BALI EXPRESS, DENPASAR - Gelaran Bali Mandara Mahalango memberikan kesempatan berbagai jenis kesenian kontemporer untuk berkreasi. Pun demikian, kesenian klasik yang merupakan cikal bakal kebudayaan Bali tetap dipertahankan. Hal inilah yang ditunjukan Sanggar Tari Bali Dharma Santhi, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, yang menampilkan Joged klasik tiga zaman di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Art Center, Denpasar, Minggu (16/7) kemarin.
Koordinator Sanggar Tari Dharma Santhi Ni Komang Darma Weni yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di sela jalanya pementasan, menjelaskan bahwa alasan sanggar tari yang dipimpinya mengangkat tari joged bumbung tiga zaman, karena dari segi tarian dan gamelannya berbeda di masing-masing zaman.
Menurut Weni, konsep ‘tiga zaman’ ini menggambarkan perkembangan tari Joged di Bali sejak dulu. Perkembangan Joged Bumbung sebagai seni pertujukan bermula dari Buleleng bagian barat. Tepatnya di desa Loka Paksa, Seririt dan dari Desa Bilatua di Banjar Kawan Sebila. Ketika itu pakaiannya sederhana, apa adanya, spontanitas saja. Tabuhnya juga apa adanya, seperti tabuh Putri Ayu dan beberapa lagi lainnya. Kondisi yang demikian terjadi pada periode 1920 – 1960- an.
Namun, seiring dengan perkembangan gong kebyar, maka unsur-unsur Gong Kebyar memengaruhi tarian Joged Bumbung. Tari Joged Bumbung mulai ditata seperti tarian lepas pada Gong Kebyar. “Jadi, di awal ada gerakan tarian lepas dan ini terjadi pada periode 1960 – 1980- an,” jelasnya.
Lebih lanjut kata Weni. periode berikutnya pada 1980 - sekarang. Pada periode ini unsur tari Jaipongan dari luar Bali mulai memengaruhi tari Joged Bumbung. Entah darimana berawal, Weni juga bingung, kini banyak tari Joged Bumbung yang disusupi oleh pornografi dan pornoaksi. Weni mengakui hal itu, apalagi selama ini Joged dari Buleleng melekat dengan kesan pornografi dan pornoaksi. Ini terjadi pada periode zaman sekarang. Kondisi perkembangan Joged Bumbung ini mendorong Sanggar Tari Dharna Santhi mementaskan Joged Bumbung tiga zaman. “Maksud kami agar penonton dapat membedakan joged tahun ini seperti ini, dan tahun sekarang seperti itu. Sekaligus saya ngin menunjukkan tidak semua Joged Bumbung Buleleng itu porno. Contohnya joged kami,” jelas Weni,
Sementara itu, di panggung Madya Mandala, Taman Budaya Art Center, Denpasar, tampil juga Sanggar Seni Kebo Iwa asal Sempidi, Mengwi, Badung, yang menampilkan seni etnik inovatif bertajuk ‘Wit Urip Puput Urip’.
“Wit Urip berarti asal mula kehidupan kita sampai akhir kehidupan kita yang terdiri dari beberapa fase. Bila dihubungkan dengan tembang dapat dikelompokkan pada empat kelompok, yakni sekar rare, sekar alit, sekar madya, dan sekar ageng,“ kata Ketua Sanggar Kebo Iwa I Nyoman Mariyana, S.Sn yang diwawancarai sebelum pemetasan.
Lebih lanjut kata Mariyana, pentas ini merupakan sajian seni karawitan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia. Perjalanan hidup mulai dari anak-anak hingga mati. Pementasan tembang-tembang itu dikemas dengan bentuk dolanan anak-anak untuk sekar rare. Sementara sekar alit dan sekar madya mewakili usia remaja dan sekar ageng mewikili orang dewasa. “Jadi pementasan ini merupakan pementasan tiga generasi,” kata Mariyana.
Editor : I Putu Suyatra