BALI EXPRESS, DENPASAR - Selain porosan biasa, juga dikenal jenis lainnya, yang dinamakan Porosan Silih Asih. Pada intinya, Porosan Silih Asih dibuat dari bahan yang sama dengan porosan biasa. Namun, ada beberapa perbedaan pada proses pembuatannya.
Praktisi upakara yang juga Ketua Yayasan Dharma Acarya, Ida Bagus Sudarsana, menyebutkan Porosan Silih Asih ini jika dilihat dari bahan baku yang digunakan, hampir sama dengan bahan baku yang digunakan untuk membuat porosan biasa. “Yang membedakan adalah, porosan Silih Asih dibuat dengan daun sirih utuh, sedangkan Porosan biasa menggunakan daun sirih yang dipotong kecil-kecil,” jelasnya.
Porosan Silih Asih ini, dibuat dari dua lembar daun sirih yang digabung berhadap hadapan, di tengahnya berisi kapur sirih dan buah pinang. Porosan Silih Asih merupakan simbol dari kedekatan umat dengan para dewa yang tidak lain sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ketiga unsur dari Porosan Silih Asih ini, memiliki makna yang sama, yakni sebagai lambang dari Tri Murti yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi. “Namun, Porosan Silih Asih ini juga melambangkan kasih sayang manusia terhadap Sang Penciptanya, yakni Ida Sang Hyang Widi Wasa. Selain itu, Porosan Silih Asih ini juga memiliki unsur untuk melengkapi keindahan suatu persembahan,” paparnya.
Jika Porosan biasa digunakan dalam sarana upakara seperti canang sari dan sampian lainnya, berbeda dengan Porosan Silih Asih. Porosan Silih Asih, lanjut Sudarsana, digunakan pada tandingan kwangen. “ Kwangen sebagai sebuah persembahan, selain melambangkan kehindahan, juga melambangkan kasih sayang umat manusia kepada Sang Penciptanya,” ungkapnya.
Editor : I Putu Suyatra