BALIEXPRESS.ID - Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Denpasar meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah masuknya virus Nipah ke Bali.
Langkah deteksi dini dilakukan melalui pemasangan thermal scanner serta pengawasan ketat terhadap penumpang, khususnya yang datang dari India.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Denpasar, Heri Saputra, menjelaskan thermal scanner digunakan untuk mendeteksi gejala awal virus Nipah berupa demam tinggi dengan suhu tubuh di atas 37,5 derajat Celsius hingga 38 derajat Celsius.
“Kita sudah pasang tiga thermal scanner. Ada di Bandara Internasional dua dan di domestik satu,” jelasnya, Jumat (30/1).
Baca Juga: DPRD Tabanan Sidak Vila di Kediri: Temukan Pelanggaran Sepadan Sungai dan LSD
Ia menyebutkan, pemasangan thermal scanner sebenarnya telah dilakukan sejak upaya antisipasi wabah Super Flu beberapa waktu lalu.
Namun, dengan munculnya ancaman virus Nipah, kewaspadaan diperkuat tidak hanya melalui alat pendeteksi suhu, tetapi juga pengamatan langsung terhadap kondisi fisik penumpang yang tiba di Bali.
Jika ditemukan penumpang dengan gejala demam atau kondisi yang mencurigakan, petugas akan melakukan pemeriksaan dan penanganan awal sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Kalau misalnya nanti ada gejala kritis akan kita rujuk ke RSUP Prof Ngurah jadi seperti itu, dan nanti kita dari itu akan kita periksa apakah dia suspeknya itu benar-benar nipah atau karena sakit biasa,” imbuhnya.
Baca Juga: Pencuri Laptop di Karangasem Tertangkap di Gilimanuk, Ternyata Komplotan Lintas Daerah
Heri menambahkan, setelah pemeriksaan awal dilakukan, sampel akan dikirim ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) di Surabaya untuk memastikan hasil diagnosis.
Penumpang yang terdeteksi memiliki indikasi virus Nipah namun belum menunjukkan gejala berat akan menjalani karantina selama 21 hari.
Sementara penumpang yang sudah bergejala akan langsung diisolasi dan dirawat di rumah sakit.
RSUP Prof. Ngoerah ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan terdekat bagi penumpang yang teridentifikasi terpapar virus Nipah.
Karena virus Nipah telah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) di India, pengawasan secara khusus difokuskan pada penumpang yang datang dari negara tersebut, termasuk seluruh penerbangan langsung menuju Bali.
“Karena di Asia kan sekarang kan perubahan pola orang ini kan tidak nentu seperti jaman dulu karena orang gampang pindah gitu ya, perpindahan lebih cepat ya, masa inkubasinya tidak kelihatan, nah itu yang pasti concern adalah di India karena kita dari India saja ada 5 penerbangan ya yang langsung ke Bali yang direct ya. Kalau yang dari negara-negara lain juga kita waspadai maka kita pasang therma scanner untuk semua penumpang yang akan menuju Bali atau yang akan keluar Bali,” terangnya.
Baca Juga: Sidang Praperadilan Kakanwil BPN Bali Bergulir, Tim PH Sebut Subjek Hukum Penetapan Tersangka Keliru
Selain penerbangan langsung dari India ke Bali, pengawasan juga mencakup pergerakan penumpang dari India ke Singapura, India ke Malaysia, serta penumpang dari Malaysia yang melanjutkan perjalanan ke Bali.
“Tapi karena yang saat ini terjangkit itu di India, kita konsen yang sangat-sangat ketat itu di penerbangannya walaupun semua juga ketat sih gitu. Tapi yang kita konsentrasikan di yang dari India penerbangan,” pungkasnya.(***)
Editor : Rika Riyanti