BALIEXPRESS.ID – Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti persoalan kemacetan di Bali yang salah satunya disebabkan oleh tingginya mobilitas truk logistik dari Pelabuhan Gilimanuk.
Hal tersebut ia sampaikan dalam agenda penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Pemerintah Provinsi Bali dengan Pemerintah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan mengenai Trans Metro Dewata, Kamis (4/9).
“Salah satu sumber kemacetan kita di Bali adalah truk-truk logistik dari Gilimanuk masuk. Ini yang menjadi salah satu kemacetan beliau (Menteri PU) menyarankan seperti yang dilakukan di provinsi lain itu dibangunkan pelabuhan khusus roll on/roll off (roro) pengangkut truk logistik,” ungkap Koster.
Baca Juga: Kini Kuasai Apartemen The Umalas Signature, PT SUP Berkomitmen Penuhi Hak Investor
Koster menjelaskan, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengusulkan pembangunan pelabuhan khusus roll on/roll off (roro) untuk truk logistik di sisi utara, timur, dan selatan Bali.
Dengan begitu, arus kendaraan barang tidak hanya bergantung pada Pelabuhan Gilimanuk.
Ia menambahkan, konsep pelabuhan roro ini akan dibuat sederhana, berbeda dengan Pelabuhan Sanur yang lebih modern.
Baca Juga: Karangasem Berpotensi Terima BKK Rp 60 Miliar dari Badung, Gianyar, dan Denpasar
Fasilitasnya cukup berupa toilet serta tempat istirahat bagi para sopir truk.
“Menurut saya bagus ini idenya dan anggarannya gak banyak-banyak hitungan dari Menteri kalau pelabuhan truk untuk logistik beda dengan Pelabuhan Sanur yang mewah ini yang sederhana saja mungkin ada wc, tempat istirahat sederhana,” paparnya.
Menurut perhitungan, pembangunan satu pelabuhan roro membutuhkan anggaran sekitar Rp50 miliar dan dapat melibatkan kerja sama dengan pihak ketiga.
Baca Juga: Dua Truk Adu Moncong Malam Hari, Evakuasi Kinantaka Tewas Terjepit Kabin Dramatis
“Tapi anggarannya Rp50 miliar. Jadi kalau bikin tiga kan Rp150 miliar. Bisa kerjasama dengan pihak ketiga,” tutupnya.(***)
Editor : Rika Riyanti