BALIEXPRESS.ID - Petugas Satpol PP Badung telah menghentikan sementara operasional tempat hiburan malam di wilayah Desa Pererenan, Kecamatan Mengwi.
Penghentian ini dilakukan lantaran usaha tersebut belum mengantongi izin.
Bahkan dalam waktu dekat Satpol PP Badung juga akan memasang tanda larangan aktivitas di lokasi restoran, bar, dan klub malam tersebut.
Kasatpol PP Badung, I Gusti Agung Ketut Suryanegara mengatakan, penghentian sementara aktivitas dari tempat usaha itu setelah menjalani pemeriksaan oleh penyidik Satpol PP pada 11 Maret 2026.
Dari hasil pemeriksaan, perwakilan dari tempat usaha tidak dapat menunjukkan bukti perizinan resmi.
“Belum punya izin, yang ada cuma OSS saja. Tapi mereka sudah beroperasi, makanya langsung kami tindak tegas. OSS itu diisi secara online sebagai persyaratan izin. Itu cuma persyaratan saja,” ujar Suryanegara saat dikonfirmasi Kamis (12/3).
Pihaknya menyebutkan, akan memasang tanda larangan aktivitas di lokasi tempat hiburan malam tersebut.
Bahkan pemiliknya pun akan diberikan surat teguran pertama lantaran beroperasi tanpa izin.
Dirinya pun menyarankan kepada yang bersangkutan untuk melengkapi semua dokumen perizinannya.
“Kami sudah hentikan, besok baru akan pasang maklumat juga terkait dengan teguran satunya. Dari pengakuan, kegiatan sebelumnya itu hanya trial/ujicoba. Tapi itu tidak dibenarkan karena belum ada proses izin, maka dihentikan,” ungkapnya.
Selain mengurus izin, Suryanegara merekomendasikan, pemilik usaha untuk menurunkan papan reklame serta menutup akses parkir.
Terlebih keberadaan parkir di depan lokasi itu dikhawatirkan menimbulkan kemacetan.
Disinggung terkait sanksi, Suryanegara mengaku hanya penghentian sementara, sebab pemiliknya kooperatif dan siap untuk menutup secara sukarela.
“Pada intinya garis besarnya, semua aktivitas kegiatan operasional kami hentikan sementara,” tegasnya.
Terkait informasi pemanfaatan pekerja asing, dirinya mengaku, masih dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Namun dari narasi yang berkembang di media sosial menunjukkan adanya pekerja yang berasal dari Afrika.
"Waktu di lapangan sama tim terpadu, tidak menemukan tenaga asing. Penyidik juga sudah konfirmasi langsung dan juga saat di sidak ke lokasi. Semuanya tidak ditemukan," imbuhnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga