswa yang sering meminta pengulangan instruksi atau cenderung mendekat ke sumber suara.

 

Foto Bersama dengan Mitra Pengabdian
Foto Bersama dengan Mitra Pengabdian

 

Menyentuh Isu Bullying di Sekolah Dasar

Selain kesehatan telinga, tim juga menyoroti permasalahan yang kian sering muncul di sekolah: bullying. Tekanan sosial, perbedaan fisik, penampilan, atau latar belakang ekonomi sering kali menjadi pemicu anak saling mengejek atau mengucilkan. Dampaknya tidak main-main: rasa rendah diri, cemas, hingga turunnya prestasi belajar.

Melalui sesi khusus, siswa diajak memahami apa itu bullying, contoh-contohnya, serta bagaimana cara berkata dan bertindak yang lebih menghargai teman. Mereka diajak berdiskusi tentang bagaimana perasaan anak yang diejek, dan bagaimana peran teman sebaya untuk berani menolak perundungan. Guru juga diberi penguatan agar lebih peka ketika melihat perubahan perilaku siswa yang mungkin menjadi korban.

Semua Siswa Terjangkau, Target Tercapai

Salah satu capaian penting program ini adalah seluruh siswa sasaran mengikuti rangkaian penyuluhan dan pelatihan sampai selesai, sehingga 100% anak mendapatkan penjelasan dan praktik langsung tentang cara merawat kesehatan telinga dan memahami bullying. Antusiasme terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan serta kesediaan siswa untuk mempraktikkan cara perawatan telinga yang benar di depan teman-temannya.

Secara umum, pemahaman siswa dinilai meningkat: mereka dapat menyebutkan kebiasaan yang harus dihindari, mengenali gejala awal gangguan telinga, dan tahu bahwa mengejek atau mengucilkan teman termasuk perilaku bullying yang tidak boleh dibiarkan. Guru merasa terbantu karena mendapat panduan lebih jelas tentang apa yang perlu diperhatikan dan bagaimana menindaklanjuti bila menemukan masalah kesehatan telinga atau perundungan di kelas.

Menanam Kebiasaan Sehat Sejak Dini

Program ini tidak berhenti pada satu hari kegiatan. Sekolah didorong untuk menempelkan poster edukasi telinga sehat dan anti-bullying di lingkungan sekolah serta memasukkan pesan-pesan singkat tentang kesehatan telinga dan sikap saling menghargai dalam kegiatan harian, seperti apel pagi atau sesi bimbingan.

Harapannya, anak-anak SDN 1 Tonja tumbuh dengan telinga yang sehat, pendengaran yang baik, dan lingkungan belajar yang bebas dari perundungan. Jika telinga terjaga dan hati anak merasa aman, mereka akan lebih siap menyerap pelajaran dan mengukir prestasi — bukan hanya di kelas, tetapi juga di masa depan.

 

Editor : Iqbal Kurnia
#SDN 1 Tonja #telinga #bullying