Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Anggota DPRD Bali Dorong Penanganan Cepat LSD, Lockdown Sapi di Jembrana Diharapkan Lebih Singkat

Rika Riyanti • Senin, 19 Januari 2026 | 16:07 WIB

Pemotongan bersyarat terhadap lima ekor sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) Jembrana yang terjangkit virus Lumpy Skin Disease (LSD), Rabu (14/1/2026).
Pemotongan bersyarat terhadap lima ekor sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) Jembrana yang terjangkit virus Lumpy Skin Disease (LSD), Rabu (14/1/2026).

 

BALIEXPRESS.ID - Kasus Lumpy Skin Disease (LSD) yang menyerang ternak di Kabupaten Jembrana mendorong pengetatan pengawasan lalu lintas hewan di Bali.

Tercatat sebanyak 28 ekor sapi dan kerbau di wilayah tersebut terkonfirmasi positif LSD.

Untuk mencegah penularan ke daerah lain, pemerintah memberlakukan lockdown khusus ternak di Jembrana dengan penghentian sementara distribusi hewan selama enam bulan.

Kebijakan tersebut mendapat perhatian Anggota Komisi II DPRD Bali, Gede Ghumi Asvatham.

Baca Juga: Gerindra Bali Sejalan dengan DPP, De Gadjah Jelaskan Dukungan Pilkada Melalui DPRD

Ia menilai langkah pemerintah dalam mengendalikan penyebaran LSD sudah berada di jalur yang tepat, namun berharap penanganan dapat dilakukan secara cepat dan terfokus sehingga masa lockdown tidak berlangsung terlalu lama.

“Mari kita selesaikan dulu di internal atau di Jembrana dulu. Setelah nanti selesai, pemerintah memberikan solusi yang terbaik baru kita mulai lagi untuk ke pengiriman sapi,” katanya diwawancara usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Bali, Senin (19/1).

Ghumi mengakui wabah LSD berdampak langsung pada peternak sapi di Jembrana.

Meski demikian, ia mengapresiasi sikap para peternak yang dinilainya kooperatif dan mengikuti arahan pemerintah demi mempercepat penanganan penyakit tersebut.

Baca Juga: Berlibur di Bali, Mahasiswa dan Pegawai Hotel Bobol Konter Hp di Denpasar, 6 Ponsel Raib

Menurutnya, kesadaran peternak juga didorong oleh keinginan agar wabah tidak meluas ke kabupaten lain.

“Kita berharap supaya selesai disana saja tidak ke mana-mana,” ujarnya.

Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Jembrana, Ghumi menyebutkan bahwa hingga kini belum ada data pasti terkait total kerugian yang dialami peternak akibat LSD.

Ia berharap ke depan ada sinergi antara peternak dan pemerintah dalam menyikapi dampak ekonomi yang timbul.

Terkait kebijakan lockdown, ia menilai langkah tersebut memang diperlukan demi mencegah penyebaran penyakit, sembari meminta peternak untuk bersabar.

“Nanti setelah LSD selesai, ikuti saja aturan pemerintah. Kita pastikan selesai. Nanti setelah selesai bisa lagi beroperasi seperti biasa,” jelasnya.

Ghumi juga menegaskan bahwa wabah LSD sejauh ini belum berpengaruh terhadap ketersediaan daging sapi di Bali.

Baca Juga: Awal 2026, Kementerian ATR/BPN Targetkan Peningkatan Akurasi Data Pertanahan

Menurutnya, belum ada laporan dari masyarakat terkait kelangkaan stok daging di pasaran, sehingga kondisi masih terbilang aman, termasuk menjelang hari raya besar.

“Jadi saya rasa masih aman. Apalagi kita kan mau menyambut Hari Raya Besar. Masih belum ada dampak signifikan. Jadi sampai sekarang kita belum menempatkan masukan-masukan dari bawah itu belum ada. Jadi saya rasa di pasaran juga masih stabil. Juga nanti ke depannya semoga setelah ini selesai semua, dipastikan tidak ada yang terjangkit kembali. Jadi mungkin tidak harus sampai 6 bulan, mungkin lebih cepat lah,” bebernya.

Diketahui, sentra peternakan sapi di Kabupaten Jembrana tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Melaya, Negara, dan Mendoyo.(***)

Editor : Rika Riyanti
#bali #sapi #LSD #jembrana