Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dewa Sukrawan Serahkan 200 Bibit Gaharu kepada Gubernur Koster, Ditanam di Kawasan Besakih

I Putu Mardika • Kamis, 12 Februari 2026 | 16:27 WIB

Sebanyak 200 bibit pohon gaharu diserahkan Komisaris Utama CV Tunas Gaharu Bali, Dewa Sukrawan, kepada Gubernur Bali Wayan Koster pada Rabu (11/2)
Sebanyak 200 bibit pohon gaharu diserahkan Komisaris Utama CV Tunas Gaharu Bali, Dewa Sukrawan, kepada Gubernur Bali Wayan Koster pada Rabu (11/2)
BALIEXPRESS.ID – Momentum penghijauan kembali digaungkan di Bali. Pada Rabu, (11/2)  sebanyak 200 bibit pohon gaharu diserahkan Komisaris Utama CV Tunas Gaharu Bali, Dewa Sukrawan, kepada Gubernur Bali Wayan Koster. Penyerahan tersebut dilanjutkan dengan kegiatan penanaman di areal Pura Kancing Gumi dan sekitarnya, wilayah Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem.

Acara yang dimulai pukul 09.00 Wita itu menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendorong pelestarian hutan sekaligus penguatan nilai ekonomi dan spiritual tanaman khas tersebut. Hadir dalam kegiatan ini Bendesa Adat Besakih, Ketua Pengelola Hutan, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Bali, Camat Rendang, Kapolsek Rendang, Danramil Rendang, serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Dewa Sukrawan menyampaikan bahwa penanaman gaharu bukan sekadar simbolis, tetapi memiliki visi jangka panjang bagi kelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Semoga penanaman ini bisa menjadi awal penghijauan hutan dan juga memiliki nilai cukup tinggi karena gaharu cukup potensial dari segi bisnis,” ujarnya.

Menurutnya, gaharu memiliki posisi istimewa dalam konteks budaya Bali. Ia menjelaskan bahwa di Bali, gaharu kerap disebut sebagai kayu majegau. Kayu ini tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga sarat makna spiritual dalam tradisi Hindu Bali.

“Gaharu atau majegau ini punya nilai spiritual yang tinggi. Kayu jenis ini sering digunakan untuk membuat sanggah atau pelinggih, atau minimal pada bagian tugeh menggunakan majegau. Kayu ini juga menjadi bahan utama pewangi atau campuran dupa,” jelas mantan Ketua DPRD Buleleng tersebut.

Penggunaan kayu majegau dalam struktur pelinggih dan sarana upacara menunjukkan keterkaitan erat antara pelestarian alam dan praktik keagamaan masyarakat Bali. Karena itu, penanaman kembali pohon gaharu dinilai strategis, tidak hanya untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan, tetapi juga untuk menjamin keberlanjutan bahan baku sakral yang dibutuhkan dalam ritual keagamaan.

Kawasan Besakih dipilih sebagai lokasi penanaman karena memiliki nilai religius sekaligus ekologis. Sebagai pusat spiritual umat Hindu di Bali, wilayah ini juga menjadi kawasan yang penting dalam sistem tata ruang berbasis kesucian dan konservasi. Penanaman di sekitar Pura Kancing Gumi diharapkan mampu memperkuat fungsi kawasan sebagai ruang hijau yang lestari.

Kehadiran unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, serta tokoh adat dan masyarakat mencerminkan sinergi multipihak dalam mendukung program penghijauan. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model pelestarian lingkungan berbasis budaya dan partisipasi komunitas.

Selain aspek spiritual, gaharu dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar nasional maupun internasional, terutama sebagai bahan baku industri parfum, minyak atsiri, dan produk aromatik lainnya. Potensi tersebut membuka peluang pengembangan budidaya yang berkelanjutan, sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan hasil hutan bukan kayu.

Dengan penanaman 200 bibit gaharu ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga hutan sebagai sumber kehidupan sekaligus warisan budaya. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan dari identitas dan praktik spiritual masyarakat Bali.

Momentum penanaman gaharu di Besakih pun menjadi simbol komitmen bersama antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat adat dalam menjaga harmoni antara alam, manusia, dan nilai-nilai sakral yang hidup di Pulau Dewata. (art)

Editor : I Putu Mardika
#bali #penghijauan #gaharu #pohon #koster