Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sanggar Sunari Sesetan Ceritakan Kecantikan Seorang Gadis

I Putu Suyatra • Jumat, 14 Juli 2017 | 16:57 WIB
Photo
Photo


BALI EXPRESS, DENPASAR - Gelaran Bali Mandara Mahalango terus bergulir. Setelah Bondres, Wayang Kulit, kini giliran seni tabuh dan seni tari kreasi baru yang tampil.  Pementasan seni tabuh dan seni tari kreasi baru ini menampilkan kepiawaian anak-anak dari Sanggar Sunari,  Sesetan  Denpasar.


Dalam kesempatanya unjuk kebolehan, Sanggar Sunari, Sesetan Kota Denpasar menampilkan beberapa tarian yang dibawakan anak-anak dan remaja anggota sanggar Sunari, yang bertempat di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Art Center, Denpasar, Rabu malam (12/7).


Menurut Ketua Sanggar Sunari, Denpasar, Putu Wijana Mahendra ada delapan tabuh dan tarian garapan sanggarnya yang ditampilkan. “Yaitu tabuh pembukaan Gebyar Sambrama,  Tari Puspawresti, Tari Penedenging Sari, Tari Jauk Keras, Tari Tunjung Mekar, Tari Sundaram, Tari Ngolet dan sebuah Fragmentari Layonsari,” tutur Wijana.


Pada fragmentari Layonsari menceritakan kecantikan seorang gadis bernama Layonsari. Kecantikan Layonsari membuat raja tertarik dan ingin memperistri Layonsari. Bahkan raja mencoba memaksakan kehendaknya. Tindakan itu membuat Layonsari sangat kecewa. Demi harga diri dan kehormatannya, Layonsari rela mati. Layonsari lebih memilih kesetiaan pada cintanya terhadap seorang kekasih.


Pada pementasan di Kalangan Angsoka terebut, Sanggar Sunari mempersembahkan garapan tari yang mencerminkan keharmonisan dan keindahan alam seperti Tari Sundaram. Ada juga Tari Ngolet yang menggambarkan kegembiraan para gadis-gadis remaja. Selain itu, turut ditampilkan Tari Tunjung Mekar yang menyimbolkan kehidupan helaian daun bunga Tunjung yang sedang mekar.


Kepala Dinas Kebudyaan Provinsi Bali, Drs. Dewa Putu Beratha, M.Si. Beratha yang hadir menyaksikan sejak awal hingga akhir pertunjukkan sangat mengapresiasi pementasan Sanggar Sunari, Denpasar. “Kami dari Dinas Kebudayaan mengapresiasi dan menghargai penampilan Sanggar seni di Bali. Termasuk sanggar Sunari ini,” jelas Beratha.


Caranya, menurut Beratha dengan memberi kesempatan sanggar seni dan masyarakat Bali menampilkan karyanya kepada penonton melalui acara Bali Mandara Mahalango, yang pada tahun ini memasuki tahun ke-4.


Kurator sekaligus pengamat seni Bali Mandara Mahalango, Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA mangatakan bahwa penapilan Sanggar Sunari sudah bagus, khususnya untuk penari yang memang memiliki potensi. Hanya saja pemimpin sanggar perlu lebih selektif terhadap pementasan secara visual, sehingga memiliki tingkat ketertarikan yang maksimal. “Bibit-bibit penarinya bagus-bagus, hanya pemimpin sanggar perlu lebih selektif dalam menampilkan sebuah garapan secara visual lebih indah sehingga menarik penonton,” ujar Guru Besar ISI Denpasar ini.


Lebih lanjut Dibia menyerankan agar kedepannya untuk menjaga kualitas  pementasan Bali Mandara Mahalango, Dibia menyarankan perlu seleksi secara visual. “Jadi kami di kurator mendapatkan video visual garapan yang akan tampil. Sehingga kami dapat menilai secara utuh dalam menyeleksi para penampil di Bali Mandara Mahalango,” pesan Dibia. 

Editor : I Putu Suyatra
#jokowi #jakarta #tari bali