SINGARAJA, BALI EXPRESS – Malam itu, suasana di Rumah Plastik Mandiri Singaraja tidak seperti biasanya. Tidak terdengar denting gitar, alunan piano, atau gebukan drum yang lazim mengiringi latihan musik. Yang terdengar justru bunyi-bunyi asing. Dentuman dari tong bekas, ketukan pada galon plastik, hingga suara nyaring dari kaleng dan benda-benda yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Di tangan delapan anak muda Buleleng, sampah berubah menjadi musik. Mereka tergabung dalam sebuah komunitas bernama Trashcussion, kelompok perkusi yang menjadikan barang-barang bekas sebagai instrumen pertunjukan. Anggotanya berasal dari beragam latar belakang, mulai dari siswa, mahasiswa, hingga pemuda yang sudah bekerja. Meski berbeda usia dan kesibukan, mereka dipersatukan oleh kecintaan pada musik dan kepedulian terhadap lingkungan.
Mayoritas anggota Trashcussion bukanlah orang asing di dunia perkusi. Sebagian besar pernah bergabung dengan berbagai marching band di Singaraja. Pengalaman itulah yang kemudian menjadi modal awal ketika mereka mencoba sesuatu yang baru, seperti menciptakan musik dari sampah.
“Dulu kami menggunakan alat musik sungguhan. Ini pertama kalinya kami mencoba menggunakan bahan dari sampah,” ujar Harry Sujayanta, pembina Trashcussion, saat dikonfirmasi, Rabu (9/6).
Keputusan itu bukan sekadar eksperimen musikal. Di balik setiap dentuman dan ritme yang mereka ciptakan, tersimpan pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat tentang cara memandang sampah secara berbeda.
Bagi sebagian orang, sampah hanyalah benda yang harus segera dibuang. Namun bagi anggota Trashcussion, tumpukan barang bekas justru menjadi sumber inspirasi. Sebelum latihan dimulai, mereka terlebih dahulu melakukan proses yang cukup unik. Berburu suara.
Mereka memilah berbagai jenis sampah berdasarkan karakter bunyi yang dihasilkan. Ada yang dipilih karena menghasilkan suara bass yang dalam, ada yang memberikan nada tengah atau middle, dan ada pula yang menghasilkan suara nyaring sebagai aksen dalam komposisi musik. Proses ini tidak semudah yang dibayangkan.
“Sampah yang digunakan cukup tricky. Kami memilih berdasarkan jenis bunyinya. Pemilihan alat pukul juga diperhatikan untuk menentukan sampah yang dipakai,” kata Harry.
Satu wadah plastik belum tentu menghasilkan suara yang sama dengan wadah plastik lainnya. Sebuah tong bekas mungkin mengeluarkan dentuman yang kuat hari ini, tetapi berubah ketika terkena panas atau hujan. Karena itu, pemilihan material menjadi salah satu tantangan terbesar.
Selain karakter bunyi, daya tahan barang bekas juga menjadi pertimbangan. Instrumen yang terlalu rapuh tidak akan mampu bertahan saat dipukul berulang kali dalam latihan maupun pertunjukan.
“Kestabilan suara yang dihasilkan menjadi tantangan tersendiri,” jelas Harry.
Meski demikian, justru di situlah letak daya tariknya. Setiap latihan selalu menghadirkan kemungkinan baru. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai bisa saja menghasilkan suara yang paling menarik.
Latihan Trashcussion biasanya berlangsung pada sore hari. Waktu itu dipilih karena para anggota baru selesai menjalani aktivitas masing-masing, baik sekolah, kuliah, maupun pekerjaan.
Tidak ada teknik khusus yang benar-benar berbeda dari permainan perkusi pada umumnya. Pengalaman para anggota di marching band justru memudahkan proses adaptasi.
“Karena sebagian besar pemain memiliki basic perkusi, kami lebih mudah membagi beberapa jenis beat,” kata Harry.
