BALIEXPRESS.ID - Selama hampir empat bulan tim Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung mencatat sampah kiriman yang telah dibersihkan di sepanjang pesisir Kabupaten Badung mencapai 3.000 ton.
Tim di lapangan kini dapat sedikit bernapas lega lantaran volume sampah yang menepi mulai menunjukkan penurunan.
Hal ini diperkirakan lanraran musim angin muson barat akan segera berakhir.
Baca Juga: Ketua Kwarda Pramuka Bali Melantik Pengurus Pramuka Tingkat Cabang & Ranting se-Kabupaten Gianyar
Kabid Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Kabupaten Badung, Anak Agung Gede Agung Dalem mengatakan, selama hampir empat bulan terakhir telah mengumpulkan sampah 3.000 ton dari pinggir pantai.
Sampah yang dibersihkan ini berupa batang kayu, plastik, dan lainnya.
“Laut sudah mulai bersahabat. Volume sampah yang dibersihkan mencapai 3.000 ton,” ujar Gung Dalem, saat dikonfirmasi Kamis (19/2).
Baca Juga: Polsek Ubud Gelar Panen Raya Jagung Dukung Program Astacita Presiden di Singakerta Ubud
Pihaknya menyebutkan, ribuan ton sampah kiriman ini dibersihkan di Pantai Petitenget hingga Pantai Jimbaran.
Dari luasnya cakupan wilayah, dirinya pun membagi 10 zona tim yang bertugas di lapangan.
Meski demikian, petugas di lapangan masih bersiaga untuk melakukan pembersihan.
Baca Juga: Sat Pamobvit Polres Gianyar Tingkatkan Pengamanan di Obyek Wisata Pura Mangening Tampaksiring
“Ada 10 zona sampah kiriman menepi, mulai dari Pantai Petitenget sampai Jimbaran,” ungkapnya.
Berkurangnya sampah yang menepi, Gung Dalem memperkirakan lantaran telah memasuki akhir musim angin muson barat.
Sebelumnya ia menyatakan, dalam penanganan sampah kiriman DLHK Badung mengerahkan 12 unit alat berat di pantai-pantai strategis.
Hal ini guna mempercepat proses pengumpulan dan pengangkutan sampah.
Selain itu, sekitar 300–350 tenaga penyapuan dikerahkan secara rutin, dan dapat ditambah hingga 800 personel apabila kondisi semakin berat.
“Begitu sampah terdampar, langsung kita kumpulkan dan angkut keluar dari pantai. Fokus kami agar timbunan tidak menumpuk dan mengganggu aktivitas pariwisata,” paparnya.
Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, komposisi sampah kiriman yang menepi didominasi material organik berupa kayu sekitar 70 persen, sedangkan 30 persen merupakan sampah plastik.
Sampah plastik bernilai dipilah dan disalurkan ke mitra pengolah, sementara plastik campuran dibawa ke TPA.
Sedangkan kayu gelondongan dipotong dan digerus menggunakan mesin wood chipper untuk dijadikan serbuk yang dapat dimanfaatkan sebagai kompos atau urugan. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga