SINGARAJA, BALI EXPRESS - Hujan turun tanpa jeda di perbukitan Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng. Sejak Jumat (6/3) malam hingga Sabtu (7/3) dini hari, air dari hulu mengalir deras, menyusuri lereng-lereng.
Air meluap dari aliran kecil yang selama ini akrab bagi warga. Dalam hitungan menit, halaman rumah berubah menjadi sungai. Beberapa warga berlarian keluar rumah. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, sementara suara hujan masih mengguyur.
Namun di tengah kegelisahan itu, ada satu hal yang kembali diingat oleh masyarakat Banjar. Kisah lama tentang sebuah pusaka yang diyakini pernah membantu desa mereka melewati masa-masa sulit.
Pusaka itu bernama Keris Ki Lebah Pangkung. Cerita tentang keris ini tidak dapat dipisahkan dari sosok Ida Pedanda Sakti Ngurah Lelandep, seorang brahmana yang hidup pada masa lampau di Griya Gede Banjar.
Ia adalah putra dari pendiri Desa Banjar, Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade. Sebagai seorang dwijati, tugas utamanya adalah memimpin berbagai upacara keagamaan. Namun dalam banyak kisah yang diwariskan secara turun-temurun, Ida Pedanda Sakti Ngurah Lelandep juga dikenal sebagai seorang yang menguasai ilmu spiritual tingkat tinggi—termasuk ilmu pembuatan senjata bertuah.
Ia mempelajari berbagai ajaran dari ayahnya, termasuk ajaran Pasupati Widhyastra, sebuah ilmu spiritual yang diyakini mampu memberikan kekuatan sakral pada senjata.
Penguasaannya terhadap ajaran tattwa membuatnya dikenal memiliki kasidhiyan—kemampuan spiritual yang tinggi.
Ida Bagus Wika Krisna dari Griya Gede Banjar, menjelaskan, dalam naskah kuno Babad Brahmana Kamenuh, diceritakan bagaimana tanda-tanda kasidhiyan itu muncul saat Ida Pedanda Sakti Ngurah Lelandep melakukan yoga samadhi.
Tubuhnya kadang terlihat memancarkan cahaya putih seperti permata. Kadang tampak gelap seperti batu hitam. Pada saat lain berubah kemerahan seperti permata merah yang berkilau. “Demikianlah keutamaan kesidhiyan beliau,” ujar Ida Bagus Wika Krisna yang akrab disapa Gus Wika, Sabtu (7/3).
Baca Juga: Paska Banjir Bandang, Pemkab Buleleng Bentuk Posko Terpadu dan Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak
Bagi masyarakat Bali masa lalu, tanda-tanda itu bukan sekadar kisah mistis. Itu adalah simbol kesatuan antara pengetahuan, rasa, dan kekuatan spiritual.
Salah satu kisah paling terkenal tentang Ida Pedanda Sakti Ngurah Lelandep terjadi ketika ia diminta memimpin upacara Pitra Yadnya di daerah Padang—yang diyakini merujuk pada kawasan pelabuhan Padangbai saat ini.
Perjalanan laut pada masa itu bukan perkara mudah. Kapal-kapal kayu mengarungi ombak tanpa navigasi modern. Namun kisah yang kemudian tercatat dalam babad terjadi pada tengah malam saat perjalanan itu.
Ketika semua penumpang tertidur, Ida Pedanda Sakti Ngurah Lelandep melakukan yoga samadhi. Di saat itulah sesuatu yang aneh terjadi. Besi-besi yang ada di kapal tiba-tiba bergetar.
Gus Wika pun menyebut, menurut kisah yang dituturkan turun-temurun, besi-besi itu seolah meminta agar dijadikan senjata. Sebuah permintaan yang hanya dapat dipahami oleh seorang yang memiliki kemampuan spiritual.
Ida Pedanda Sakti Ngurah Lelandep kemudian menandai besi-besi itu dengan pamor—tanda khusus pada logam yang kelak menjadi bagian dari senjata sakral.
Setelah menyelesaikan upacara di Padang dan kembali ke Banjar, beliau meminta besi yang telah ditandai itu kepada seorang paman subandar pelabuhan. Permintaan itu diberikan dengan penuh ketulusan. Peristiwa itu tercatat dalam Babad Brahmana Kamenuh 62a.
“Besi tersebut kemudian dibawa pulang ke pasraman di Banjar Ambengan. Di sanalah beliau menempa besi itu menjadi senjata,” tuturnya.
Dari besi-besi yang bergetar di kapal itu lahir beberapa senjata utama. Di antaranya, Keris Ki Lebah Pangkung, yang kini tersimpan di Griya Gede Banjar; Keris Ki Baru Kuping, yang disimpan di Griya Dauh Margi Banjar; dan sebuah tombak sakral, yang dipercaya disimpan oleh umat Hindu di Desa Sidatapa.
Dalam kisah babad, kekuatan senjata-senjata ini disebut memiliki keutamaan yang setara dengan karya ayah beliau yang tersimpan di wilayah Kayuputih.
Sejak saat itu nama Ida Pedanda Sakti Ngurah Lelandep semakin masyur. Banyak senjata sakral yang diyakini berasal dari tangannya tersebar di berbagai wilayah Buleleng.
Namun dari semua pusaka itu, Keris Ki Lebah Pangkung menjadi salah satu yang paling dikenal oleh masyarakat Banjar. Sejarah bahkan mencatat satu peristiwa besar yang melibatkan keris ini.
Gus Wika menuturkan, pada tahun 1818, dalam catatan Belanda disebutkan pernah terjadi Belabar Agung Buleleng, sebuah banjir besar yang melanda wilayah tersebut.
Air bah datang dari hulu pegunungan, membawa lumpur dan kayu yang menghancurkan pemukiman di sepanjang aliran sungai. Dalam situasi genting itu, Raja Buleleng kala itu memohon agar Keris Ki Lebah Pangkung diturunkan untuk membantu meredakan bencana.
“Yang mengiringi pusaka tersebut saat itu adalah Ida Pedanda Surya,” kata Gus Wika.
Pusaka itu dibawa ke pusat kerajaan sebagai bagian dari upaya spiritual untuk meredakan bencana yang diyakini tidak hanya bersifat alamiah, tetapi juga berkaitan dengan keseimbangan alam dan spiritual.
Bagi masyarakat Bali pada masa itu, bencana bukan sekadar peristiwa fisik. Namun, dianggap sebagai tanda bahwa hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan tak kasat mata sedang terganggu.
Dua abad telah berlalu sejak peristiwa itu. Namun ketika banjir bandang kembali menerjang Dusun Ambengan, Desa Banjar, pada Jumat (6/3) lalu, kisah lama itu kembali terngiang di ingatan masyarakat.
Air yang turun dari hulu membawa ketakutan yang sama seperti yang pernah dialami leluhur mereka. Sebagian warga datang ke griya. Mereka memohon agar Keris Ki Lebah Pangkung kembali diturunkan.
“Bukan sebagai alat melawan banjir, tetapi sebagai simbol doa, harapan, dan keyakinan bahwa alam dapat kembali seimbang,” tutupnya. ***
Editor : Dian Suryantini