Setelah berbagai pola ritme tercipta, mereka mulai menyatukannya. Proses ini menyerupai menyusun puzzle. Setiap pemain membawa karakter bunyi berbeda dari instrumen sampah yang dimainkan. Semua harus dipadukan hingga menghasilkan komposisi yang enak didengar.
Kadang sebuah ritme terdengar menarik ketika dimainkan sendiri, tetapi justru tidak cocok saat digabungkan dengan instrumen lain. Di situlah kreativitas dan kesabaran diuji.
Mereka harus mencoba berkali-kali, mengubah tempo, mengganti alat, bahkan mencari sampah baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan musikal.
Untuk merakit sebagian instrumen yang digunakan, Trashcussion membutuhkan waktu sekitar satu hari. Namun tidak semua alat harus dirakit. Beberapa barang bekas dimainkan langsung tanpa modifikasi.
Di balik semangat bermusik, Trashcussion membawa misi yang jauh lebih besar. Bali saat ini menghadapi persoalan sampah yang tidak sederhana. Berbagai kawasan wisata, pantai, hingga permukiman masih bergulat dengan masalah pengelolaan sampah yang belum sepenuhnya tuntas.
Di tengah situasi tersebut, Trashcussion hadir dengan pendekatan yang berbeda. Mereka tidak memilih jalur kampanye yang penuh ceramah atau slogan. Mereka memilih musik.
Harry mengatakan bahwa sampah selama ini masih memiliki konotasi negatif di mata masyarakat. Padahal, menurutnya, sampah juga bisa dilihat dari sisi yang lebih positif.
“Bagi kami, sampah harus bisa dilihat dari sudut pandang positif,” ujarnya.
Melalui pertunjukan perkusi, mereka ingin menunjukkan bahwa barang yang dianggap tidak berguna masih memiliki nilai. Bahkan mampu menciptakan karya seni yang menghibur sekaligus menginspirasi.
Setiap kali tampil, penonton tidak hanya menikmati irama yang dimainkan. Mereka juga diajak berpikir ulang tentang benda-benda yang selama ini langsung dibuang begitu saja. Ada filosofi menarik yang selalu dibawa Trashcussion dalam setiap penampilannya.
Menurut Harry, persoalan sampah di Bali tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat juga tidak bisa hanya menjadi penonton. Diperlukan kerja sama yang harmonis. Filosofi itu tercermin dalam musik yang mereka mainkan.
Setiap instrumen menghasilkan suara berbeda. Ada yang keras, ada yang lembut. Ada yang berfungsi sebagai ritme utama, ada yang hanya menjadi aksen. Semua dimainkan dengan pola yang berbeda-beda.
Namun ketika dipadukan dengan baik, seluruh perbedaan itu menghasilkan satu komposisi yang indah.
“Seperti halnya alat musik, tiap alat menghasilkan suara berbeda, dipukul dengan ritme yang berbeda. Namun jika digabungkan dengan harmonis akan menghasilkan bunyi yang indah,” tutur Harry.
Baginya, konsep yang sama juga berlaku dalam penanganan sampah. Pemerintah, komunitas, dunia usaha, sekolah, dan masyarakat memiliki peran yang berbeda-beda. Jika semuanya berjalan sendiri-sendiri, hasilnya tidak akan maksimal. Tetapi jika bergerak bersama, persoalan yang tampak rumit bisa perlahan diselesaikan.
Saat ini Trashcussion baru beranggotakan delapan orang. Jumlah yang mungkin terlihat kecil untuk sebuah kelompok pertunjukan. Harry membuka peluang bagi siapa saja yang ingin bergabung. Semakin banyak anggota, semakin luas pula pesan tentang pemanfaatan sampah yang dapat disebarkan.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, komunitas ini menawarkan cara yang segar dan kreatif untuk terlibat. Tidak harus menjadi aktivis lingkungan, tidak harus menjadi musisi profesional. Cukup memiliki kemauan untuk melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda.
Ketika banyak orang melihat barang bekas sebagai akhir dari sebuah benda, Trashcussion justru melihatnya sebagai awal dari sebuah karya. ***
Editor : Dian Suryantini