Maestro Dongeng Bali I Made Taro Tutup Usia

Rika Riyanti • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 12:40 WIB
KENANG: Putra keempat almarhum, I Ketut Tarmadi
KENANG: Putra keempat almarhum, I Ketut Tarmadi

 

BALIEXPRESS.ID – Dunia sastra dan seni anak Indonesia berduka atas wafatnya maestro dongeng Bali sekaligus pendiri Sanggar Kukuruyuk, I Made Taro.

Tokoh yang dikenal konsisten melestarikan cerita rakyat dan permainan tradisional Bali itu meninggal dunia pada Kamis (23/7) sekitar pukul 01.30 Wita dalam usia 87 tahun.

I Made Taro mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif selama kurang lebih satu bulan di rumah sakit.

Kepergiannya bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional.

Putra keempat almarhum, I Ketut Tarmadi, mengungkapkan bahwa keluhan kesehatan pertama kali muncul sekitar sepekan sebelum Hari Raya Kuningan.

Baca Juga: "Selaras", Lagu Baru Anak-anak Ajak Orang Tua dan Anak Bertumbuh Bersama

Saat itu sang ayah mengeluhkan sakit pada bagian perut, meski sebelumnya masih beraktivitas seperti biasa.

"Bapak jarang sekali mengeluh. Tapi saat itu beliau mengeluh sakit perut. Waktu itu sempat saya urut pakai minyak adas karena hari sebelumnya BAB-nya lancar," tutur Ketut Tarmadi.

Karena rasa sakit tak kunjung mereda, keluarga kemudian membawa I Made Taro ke Rumah Sakit Bali Mandara pada malam harinya.

Hasil pemeriksaan rontgen dan CT scan menunjukkan adanya gangguan pada usus halus yang dipicu riwayat hernia yang telah lama diderita.

Setelah menjalani perawatan selama lima hari, kondisi pencernaannya sempat membaik.

Namun memasuki Umanis Kuningan, kesehatannya kembali menurun akibat demam tinggi. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan adanya infeksi pada paru-paru.

Sejak saat itu kondisi I Made Taro terus menurun hingga beberapa kali mengalami gagal napas dan harus mendapatkan penanganan di ruang perawatan intensif (ICU).

Tim medis juga melakukan tindakan trakeostomi untuk membantu proses pernapasannya.

"Terakhir Bapak bernapas memang dengan trakeostomi. Kami dari keluarga sempat diberikan pelatihan oleh pihak medis untuk perawatan mandiri karena saturasi oksigen Bapak ditargetkan di angka 88–92. Karena kami masih takut dan belum siap, kami minta waktu untuk mempersiapkan diri," kata Tarmadi.

Baca Juga: Pelatihan Ekspor dari BRI Peduli Buka Jalan UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Global

Meski sempat menunjukkan perkembangan positif setelah tindakan tersebut, kondisi sang maestro akhirnya kembali memburuk.

"Awal-awal seperti biasa, sudah membaik. Bapak sempat nonton TV di ruangan. Cuma komunikasi memang tidak bisa karena menggunakan alat bantu pernapasan. Kami berkomunikasi menggunakan bahasa koda, sampai saya pasangkan papan anak-anak agar Bapak bisa menunjuk apa yang diminta," kenangnya.

Selama hidupnya, I Made Taro dikenal sebagai pegiat budaya yang mendedikasikan diri untuk mengenalkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak melalui dongeng dan permainan tradisional.

Sebelum aktif mengembangkan dunia dongeng, ia juga telah menghasilkan berbagai karya sastra berupa cerpen dan puisi.

Perjalanan hidupnya dimulai dari kampung halamannya di Sengkidu, Manggis, Karangasem.

Sejak duduk di bangku SMP ia merantau ke Gianyar, sebelum akhirnya menetap di Denpasar.

Menurut Tarmadi, sosok ayahnya selalu membawa karakter seorang pendidik, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

"Bagi kami, terutama anak-anak dan cucunya, ini kehilangan yang sangat besar. Beliau sosok yang memberikan panutan dan bimbingan agar kami selalu menjadi orang baik. Karakter pembimbingnya sangat kuat, mungkin karena dulu beliau adalah seorang guru," ungkap Tarmadi.

Sebelum meninggal dunia, I Made Taro tinggal bersama Tarmadi di kawasan Sidakarya, Denpasar.

Sang istri telah lebih dahulu wafat pada 2022, sementara putra sulungnya, I Gede Tarmada, meninggal pada 2021.

Baca Juga: 644 Ribu Pekerja Terlindungi, Cakupan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Denpasar Tembus 50,24 Persen

Almarhum meninggalkan tiga orang anak, delapan cucu, serta warisan besar berupa karya sastra anak dan upaya pelestarian budaya Bali yang telah dijalankannya selama puluhan tahun.

Ke depan, aktivitas Sanggar Kukuruyuk akan diteruskan oleh cucunya, yang merupakan anak dari almarhum I Gede Tarmada.

Sesuai amanat almarhum dan keputusan keluarga, jenazah I Made Taro disemayamkan di Rumah Duka Dharma Yadnya, Denpasar.

Masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir dipersilakan melayat pada 24–25 Juli 2026.

Prosesi kremasi dijadwalkan berlangsung pada 26 Juli 2026 di Krematorium Punduk Dawa, Klungkung.(***)

Editor : Rika Riyanti
i made taro sanggar kukuruyuk bali dongeng