BALIEXPRESS.ID – Hamparan sawah hijau di kawasan Subak Mandi Anyar, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Jumat (10/7), menjadi tempat yang tak biasa bagi Aiptu I Made Widastra menjalankan tugasnya. Di tengah para petani yang sibuk menggarap lahan, Bhabinkamtibmas Desa Singakerta itu menyusuri pematang sawah, menyapa satu per satu petani sembari membawa pesan penting: waspadai cuaca ekstrem yang belakangan kerap melanda Bali.
Di kalangan warga Singakerta, sosok Aiptu I Made Widastra lebih akrab disapa "Dastro Bergolo". Sapaan itu sudah melekat bertahun-tahun dan membuat jarak antara polisi dan masyarakat nyaris tak terasa. Saat datang ke banjar, sawah, hingga kegiatan adat, warga lebih sering memanggilnya "Pak Dastro" daripada menyebut nama lengkap maupun pangkatnya.
Karakter Dastro yang murah senyum, gemar melontarkan candaan, dan mudah bergaul membuatnya cepat diterima di berbagai kalangan. Tak sedikit warga yang mengaku lebih nyaman menyampaikan keluhan atau persoalan lingkungan kepadanya karena pendekatannya yang santai dan tidak menggurui.
Bagi Aiptu I Made Widastra, tugas seorang Bhabinkamtibmas bukan hanya hadir ketika terjadi persoalan keamanan. Lebih dari itu, ia juga berkewajiban mengingatkan masyarakat terhadap berbagai potensi risiko yang dapat mengancam keselamatan, termasuk perubahan cuaca yang sulit diprediksi pada musim pancaroba.
Di sela aktivitas para petani, Dastro mengingatkan agar mereka tidak memaksakan diri tetap bekerja ketika hujan deras disertai petir mulai turun. Menurutnya, keselamatan harus menjadi prioritas utama dibandingkan mengejar pekerjaan di sawah.
Baca Juga: Angkat Kisah Jero Luh, Duta Gong Kebyar Dewasa Badung Curi Perhatian di PKB XLVIII
"Kami mengimbau para petani agar segera mencari tempat yang aman ketika hujan deras atau petir terjadi. Jangan berteduh di lokasi yang berisiko karena cuaca saat ini cukup ekstrem dan bisa berubah sewaktu-waktu," pesannya.
Pendekatan yang dilakukan tidak sebatas memberikan imbauan. Obrolan ringan yang sesekali diselingi guyonan membuat suasana terasa cair. Di tengah percakapan, tawa para petani pun kerap pecah. Cara itu dinilai efektif membuat pesan-pesan keselamatan lebih mudah diterima sekaligus mempererat hubungan polisi dengan masyarakat.
Fenomena cuaca ekstrem memang menjadi perhatian berbagai pihak dalam beberapa waktu terakhir. Intensitas hujan yang tinggi, angin kencang, hingga sambaran petir berpotensi membahayakan masyarakat yang beraktivitas di ruang terbuka, termasuk para petani yang menghabiskan sebagian besar waktunya di persawahan.
Kapolsek Ubud Kompol I Wayan Putra Antara mengatakan, peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak Polri di desa tidak hanya terbatas pada menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Kehadiran mereka juga menjadi bentuk pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat melalui langkah-langkah pencegahan terhadap berbagai potensi gangguan.
Menurutnya, Bhabinkamtibmas harus mampu membangun kemitraan yang erat dengan masyarakat agar setiap persoalan, baik yang berkaitan dengan keamanan maupun keselamatan warga, dapat diantisipasi sedini mungkin.
"Kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah masyarakat merupakan wujud pelayanan Polri. Dengan menjalin komunikasi yang baik dan memberikan edukasi secara langsung, diharapkan situasi kamtibmas tetap aman, kondusif, serta berbagai potensi gangguan dapat dicegah sejak dini," ujar Kompol I Wayan Putra Antara. *
Editor : Putu Agus Adegrantika