SINGARAJA, BALI EXPRESS - Dalam semangat memperingati Hari Pendidikan Nasional, Sekolah Adat Manik Empul di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, menghadirkan langkah konkret yang berakar kuat pada budaya lokal, revitalisasi Bahasa dan Sastra Lisan Pedawa. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga denyut bahasa ibu agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Bertempat di wantilan Desa Adat Pedawa, kegiatan ini berlangsung setiap akhir pekan sepanjang bulan Mei. Suasana belajar dikemas santai namun sarat makna, menghadirkan interaksi lintas generasi yang jarang ditemui dalam sistem pendidikan formal. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa duduk bersama, menyelami kembali kekayaan bahasa yang mulai tergerus zaman.
Koordinator kegiatan, Wayan Sadyana, menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk pengimbasan dari berbagai kegiatan revitalisasi yang selama ini dilakukan oleh Manik Empul, baik secara mandiri maupun melalui kolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi Bali.
“Bahasa Pedawa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga memuat nilai-nilai, cara pandang, dan identitas masyarakat. Kalau tidak diwariskan, kita akan kehilangan lebih dari sekadar kata-kata,” ujar Wayan Sadyana, Senin (4/5).
Beragam materi disuguhkan dalam kegiatan ini. Mulai dari mesatua atau tradisi bertutur cerita khas Pedawa, pembacaan puisi berbahasa Pedawa, banyolan atau lawakan tradisional yang sarat kritik sosial, hingga pidarta atau pidato menggunakan bahasa daerah. Setiap materi dirancang tidak hanya untuk melatih kemampuan berbahasa, tetapi juga menanamkan pemahaman akan konteks budaya yang melingkupinya.
Menariknya, kegiatan ini melibatkan para relawan serta tokoh adat setempat sebagai instruktur. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri, karena pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga sarat pengalaman hidup dan kearifan lokal yang otentik.
Peserta dibagi dalam tiga kelompok utama. Kelompok anak-anak mencakup siswa kelas IV hingga VI SD, kelompok remaja terdiri dari pelajar SMP dan SMA, sementara kelompok dewasa terbuka bagi mahasiswa dan masyarakat umum, terutama para prajuru desa dan pengurus dadia. Pembagian ini bertujuan agar metode pembelajaran dapat disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kebutuhan masing-masing kelompok.
Lebih dari sekadar belajar bahasa, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menggali kembali istilah-istilah khas Pedawa yang mulai jarang digunakan. Banyak di antaranya mengandung filosofi hidup yang dalam, namun perlahan menghilang karena tidak lagi dipahami generasi muda.
“Banyak istilah lama yang sebenarnya mengandung ajaran hidup, etika, bahkan sistem pengetahuan lokal. Ini yang ingin kita hidupkan kembali,” tambah Wayan Sadyana.
Fleksibilitas menjadi salah satu ciri kegiatan ini. Lokasi pembelajaran dapat berubah menyesuaikan kebutuhan, begitu pula waktu pelaksanaan yang disesuaikan dengan kondisi peserta dan instruktur. Hal ini dilakukan agar proses belajar tetap inklusif dan tidak membebani peserta. ***
Editor : Dian Suryantini