BALIEXPRESS.ID – Rekonstruksi Legong Keraton Lasem gaya klasik Kelandis menjadi salah satu sajian yang menyita perhatian dalam Rekasadana (Pergelaran) Tari Legong pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, Kamis (25/6).
Penampilan Komunitas Seni Ni Pollok dari Banjar Kelandis, Desa Sumerta Kauh, Denpasar Timur, berhasil membawa kembali warisan tari yang pernah berkembang pada era 1930-an.
Sejak tabuh pembuka dimainkan, penonton yang memadati arena pertunjukan tampak bertahan hingga pementasan berakhir.
Seniman, budayawan, akademisi, hingga wisatawan menyaksikan kebangkitan salah satu gaya Legong klasik yang sempat lama tidak dipentaskan.
Baca Juga: Industri Hiburan Malam Bali Bertambah, Konsep Luxury Karaoke Mulai Dilirik
Garapan tersebut menghadirkan kembali Legong Keraton Lasem khas Kelandis yang dahulu dipopulerkan penari legendaris Ni Pollok.
Melalui proses rekonstruksi, komunitas ini berupaya menghidupkan kembali karakter tari, ekspresi, hingga penafsiran kisah Raden Panji dengan tetap berpegang pada pakem yang diyakini mendekati bentuk aslinya.
Kurator PKB sekaligus maestro seni, Prof. Dr. I Made Bandem, mengapresiasi upaya pelestarian yang dilakukan Komunitas Ni Pollok.
Menurutnya, proses rekonstruksi berhasil mengembalikan karakter estetika Legong Lasem Kelandis sebagaimana berkembang pada dekade 1930-an.
"Mereka berhasil merekonstruksi dan merevitalisasi Legong Klasik Lasem Kelandis. Gayanya sudah kembali pada gaya tahun 1930-an. Selamat kepada para penari maupun penabuh yang telah menghidupkan kembali warisan seni ini," ujarnya.
Keunikan Legong Lasem Kelandis terlihat pada bagian akhir pementasan.
Jika umumnya Legong Lasem ditutup dengan kemunculan tokoh Garuda atau struktur gedong, versi Kelandis justru menghadirkan sosok Rangda.
Berdasarkan hasil penelitian, tokoh tersebut memiliki makna teologis dan psikologis yang memperkuat keseluruhan alur cerita, bukan sekadar menjadi variasi dramatik.
Apresiasi juga datang dari maestro tari Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia.
Ia menilai kekhasan iringan musik menjadi salah satu kekuatan utama pertunjukan tersebut.
"Yang saya sukai adalah tabuh bernuansa janger yang menjadi ciri khas sekaa ini. Variasi seperti ini membuat PKB semakin kaya dan tidak monoton," katanya.
Penata tari, Ida Ayu Gede Sastrani Widiastuti, menjelaskan bahwa kemunculan Rangda dalam pertunjukan melambangkan puncak kekuatan magis sekaligus representasi kemarahan Raden Inukertapati yang diwujudkan melalui karakter tersebut.
Kehadirannya memperkuat nuansa mistis sekaligus menghadirkan taksu dalam keseluruhan sajian.
Selain merekonstruksi alur cerita, garapan ini juga menghidupkan kembali teknik tari khas Ni Pollok yang dikenal enerjik namun tetap lentur.
Ciri-ciri gerak seperti tubuh yang kuat, bahu yang luwes, langkah kaki ngumbang, sledet yang tegas tanpa berlebihan, hingga teknik nyregseg dan nguntang laras berhasil ditampilkan melalui proses riset serta penelusuran dokumentasi arsip.
Keberhasilan rekonstruksi tersebut tidak lepas dari peran Koordinator Komunitas Ni Pollok, Kadek Sandra Widari.
Ia pernah mendapat pelatihan langsung dari Ni Pollok semasa hidup, kemudian memperdalam pemahaman mengenai teknik tari melalui dokumentasi video dan penelitian sehingga karakter khas sang maestro dapat dihadirkan kembali di atas panggung.
Pementasan diawali dengan tabuh pembuka, dilanjutkan penampilan Barong dan tabuh karawitan, sebelum ditutup dengan rekonstruksi Legong Keraton Lasem khas Kelandis.
Baca Juga: Dua Dekade Perjuangan Rosidah Membesarkan UMKM Gula Merah dan Berkembang lewat KUR BRI Sumenep
Pertunjukan ini tidak hanya menjadi sajian hiburan dalam PKB XLVIII, tetapi juga menjadi upaya pelestarian warisan seni Bali agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi penerus tanpa kehilangan nilai dan roh tradisinya.(***)
Editor : Rika Riyanti