BALIEXPRESS. ID - Dalam dunia seni rupa, nama Prof. I Wayan Karja sudah lama dikenal sebagai pelukis, akademisi, dan pemikir seni yang konsisten mengangkat filosofi Bali ke panggung internasional. Namun, di tengah kesibukannya berkarya dan mengajar, Karja kini memikul amanah baru sebagai Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar. Baginya, jabatan itu bukan sekadar posisi organisasi, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat dan agama.
Karja mengaku tidak pernah secara khusus bercita-cita memimpin organisasi keagamaan. Panggilan tersebut datang dari masyarakat yang menilai pengalaman, pengetahuan, dan komitmennya dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan umat Hindu di Desa Sayan. Amanah itu pun diterimanya sebagai bagian dari dharma, sebuah tanggung jawab moral yang harus dijalankan dengan tulus.
Selama puluhan tahun, Karja dikenal sebagai sosok yang mengembangkan seni rupa berbasis kosmologi Bali. Karya-karyanya lahir dari pemahaman mendalam terhadap konsep pangider bhuwana dan mandala warna yang diterjemahkan ke dalam bahasa visual kontemporer. “Seni bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi juga media spiritual yang menghubungkan manusia dengan alam dan Sang Pencipta,” paparnya.
Perjalanan akademiknya turut memperkuat cara pandangnya tersebut. Berasal dari Penestanan, Ubud, ia menempuh pendidikan seni hingga meraih gelar Master of Fine Arts (MFA) di University of South Florida, Amerika Serikat. Ia juga mengikuti studi lanjut di Swiss sebelum menyelesaikan program doktor di Universitas Hindu Indonesia. Perpaduan pengalaman akademik internasional dan nilai-nilai lokal Bali membentuk karakter berkesenian yang khas.
Di lingkungan akademik, Karja dikenal sebagai pendidik sekaligus peneliti yang aktif mengembangkan seni rupa Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar, selain terlibat dalam berbagai penelitian, restorasi karya seni, hingga lokakarya di tingkat nasional maupun internasional. Pengabdiannya di bidang pendidikan melahirkan banyak seniman muda yang kini berkarya di berbagai daerah.
Baca Juga: RUU Administrasi Pertanahan Jadi Instrumen Strategis untuk Memperkuat Sistem Pertanahan Nasional
Kiprahnya juga mendapat pengakuan dunia. Karya-karya Karja telah dipamerkan di Jepang, Australia, Italia, Jerman, Swiss, Hong Kong, Hungaria, Polandia, hingga Amerika Serikat. Kota-kota seni seperti Hamburg dan Berlin pun menjadi bagian dari perjalanan pamerannya. Meski tampil di ruang-ruang seni dunia, identitas Bali tetap menjadi napas utama dalam setiap karya yang dihasilkannya.
Atas dedikasinya, Karja menerima sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Satya Lencana dari Presiden Republik Indonesia dan Nakasone Yasuhiro Award di Tokyo, Jepang. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa gagasan seni yang berangkat dari akar budaya lokal mampu diterima dan diapresiasi di tingkat global.
Kini, pengalaman panjang sebagai seniman dan akademisi menjadi bekal dalam memimpin PHDI Desa Sayan. Karja memandang organisasi keagamaan memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni kehidupan masyarakat, memperkuat nilai-nilai Hindu, sekaligus membangun dialog yang terbuka dengan berbagai elemen masyarakat. Pendekatan yang ia usung lebih menekankan edukasi, pelestarian tradisi, dan penguatan karakter generasi muda.
Bagi Karja, seni dan pengabdian kepada umat sesungguhnya tidak dapat dipisahkan. Keduanya sama-sama berangkat dari semangat menjaga keseimbangan, keindahan, dan keharmonisan hidup. Filosofi yang selama ini ia tuangkan di atas kanvas kini diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat melalui organisasi keagamaan.
Dari ruang studio hingga ruang pengabdian, perjalanan Prof. I Wayan Karja menunjukkan bahwa seorang seniman tidak hanya berkarya untuk menghasilkan lukisan, tetapi juga dapat berkontribusi membangun kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Amanah sebagai Ketua PHDI Desa Sayan menjadi babak baru yang melengkapi kiprahnya sebagai pelukis, pendidik, sekaligus pengabdi bagi budaya dan umat Hindu di Bali. *