BALIEXPRESS. ID– Upaya memperkuat pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Hindu terus dilakukan oleh para penyuluh agama. Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Ketut Wintenaya, melaksanakan penyuluhan tatap muka kepada kelompok binaan Pasraman Budi Pekerti di Desa Adat Tarukan, Desa Pejeng Kaja, Kecamatan Tampaksiring, Senin (22/6).
Kegiatan yang diikuti para siswa pasraman dan masyarakat setempat tersebut berlangsung dengan penuh antusias. Dalam penyuluhannya, Ketut Wintenaya menyampaikan materi mengenai pentingnya memahami dan mengamalkan ajaran Catur Guru sebagai landasan pembentukan karakter generasi muda Hindu.
Baca Juga: Nyepi Dresta di Desa Adat Subuk: Momentum Pengendalian Diri dan Penyucian Menjelang Pujawali
Menurutnya, Catur Guru terdiri dari Guru Swadyaya (Tuhan Yang Maha Esa), Guru Rupaka (orang tua), Guru Pengajian (guru atau pendidik), dan Guru Wisesa (pemerintah). Keempat guru tersebut memiliki peran penting dalam membimbing manusia menuju kehidupan yang baik dan berlandaskan dharma.
“Melalui pemahaman Catur Guru, anak-anak diharapkan mampu menumbuhkan sikap hormat, disiplin, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ini menjadi pondasi penting dalam membentuk generasi yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur,” ujar Ketut Wintenaya.
Selain membahas Catur Guru, penyuluhan juga mengangkat makna Tri Hita Karana, konsep kearifan lokal Bali yang mengajarkan tentang keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam.
Ketut Wintenaya menjelaskan bahwa Tri Hita Karana tidak hanya menjadi filosofi hidup masyarakat Bali, tetapi juga relevan diterapkan dalam kehidupan modern. Melalui konsep tersebut, umat Hindu diajak menjaga keseimbangan antara aspek spiritual, sosial, dan lingkungan.
“Jika ketiga hubungan ini dapat dijaga dengan baik, maka akan tercipta kehidupan yang harmonis, damai, dan sejahtera. Tri Hita Karana menjadi pedoman yang sangat penting untuk diterapkan sejak usia dini,” jelasnya.
Suasana penyuluhan berlangsung interaktif. Para peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait penerapan ajaran Catur Guru dan Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. *