BALI EXPRESS, DENPASAR - Dalam keseharian umat Hindu tidak terlepas dari yadnya. Sebut saja ritual ngaturang canang, yang sudah menjadi aktivitas wajib dilaksanakan setiap hari. Namun di balik semua itu, ada unsur ritual (bebantenan) yang punya makna penting, yakni porosan.
Menghaturkan canang, salah satu bentuk yadnya yang mengunakan sarana berupa bunga dan daun, sepeti yang tertuang dalam Kitab Bhagawadgita IX.26 yang berbunyi: Patram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayachati, tad aham bhaktyupahritam asnami prayatatmanah. Secara harfiah dapat diartikan bahwa siapa pun yang sujud kepada-Ku dengan persembahan setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, atau seteguk air, Aku terima sebagai bhakti dari orang yang berhati suci. Dari hal yang sederhana itu, umat Hindu mewujudkannya dalam banten yang sangat sederhana pula, dalam bentuk canang. Namun, dalam canang itu ada juga Porosan yang wajib diisi.
Menurut Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, Porosan dalam aktivitas ritual umat Hindu di Bali menjadi item yang sangat penting. Bahkan, lanjutnya, bisa dikatakan sebuah canang tidak bisa disebut dengan canang, jika tidak menggunakan porosan.
“Porosan ini sangat penting, karena melambangkan kebesaran Tuhan, sehingga canang tanpa Porosan bukanlah sarana ritual,” jelasnya, baru-baru ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group). Lantas apa makna dari Porosan ini? Dijelaskan Ida Rsi, makna dari Porosan ini sebagai lambang dari Tri Murti yang dilambangkan dengan tiga unsur dari Porosan itu, terdiri dari daun sirih yang berwarna hijau, melambangkan Dewa Wisnu dengan lambang aksara Suci Ungkara (Ung). Selanjutnya adalah buah sirih yang disisir sedemikian rupa, ini mewakili warna merah, simbul dari Dewa Brahma dengan aksara sucinya adalah Angkara (Ang). Dan, yang terakhir adalah kapur sirih yang berwarna putih, yang merupakan simbul dari Dewa Iswara (Siwa) dengan aksara sucinya adalah Mangkara (Mang).
Ketiga unsur tersebut digabungkan menjadi satu dengan cara dijalin dan dijepit dengan menggunakan daun dan busung. Selanjutnya disemat sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Ketiga unsur yang telah bersatu ini, akan membentuk satu aksara suci yakni OM. “Bila ketiga huruf ini, yakni A,U dan M, jika digabungkan akan menjadi AUM yang kemudian menjadi OM, karena A dan U dalam tata bahasa Bali jika bergabung akan dibaca OM. OM inilah yang menjadi simbul dari Tuhan,” papar Ida Rsi.
Sebuah Porosan dalam canang ataupun sampian lainnya, menjadi simbul atau lambang dari Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, sebagai simbol Tri Murti (Sirih yang di dalamnya dilengkapi dengan kapur dan pinang). Selain sebagai lambang dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Ida Rsi juga mengungkapkan, porosan yang terdiri dari tiga unsur itu, juga melambangkan Tri Premana, yaitu Bayu (pikiran), Sabda (perkataan), dan Idep (perbuatan). “Ketiga unsur ini membuat tubuh yang bernyawa dapat melakukan aktivitas. Begitu juga Porosan menjadi nyawa atau jiwa bagi setiap persembahan,” paparnya.
Dijelaskan Ida Rsi, porosan yang digunakan dalam tandingan canang sari atau pun sampian lainnya, ditempatkan di bagian dalam canang atau pun sampian. Diletakkannya porosan di dalam sampian atau canang sari ini, tidak terlepas dari makna Porosan itu sendiri yang merupakan inti atau pusat spiritual dari persembahan yang akan dihaturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “ Porosan akan memberikan jiwa untuk setiap unsur dari sampian ataupun canang yang akan dihaturkan, mulai dari bunga sebagai lambang keindahan hingga pada busung (janur) dan daun sebagai lambang keteguhan hati,” paparnya.
Editor : I Putu Suyatra