DENPASAR, BALI EXPRESS - Ketika memasuki jaba tengah Pura Kembar Madura, suasananya mungkin terlihat seperti pura-pura lainnya. Halaman pura ini hijau dengan berbagai bunga di sekelilingnya. Namun, pengalaman benar-benar berbeda saat Anda memasuki bagian dalam Pura ini. Pura adalah tempat suci agama Hindu.
Letak Pura Kembar Madura mungkin tidak terlalu terlihat dari Jalan Batur Sari, Sanur, Denpasar, Bali. Anda perlu masuk ke Gang III, meskipun ini hanya bisa dilakukan dengan sepeda motor.
Setelah sekitar 25 meter, Anda akan tiba di pemedalan pura. Di plang bercat merah, tertulis jelas "Pura Kembar Madura, Desa Pakraman Intaran."
Desa Pakraman Intaran sendiri terdiri dari 19 banjar dan mencakup dua wilayah, yaitu Desa Sanur Kauh dan Kelurahan Sanur. Pura Kembar Madura, atau yang dikenal dengan sebutan "Medura" oleh masyarakat Bali, terletak dalam wilayah Banjar Medura, Desa Sanur Kauh.
Salah satu daya tarik unik Pura Kembar Madura adalah sensasi bahwa pura ini terletak di tepi pantai. Lantainya terbuat dari pasir pantai dan palinggihnya terbuat dari batu karang putih.
Jro Mangku Segara menjelaskan bahwa batu karang selalu digunakan sebagai bahan palinggih pura.
Namun, pada tahun 2005, palinggih tersebut direnovasi, dan pada tahun 2007, upacara ngenteg linggih dan padudusan agung dilaksanakan.
Hal uniknya adalah palinggih-palinggih ini tidak dibuat seperti palinggih pura pada umumnya yang menggunakan batu biasa, beton, atau bata merah, melainkan batu karang yang dikumpulkan secara perlahan.
"Mengumpulkan batu karang tersebut memakan waktu sekitar satu tahun," ungkapnya. Inilah yang membuat palinggih-palinggih ini memiliki keunikan tersendiri.
Beberapa palinggih di Pura Kembar Madura termasuk Palinggih Gedong Betel di sisi timur, yang merupakan stana Ida Dalem Segara, dan Palinggih Parahyangan Kembar, yang berkaitan dengan Pura Lempuyang yang memiliki dua puncak.
Di selatan Parahyangan Kembar terdapat Palinggih Gedong Sang Hyang Shri Bhagawan, yang merupakan stana leluhur dari keturunan Arya Kuda Pinolih.
Selain itu, ada juga Palinggih Ngurah Alit di sebelah selatannya. Di sebelah barat Palinggih Gedong Betel, terdapat Palinggih Ida Ratu Manik Subandar, yang dipercayai memberikan kesejahteraan dalam bidang ekonomi kepada masyarakat pesisir.
Jro Mangku Segara juga menjelaskan tentang pantangan dalam penggunaan sarana ritual atau upakara di Pura Kembar Madura. Pantangan termasuk penggunaan daging babi, ikan kokak, dan ikan ucul.
“Keluarga tiang (saya) juga dihimbau untuk tidak mengonsumsi daging babi dan ikan tersebut,” katanya.
Namun, bagi umat yang ingin melakukan sembahyang di Pura Kembar Madura, Jro Mangku tidak memberlakukan pembatasan.
"Siapa pun dipersilakan datang," tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra