Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Orang Usia Lanjut Wajib Matatah, Jika Diabaikan Bisa Jadi Bhuta Cuil

I Putu Suyatra • Minggu, 23 Juli 2017 | 00:52 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Matatah merupakan prosesi yang sakral. Salah sedikit, bukan tidak mungkin orang yang ditatah atau sangging (orang yang menggerus gigi)-nya tertimpa bahaya. Bahayanya pun tidak tanggung-tanggung, ada yang giginya rontok, sakit, bahkan meninggal.


Jika ada orang yang meminta menunjukkan gigi usai matatah, ditegaskan untuk menolak karena bisa membuat gigi rontok pula. Setidaknya, demikianlah kepercayaan masyarakat yang berkembang. Pini Sepuh Siwa Murti Bali mengakui, matatah memang banyak sisi mistinya. Namun demikian pihaknya senantiasa menyiapkan diri secara sekala niskala. “Makanya, sebelum memasuki proses matatah, diawali dengan membersihkan dan menyucikan peserta. Dengan anugerah Tuhan, segala godaan mistik akan bisa teratasi,” yakinnya.


Penulis Buku Mengungkap Tabir Leak tersebut mengatakan, bahasa tenget atau angker bagi matatah sebenarnya tidak perlu. Ia menekankan bahwa kalau prosesi dilaksanakan dengan baik dan benar, maka semua akan berjalan lancar. “Perlu persiapan dan proses yang benar. Selain itu, dengan memahami makna ngekeb serta matatah tersebut, saya yakin semua akan berjalan lancar,” jelasnya.


Secara niskala, saat ngekeb dipercaya orang-orang yang memiliki ilmu hitam akan mengincar orang-orang yang sedang mengikuti prosesi ngekeb. Oleh karena itu, biasanya yang bersangkutan tidak diizinkan keluar pekarangan. Bahkan, biasanya ia ditempatkan di kamar dan dilayani dengan diambilkan segala keperluannya, seperti makan. Oleh Jro Mangku, secara logika tujuan ngekeb adalah menjaga keselamatan orang yang akan ditatah. “Jangan keluar, makan yang sehat. Jangan yang pedas, panas atau dingin. Sudah saya kasi tahu sebelumnya. Jangan sampai saat matatah sakit. Kan rugi jadinya,” jelasnya.


Bagi masyarakat yang baru bisa matatah setelah usianya lanjut dan tidak lagi memiliki gigi, Jro Mangku mengatakan cukup dengan simbolis saja. “Cukup disentuh-sentuhkan (kikir) saja pada gusi yang bersangkutan. Meskipun yanag bersangkutan tidak lagi memiliki gigi, namun proses natah tetap bisa dilaksanakan oleh orang yang jnananya sudah tinggi,” terangnya. Demikian pula bagi orang yang tidak sempat metatah dan terlanjur meninggal, matatah tetap dilaksanakan secara simbolis pada jenazahnya sebelum dikubur atau dibakar. “Namun sebaiknya tetap semasih hidup,” ujarnya.


Saat ditanya konsekuensi orang yang tidak matatah, Jro Mangku Subagia mengatakan bahwa dipercaya setelah meninggal yang bersangkutan akan menjadi bhuta cuil (setan dekil) karena sifat keraksasaannya masih melekat. Bhuta cuil ini dikatakan bisa mengganggu ketenteraman keluarga karena roh orang yang meninggal tersebut akan bergentayangan, diakibatkan tidak mendapat jalan pembebasan. “Namun itu kebenarannya kita tidak tahu, karena saya juga belum pernah ke alam sana,” kelakarnya. 

Editor : I Putu Suyatra