BALIEXPRESS.ID - Bahasa Bali kembali menjadi sorotan di tengah kekhawatiran menurunnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda. Meski secara statistik masih tergolong aman dalam peta linguistik Indonesia yang mencatat 718 bahasa daerah, kenyataannya penggunaan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Koordinator Penata Layanan Operasional (Penyuluh Bahasa Bali) Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan Suarmaja, menilai angka statistik belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya di masyarakat. Menurutnya, keberlangsungan bahasa tidak cukup hanya dilihat dari data, tetapi dari seberapa sering bahasa tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh penuturnya.
Ia menyoroti perubahan yang terjadi di lingkungan keluarga, yang selama ini menjadi benteng utama pewarisan bahasa daerah. Kini, banyak orang tua tidak lagi menjadikan bahasa Bali sebagai bahasa pertama yang diajarkan kepada anak-anak. “Fungsi bahasa Bali sebagai bahasa ibu mulai memudar,” ungkap Suarmaja, Senin (9/3).
Kondisi tersebut semakin diperparah dengan terbatasnya ruang penggunaan bahasa Bali di lingkungan formal. Di sekolah, jam pelajaran bahasa daerah relatif sedikit sehingga tidak cukup membentuk kefasihan siswa. Akibatnya, dalam pergaulan sehari-hari muncul fenomena campur kode, di mana generasi muda sering mencampur bahasa Bali dengan bahasa lain karena kurang percaya diri atau terbatasnya penguasaan kosa kata.
Menghadapi tantangan tersebut, para penyuluh bahasa Bali mulai mengubah strategi pelestarian. Mereka kini aktif memanfaatkan media digital untuk menyosialisasikan pentingnya penggunaan bahasa Bali. Langkah ini diharapkan mampu menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan gawai dan media sosial.
Suarmaja juga menekankan pentingnya menghentikan praktik perundungan bahasa atau “bullying” terhadap orang yang masih belajar menggunakan bahasa dan aksara Bali. Ia mengajak masyarakat untuk saling mendukung dalam proses belajar. “Jika bahasa tidak digunakan, maka bahasa itu bisa mati. Jadi gunakanlah, dan jika ada kesalahan, mari diperbaiki bersama,” tegasnya.
Agar kembali diminati, bahasa Bali didorong untuk hadir sebagai bagian dari gaya hidup generasi muda. Menurut Suarmaja, bahasa Bali dapat dihidupkan melalui berbagai bentuk kreativitas seperti konten digital, kutipan di media sosial, hingga lirik lagu, selama tetap menjaga etika dan tidak merugikan orang lain. *
Editor : Putu Agus Adegrantika