BALIEXPRESS.ID – Rencana pembangunan Bali Urban Subway hingga kini belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Lokasi ground breaking di kawasan Sentral Parkir Badung masih berupa lahan kosong yang dipagari seng putih bertuliskan PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) serta plang pembatas berwarna kuning.
Belum adanya aktivitas pembangunan menimbulkan tanda tanya mengenai kelanjutan proyek kereta di Bali.
Padahal, saat seremoni ground breaking pada 2024 lalu, Penjabat Gubernur Bali sempat menyampaikan bahwa delapan unit tunnel boring machine (TBM) yang telah dipesan dijadwalkan tiba pada April 2025 untuk mengerjakan terowongan berdiameter 7,2 meter.
Hingga kini, rencana tersebut belum terealisasi dan lokasi proyek masih belum mengalami perubahan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta, menjelaskan bahwa saat ini PT Sarana Bali Dwipa Jaya masih berada dalam tahap kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan China North Industries Group Corporation Limited (Norinco) terkait kajian perencanaan dan pembangunan jalur kereta api di Bali.
“Nanti rencananya dari pemerintah kalau sudah ada pengajuan trase (garis rencana tapak atau sumbu jalur kereta api), disana Dishub akan melakukan evaluasi trase,” katanya, Selasa (10/2).
Mudarta mengakui, hingga saat ini pihaknya belum melihat adanya perkembangan lanjutan baik dari PT Bumi Indah Prima (BIP) maupun PT SBDJ terkait realisasi proyek tersebut.
Baca Juga: Tumpahan Solar 1 Km di Karangasem Picu Kecelakaan, 5 Pengendara Motor Jatuh
Ia juga menyebut mendapat informasi bahwa PT SBDJ tengah menjajaki kerja sama dengan mitra baru.
Menurut Mudarta, keberadaan transportasi publik di Bali merupakan kebutuhan yang tidak terelakkan, mengingat keterbatasan lahan untuk pembangunan infrastruktur jalan.
Dalam kondisi tersebut, moda transportasi berbasis rel bawah tanah dinilai dapat menjadi alternatif.
“Saya melihat publik transport di Bali itu sebuah keniscayaan dengan memperhatikan ketersediaan lahan untuk pembangunan jalan menurut saya moda transportasi yang berbasis kereta bawah tanah menjadi alternatif yang dibutuhkan karena membangun transportasi handal berlintasan khusus di permukaan dengan ketersediaan lahan di Bali menjadi tantangan,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai tingkat urgensi pembangunan transportasi kereta di Bali, Mudarta menegaskan bahwa kebutuhan terhadap transportasi publik masih sangat relevan.
Namun, realisasinya bergantung pada kemampuan penyediaan jalur, baik di darat maupun lintasan khusus.
“Kalau publik transport pastinya dibutuhkan, sekarang bagaimana kita menyediakan itu apakah mampu menyediakan di darat, di lintasan khusus itu menjadi masalah, subway tantangan biaya menjadi masalah dari sisi kebutuhan kalau memang ada layanan yang handal saya yakin dibutuhkan,” katanya.(***)
Editor : Rika Riyanti