Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bertanding di Surabaya, Tim Muaythai Buleleng Borong Tiga Emas

Dian Suryantini • Senin, 26 Januari 2026 | 14:43 WIB

Pertandingan atlet Buleleng (biru) melawan atlet Surabaya di Surabaya.
Pertandingan atlet Buleleng (biru) melawan atlet Surabaya di Surabaya.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Semangat juang, determinasi, dan mental tanding menjadi kunci sukses Muaythai Indonesia (M.I) Buleleng di ajang SLC Super Fight Surabaya. Dengan hanya menurunkan lima atlet, tim asal Bali Utara ini tampil mengejutkan dengan membawa pulang lima medali. Diantaranya, tiga emas, satu perak, dan satu perunggu.

 

Kejuaraan yang berlangsung pada 23–25 Januari 2026 di Mall FireNine, Surabaya, tersebut menjadi arena pertarungan sengit bagi sekitar 300 atlet dari berbagai daerah di Jawa Timur dan sekitarnya. Atmosfer laga panas dan tekanan sebagai tim tamu tak menyurutkan langkah para petarung Buleleng untuk tampil agresif, disiplin, dan penuh percaya diri.

 

Ketua tim sekaligus pelatih Muaythai Buleleng, Gede Sudarma atau Gede Buda, menyebut hasil ini sebagai buah dari proses panjang pembinaan atlet. Ia menegaskan, capaian tersebut bukan semata soal medali, tetapi tentang karakter bertanding yang mulai matang.

 

“Dengan jumlah atlet terbatas, anak-anak bisa tampil maksimal. Tiga emas, satu perak, dan satu perunggu adalah bukti bahwa mental tanding dan kesiapan mereka sudah berada di jalur yang tepat,” kata Gede Buda, Senin (26/1).

 

Tiga medali emas Muaythai Buleleng lahir dari performa konsisten para atlet muda. Gede Esa Widi Sanjaya tampil dominan di kelas 45 kg putra U-14, menunjukkan kontrol pertandingan yang rapi sejak ronde awal. Di kelas 57 kg putra U-17, Ngurah Eka Setiawan mencuri perhatian publik setelah sukses menundukkan petarung tuan rumah asal Gresik dalam duel keras yang berlangsung ketat.

 

Satu emas lainnya dipersembahkan Kadek Agus Darmayasa di kelas 59 kg U-14, yang tampil penuh determinasi dan mampu menjaga tempo laga hingga akhir pertandingan.

 

Sementara itu, Putu Rico Dewantara di kelas 57 kg U-23 harus puas meraih medali perak setelah dikalahkan atlet asal Gresik. Meski gagal naik podium tertinggi, penampilannya dinilai solid dan menunjukkan daya juang tinggi hingga ronde terakhir.

 

Di sektor putri, Luh Mila Yuni Ariani yang baru berusia 15 tahun menyumbangkan medali perunggu di kelas 54 kg. Menghadapi atlet berpengalaman dari Petarung Sejati Indonesia, Surabaya, Luh Mila tetap tampil berani dan agresif, meski harus mengakui keunggulan lawan. Bagi Luh Mila, ajang ini menjadi panggung penting untuk menambah jam terbang dan membangun mental tanding.

 

Gede Buda menilai SLC Super Fight menjadi ajang uji nyali sekaligus tolok ukur perkembangan atlet Muaythai Buleleng. Intensitas pertandingan, kualitas lawan, dan tekanan laga menjadi pembelajaran berharga bagi timnya.

 

“Event seperti ini sangat penting untuk pembentukan mental. Anak-anak belajar mengelola tekanan, membaca lawan, dan bertarung dengan strategi. Hasil ini menjadi bekal penting untuk menghadapi kejuaraan berikutnya,” kata dia.

 

Ajang SLC Super Fight merupakan kolaborasi SLC bersama Pengprov Muaythai Jawa Timur, yang rutin menghadirkan kompetisi berlevel tinggi. Bagi Muaythai Buleleng, torehan lima medali dari lima atlet bukan sekadar prestasi, melainkan sinyal kuat bahwa Bali Utara memiliki stok petarung masa depan yang siap bersaing di pentas nasional. (dhi)

Editor : Dian Suryantini
#medali #kejuaraan #muaythai #perunggu #emas #perak #buleleng #surabaya