Oleh: dr. Putu Rinawati Jayanti, M.Biomed, Sp.THT-BKL Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa
BALIEXPRESS.ID-Suasana pagi di SD Negeri 1 Tonja Denpasar tampak seperti sekolah dasar pada umumnya. Anak-anak datang dengan semangat belajar, memenuhi halaman sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Namun di balik keceriaan itu, tersimpan persoalan kesehatan yang kerap luput dari perhatian: tingginya keluhan sakit tenggorokan dan pembesaran amandel pada siswa. Hasil observasi dan pemeriksaan awal menunjukkan bahwa sekitar 36 persen siswa mengalami tonsilitis kronis, dengan keluhan nyeri menelan, demam berulang, dan bau mulut. Kondisi ini bukan hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga berdampak pada konsentrasi belajar dan kehadiran siswa di sekolah.
Saat Jajanan Tidak Lagi Ramah Tenggorokan
Berawal dari diskusi dengan pihak sekolah dan guru, tim dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa menemukan beberapa faktor risiko utama. Sebagian besar jajanan di kantin sekolah masih didominasi makanan berminyak, manis, dan minuman dingin, yang berpotensi memperparah iritasi tenggorokan.Di sisi lain, pemahaman siswa dan guru mengenai pencegahan penyakit amandel masih terbatas. Kebiasaan sederhana seperti berbagi alat makan dan kurangnya kesadaran memilih makanan sehat menjadi pemicu berulangnya keluhan kesehatan tersebut. Padahal, jika dibiarkan, tonsilitis kronis dapat berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak dan beban kesehatan keluarga.
Mengedukasi Anak, Menguatkan Sekolah
Berangkat dari kondisi tersebut, tim PKM Universitas Warmadewa merancang Program Edukasi Penanganan Amandel dan Pengembangan Kantin Sehat yang dilaksanakan pada 10 Oktober 2025 di SD Negeri 1 Tonja Denpasar. Kegiatan diawali dengan penyuluhan interaktif mengenai fungsi amandel, penyebab radang tenggorokan, serta cara pencegahan melalui pola hidup bersih dan pemilihan makanan sehat. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana, disertai gambar dan sesi tanya jawab yang membuat siswa antusias berpartisipasi. Tak hanya itu, dilakukan pula pemeriksaan kesehatan Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT) untuk mendeteksi dini kondisi amandel siswa. Beberapa siswa dengan pembesaran amandel derajat sedang hingga berat kemudian diberikan edukasi lanjutan dan disarankan melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
Kantin Sehat, Investasi Jangka Panjang Sekolah
Menariknya, program ini tidak berhenti pada edukasi kesehatan semata. Tim PKM juga melakukan pendampingan pengembangan kantin sehat, dengan memberikan pelatihan penyusunan menu bergizi, teknik penyajian higienis, serta pengelolaan sederhana kantin sekolah. Kantin sehat dipandang bukan hanya sebagai sarana pencegahan penyakit, tetapi juga sebagai potensi pemberdayaan ekonomi sekolah. Dengan menu yang lebih sehat dan terencana, kantin diharapkan mampu mendukung kesehatan siswa sekaligus menjadi sumber pemasukan mandiri sekolah.
Perubahan Kecil yang Mulai Terlihat
Usai kegiatan, guru dan pengelola kantin melaporkan peningkatan kesadaran siswa dalam memilih jajanan yang lebih sehat. Siswa mulai memahami bahwa menjaga tenggorokan bukan hanya tugas dokter, tetapi kebiasaan sehari-hari yang dimulai dari makanan yang mereka konsumsi. Pengelola kantin pun mulai menata ulang menu dan memperhatikan kebersihan penyajian makanan. Sebuah langkah kecil, namun penting, menuju sekolah ramah gizi.
Sekolah sebagai Garda Depan Pencegahan Penyakit
Kasus tonsilitis pada anak sekolah menunjukkan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam upaya promotif dan preventif kesehatan. Melalui edukasi yang tepat dan lingkungan sekolah yang mendukung, penyakit yang sering dianggap sepele ini dapat ditekan sejak dini. Program kemitraan di SD Negeri 1 Tonja Denpasar membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang sederhana, partisipatif, dan berkelanjutan mampu meningkatkan kesadaran kesehatan anak sekaligus memberdayakan sekolah
Menjaga Tenggorokan Sehat, Menjaga Masa Depan Anak
Amandel yang sehat berarti anak dapat belajar dengan nyaman, aktif di kelas, dan tumbuh optimal. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar, upaya menjaga kesehatan anak dapat dilakukan lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Inisiatif seperti ini diharapkan dapat direplikasi di sekolah lain, sehingga semakin banyak anak Indonesia yang tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya.
Editor : Wiwin Meliana