BALIEXPRESS.ID - Suasana berbeda tampak di Graha Yowana Suci, Denpasar.
Bukan hiruk pikuk kendaraan bermotor yang mendominasi, melainkan pertemuan komunitas pesepeda, masyarakat sipil, hingga pemangku kepentingan yang membahas persoalan transportasi perkotaan dan masa depan mobilitas berkelanjutan.
Lewat diskusi bertema “Bali Bicara Sepeda dan Ragam Gerakan Sosial Dibaliknya”, Penerbit Partikular, WRI Indonesia, bersama Koalisi Bali Emisi Nol Bersih mengajak publik melihat ulang posisi sepeda dalam kehidupan kota.
Sepeda dinilai perlu dipandang bukan hanya sebagai sarana olahraga, gaya hidup, atau aktivitas wisata, tetapi juga sebagai pilihan transportasi yang terjangkau dan ramah lingkungan.
Baca Juga: Antusiasme Hari Pertama Lampaui Ekspektasi, Big Bad Wolf Bali 2026 Dibuka hingga 7 Juni
Musisi band Nostress, Man Angga, mengaku pengalaman bersepeda memberinya hubungan berbeda dengan ruang kota.
Menurutnya, bergerak lebih lambat melalui sepeda maupun berjalan kaki menghadirkan pengalaman yang tidak ditemukan saat mobilitas dilakukan secara cepat.
“Dengan menggunakan sepeda dan berjalan lebih pelan, saya merasa lebih melekat dengan kota tempat saya tinggal dan mencermati setiap sudut kota, yang tentu tidak kita peroleh dengan berjalan cepat," katanya, Senin (25/5).
Ia berpandangan, perubahan menuju kebiasaan bersepeda semestinya tumbuh dari pemahaman dan kesadaran, bukan semata mengikuti arus tren.
Upaya tersebut, kata dia, dapat dimulai melalui pengaruh kecil di lingkungan sekitar.
Persoalan lain yang masih menjadi hambatan diangkat oleh I Komang Doni Kurniawan dari komunitas Denpasar Bersepeda.
Sebagai pengguna sepeda untuk aktivitas kerja sehari-hari, Doni melihat adanya pola saling menunggu antara masyarakat dan pemerintah.
Warga enggan bersepeda karena minim fasilitas, sementara pemerintah belum agresif membangun karena pengguna dianggap belum banyak.
Baca Juga: Pemkab Jembrana Bagikan Hewan Qurban ke 69 Masjid, Anggaran Naik Jadi Rp246 Juta
“Sepeda ini masih dipandang sebagai rekreasi, media kumpul-kumpul, olahraga, dan lifestyle. Harapannya perlahan-lahan masyarakat dan pembuat kebijakan mulai sadar dan mulai melirik sepeda sebagai moda transportasi yang bisa menjangkau berbagai tempat, sekolah, dan bekerja," ujar Doni.
Sementara itu, GEDSI Analyst WRI Indonesia, Muti Kurniasari, menyoroti pentingnya pendekatan inklusif dalam pembangunan infrastruktur sepeda.
Menurutnya, jalur dan sistem transportasi harus dirancang agar aman bagi berbagai kelompok, mulai dari perempuan, anak-anak, hingga penyandang disabilitas.
Ia mencontohkan pengalaman kota-kota dunia yang menunjukkan bahwa perubahan besar tidak cukup hanya ditopang kemauan politik, tetapi juga memerlukan sistem yang konsisten dan berkelanjutan.
Baca Juga: Lapangan Rumput Alun-Alun Bangli Rusak dan Becek Usai HUT Kota
“Kita bisa belajar dari studi kasus di Amsterdam, gerakan perubahan yang besar bisa bekerja di awal namun gagal di operasionalnya apabila tidak memiliki sistem yang jelas. Transformasi ini tidak cukup hanya pada political will, namun perlu ada dukungan sistem yang memastikan hal ini berlanjut”, ujar Muti.
Pandangan serupa disampaikan peserta diskusi, Barda Gemilang.
Ia menilai penggunaan sepeda juga lekat dengan realitas kelompok masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada moda tersebut.
“Banyak juga kelompok marjinal yang sehari-hari menggunakan sepeda untuk ke pasar atau berjualan keliling. Jadi kita perlu memperlebar pandangan kita supaya tidak melihat sepeda ini sebagai kebutuhan sekunder semata dan memasukkan aspek humaniora," ujar Barda.
Aspirasi yang muncul dalam forum tersebut turut mendapat respons dari Pemerintah Kota Denpasar.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Denpasar, I Dewa Ketut Adi Pradnyana, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan masyarakat dalam mendorong isu mobilitas berkelanjutan.
Baca Juga: K3S Badung Study Tiru ke UPTD Pelayanan Sosial Griya Bina Karya Dinsos Jabar
Ia menyebut, isu terkait penggunaan sepeda akan dibawa ke pembahasan Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) agar mendapat dukungan lintas sektor.
“Dari kami akan membawa isu sepeda ini ke dalam pembahasan di Forum LLAJ untuk kita dukung bersama mobilitas berkelanjutan dan inklusif. Saya berharap setelah dari forum ini, akan ada diskusi-diskusi lebih lanjut yang melibatkan komunitas sepeda serta institusi yang lain dari level pemerintah kota, pemerintah provinsi dan nasional," kata Dewa.
Di penghujung diskusi, Man Angga kembali menegaskan bahwa perubahan sosial lahir dari ruang dialog dan keterhubungan antarindividu.
Menurutnya, sepeda tidak hanya menjadi alat mobilitas, tetapi juga medium yang dapat memperkuat solidaritas sosial.
Baca Juga: Bangkitkan Desa Wisata Terunyan, Pemkab Bangli Lakukan Penataan Menyeluruh
"Solidaritas itu membentuk diskusi, dan diskusi ini nanti akan menciptakan gerakan dan komitmen," tambah Man Angga Nostress.
Dorongan menghadirkan mobilitas berkelanjutan di Denpasar pun dinilai tidak cukup diwujudkan hanya lewat pembangunan jalur sepeda semata.
Upaya tersebut juga berkaitan dengan pemerataan akses ruang jalan, perlindungan pejalan kaki, serta penyediaan sistem transportasi yang mendukung penurunan emisi karbon di Bali.(***)
Editor : Rika Riyanti