BALIEXPRESS.ID – Semangat menjaga kelestarian alam berpadu dengan nilai spiritual Hindu dalam kegiatan Aci Pertiwi yang digelar Aliansi Pemuda Hindu Bali (APHB) Kabupaten Gianyar berkolaborasi dengan Pemkab Gianyar, Organisasi Kepemudaan dan Kementerian Agama Kabupaten Gianyar di areal Pura Puseh Desa Puakan, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Minggu (24/5). Kegiatan ini menjadi rangkaian menyambut Hari Suci Tumpek Wariga melalui aksi nyata penanaman tanaman bunga, pohon kelapa, dan tanaman perindang.
Ratusan peserta dari berbagai unsur tampak antusias mengikuti kegiatan ekoteologi tersebut. Mulai dari pelajar SMP, SMA, dan SMK se-Kecamatan Tegallalang, organisasi kepemudaan, tokoh adat, hingga instansi pemerintah turut bergotong royong menanam pohon di lingkungan pura dan kawasan sekitarnya.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Asisten I Pemerintah Kabupaten Gianyar, I Ketut Mudana, yang mengapresiasi sinergi generasi muda Hindu dalam menghidupkan gerakan pelestarian lingkungan berbasis nilai agama.
Menurutnya, Tumpek Wariga bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum memperkuat kesadaran bersama untuk menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari kehidupan.
“Momentum Tumpek Wariga tidak hanya dimaknai sebagai ritual semata, tetapi juga menjadi pengingat untuk menjaga keseimbangan alam. Kegiatan Aci Pertiwi ini menjadi contoh kolaborasi yang baik antara pemerintah, tokoh agama, dunia pendidikan, dan generasi muda,” ujarnya.
Baca Juga: Tali Putus, Rupada Jatuh dari Pohon Enau Setinggi 12 Meter di Ubud Gianyar
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua PHDI Kabupaten Gianyar, Majelis Desa Adat (MDA), Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), serta unsur masyarakat dan organisasi kepemudaan di Kabupaten Gianyar. Termasuk Kementerian Agama Gianyar hadir dari Seksi Urusan Agama Hindu.
Ketua APHB Gianyar, I Wayan Degus Jaya, menjelaskan bahwa kegiatan Aci Pertiwi tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan spiritual masyarakat. Selain penanaman pohon, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pengobatan gratis bagi masyarakat.
Menurutnya, pemilihan Desa Puakan sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Desa ini memiliki nilai historis kuat dalam perjalanan spiritual Hindu di Bali, terutama berkaitan dengan perjalanan Rsi Markandya dalam penyebaran agama Hindu di Pulau Dewata.
“Puakan memiliki nilai sejarah karena berkaitan dengan Bali Tengah dan perjalanan Rsi Markandya. Desa ini juga layak menjadi percontohan karena masyarakatnya masih sangat lekat dengan adat, budaya menyama braya, dan menjaga kelestarian alam,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan STT, prajuru desa adat, serta elemen masyarakat menjadi bukti bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu organisasi. APHB ingin membangun kesadaran bersama bahwa yadnya dan kehidupan adat di Bali harus tetap berjalan selaras tanpa menjadi beban berat masyarakat.
“Bukan hanya APHB, semua pihak harus bergerak bersama. Tantangan kehidupan adat di Bali semakin berat, sehingga kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan harus terus dijaga,” ungkapnya.
Melalui Aci Pertiwi, APHB Gianyar berharap gerakan ekoteologi ini tidak berhenti sebagai seremoni semata, melainkan menjadi budaya bersama dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas Hindu di Bali.*
Editor : Putu Agus Adegrantika