Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngetik Aksara Bali Secara Digital Diminati Siswa SMA

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 14 Februari 2023 | 03:43 WIB
AKSARA : Kriyaloka (Workshop)
AKSARA : Kriyaloka (Workshop)
DENPASAR, BALI EXPRESS -Menulis aksara Bali, kini tak menjadi kendala bagi generasi muda. Generasi muda pun kini bisa melakukan, bahkan menulis aksara dengan senang hati, tanpa beban. Hal itu terungkap saat acara Kriyaloka (Workshop) “Ngripta Font atau Ngetik Aksara Bali dengan Keyboard Aksara Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali ke-5 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Senin (13/2).

 

Tampil sebagai narasumber Cokorda Rai Adi Pramartha, Ph.D dan Wayan Yogik Aditya Urdhahana,SS.,M.Pd.H serta I Wayan Artha Diputra,S.Pd.B. sebagai moderator.

 

Generasi muda yang tengah asyik mengikuti workshop itu didominasi anak-anak setingkat SMA/SMK. Mereka duduk, seperti di bangku sekolah. Di depanmnya telah tersedia laptop lengkap dengan Keyboard Aksara Bali.

 

“Kami sangat bangga, melihat generasi muda yang sangat antusias mengikuti workshop mengetik aksara Bali ini. Aksara Bali yang umumnya dipikirkan hanya untuk orang tua, orang yang dianggap generasi tidak modern ternyata beda. Anak-anak muda juga senang menulis aksara Bali, walau itu dengan cara mengetik,” ucap Cok Rai usai memberikan workshop.

 

Cok Rai mengaku, setelah memperhatikan peserta workshop tadi, para peserta tampak tidak ada kesulitan di dalam menulis. Mereka kebanyakan memiliki pemahaman menulis aksara Bali, sehingga kini mereka hanya mengalihkan medianya saja. Sebelumnya menulis di atas daun lontar ataupun di atas kertas, sekarang mengetik di atas sistem digital.

 

“Jadi pemahamannya tidak berubah, tetapi cara atau medianya yang berbeda,” sebut pembuat Keyboard Aksara Bali ini.

 

Banyak yang bilang menulis Aksara Bali itu susah, tetapi kini menjadi mudah. Menulis dengan keyboard ini lebih mudah. Aksara itu dibuat pada satu titik. Aksara t, gantungan t itu ada di tombol yang sama.

 

“Kuncinya, mereka mengenal aksara (a na ca ra ka dan lainnya) secara baik, karena semuanya ada disana. Gantungan dan lainya ada pada satu tombol yang sama, tinggal sekarang kombinasi yang disesuaikan dengan warna yang ada di di sana,” ucapnya.

 

Dosen Informatika Fakultas Mipa Unud ini menjelaskan, anak-anak muda sangat nyaman menulis aksara Bali dengan keyboard karena tulisan itu nantinya bisa diedit. Kalau ada yang salah menulis bisa diperbaiki, bahkan bisa diperbaiki oleh temannya. Melalui teknologi ini, pembelajaran menulis aksara lebih baik dari pada menulis diatas kertas. Menulis aksara dengan tangan hasilnya juga tak terlalu bagus, dan susah mengkoreksinya.

 

“Sekarang, dengan menulis aksara Bali secara digital, maka itu bisa dituliskan di atas Facebook Wall, Facebook dan Instagram. Itu memang tujuan mereka sekarang,” ujarnya meyakinkan.

 

Kalau dulu menulis di atas kertas, begitu kertas habis anak-anak lalu menulis di tembok. Nah, sekarang mereka menulis di tembok Facebook, Instagram atau Facebook wall. Disitu menjadi kebanggaannya. Apalagi setelah menulis teman-temannya menanyakan, apa tulisan itu, apa artinya, bagaimana menulisnya. Maka penulis aksara Bali menjadi orang yang special. Terutama, ditanyakan oleh mereka yang bukan dari kalangan Bali, sehingga menjadi kebanggaan buat penulis aksara.

 

“Itu yang saya dapatkan dari kalangan anak muda setelah biasa mengetik aksara Bali,” paparnya.

 

Cok Rai menambahkan, setiap kali memperkenalkan Keyboard Aksara Bali, komentar anak-anak muda bilang keren. Itu yang seungguhnya dituju. Kalau sudah merasa keren, maka mereka mau melakukannya. Syukurnya pemerintah mendukung melakukan perubahan kurikulum.

 

“Perangkat sudah ada, anak-anak mau berubah, tetapi kurikulum tak berubah, ini yang tak ada gunanya. Sekarang ada kurikulum Aksara Bali dalam format digital. Ini artinya pemerintah tidak main-main. Gubernur tak hanya mengeuarkan SK terkait dengan penggunaan Aksara Bali, tetapi diikuti dengan kurikulum yang juga berubah,” sebutnya. Editor : I Dewa Gede Rastana
#siswa sma #diminati #ngetik aksara bali #Budaya Bali