BALI EXPRESS, DENPASAR - Layang-layang sudah menjadi tradisi di Bali. Bahkan, beberapa tahun belakangan, banyak festival layangan bermunculan di Bali. Bermain Layang-layang atau dengan istilah Bali disebut dengan melayangan bermula dari sebuah permainan masyarakat yang sangat sederhana. Tradisi Melayangan telah terjadi secara turun temurun yang diwariskan oleh masyarakat Bali.
Budayawan Kota Denpasar, Gede Anom Ranuara yang turut menjadi narasumber dalam seminar layang-layang beberapa waktu lalu ini mengatakan, selama ini di Indonesia memang tidak ada referensi tentang layang-layang. Menurutnya, karena sejak dulu budaya Indonesia bukan budaya menulis, tapi bercerita.
Di Jawa dan Bali misalnya, menerbangkan layangan merupakan wujud ucapan terima kasih pada Sang Pencipta. "Makanya ada istilah Lare Angon di Jawa dan Rare Angon (penggembala) di Bali, merekalah yang menerbangkan layangan di ladang," jelas Anom Ranuara ketika dijumpai Bali Express (Jawa Pos Group) Senin (21/8).
Lebih lanjut dikatakan Anom Ranuara, memudarnya tradisi ini di Jawa karena terlalu banyak budaya luar yang masuk ke tanah jawa setelah kerajaan Majapahit runtuh.
"Di Jawa karena juga sudah masuk kebudayaan lain maka tradisi itu luntur dan tidak ada regenerasi. Sementara di Bali, tradisinya masih lestari hingga sekarang karena agama Hindu yang merupakan agama kerajaan dulu, sehingga tradisinya masih berjaya,” kata pria asal Kesiman, Denpasar, ini.
Menurut Anom, layang-layang dan juga tradisi melayangan sangat erat kaitannya dengan cerita Rare Angon. Dipercaya bahwa Dewa Siwa dalam manivestasinya sebagai Rare Angon yang merupakan Dewa Layang-layang. Pada musim layangan atau setelah panen di sawah Rare Angon turun ke Bumi diiringi dengen tiupan seruling bertanda untuk memanggil sang angin. Rare Angon sendiri dapat diartikan anak gembala, setelah musim panen para petani terutama anak gembala mempunyai waktu senggang yang mereka gunakan untuk senang-senang. Sambil menjaga ternak yang sedang mencari makan salah satu permainan yang sering mereka lakukan adalah bermain layang-layang.
Kedatangan Rare Angon sangat diyakini para petani dapat menghindarkan sawah dari serangan hama saat musim tanam berikutnya. Untuk itulah biasanya para pemilik lahan memberikan lahannya untuk bermain layang-layang. Kebiasaan tersebut masuk dalam siklus pertanian di Bali. Namun, karena kini kondisi persawahan di Bali mulai terkikis, maka sangat jarang ada lokasi melayangan di sawah, khususnya Kota Denpasar.
Selain itu, layangan juga menjadi simbol Dewa Rare Angon di Bali. Perwujudan tersebut dapat dilihat saat pelaksanaan Karya Ngenteg Linggih, dimana di dalamnya terdapat Upacara Ngelinggihang Rare Angon. Di sanalah turut distanakan Pindekan, Layang-layang, Topi Capil, Pecut dan lainnya sebagai simbol Rare Angon.
Bagi Masyarakat Bali layang-layang mempunyai nilai kesungguhan yang menonjol dan bukan sebagai benda kosong tanpa nilai, Masyarakat Bali percaya bahwa Layang-layang mempunyai badan, Tulang dan Roh yang dikenal dengan sebutan rancang bangun. “Salah satu event yang diadakan rutin setiap tahun dan sangat antusias diikiuti oleh masyarakat Bali adalah Festival Layang-layang yang semakin tahun jumlahnya semakin bertambah,” terang Anom.
Lebih lanjut diceritakan, festival layang-layang Bali pertama kali dilakukan pada tahun 1979 bertempat di Subak Tanjung Bungkak Denpasar. Setelah hampir seperempat abad, festival Layang-layang masih mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Bahkan saat ini para pecinta layang-layang semakin bertambah jumlahnya. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya event lomba layang-layang yang ada, khususnya di Bali.
Saat ini melayangan masih sering dilaksanakan oleh masyarakat Bali. Baik anak-anak sampai orang dewasa. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya diadakan kompetisi layangan dan “sekas”, grup layangan di Bali.
Bentuk layang-layang Tradisional dari dulu tidak berubah. Hanya teknik pembuatanya yang berkembang. Itu karena masyarakat bali menghormati apa yang telah diberikan oleh leluhur secara turun-temurun. Layang Be-bean, Pecukan dan janggan merupakan tiga jenis Layang-layang Tradisiolan Bali yang sudah sangat dikenal.
Anom menjelaskan, terdapat beberapa layangan tradisional yang dikenal masyarakat Bali yakni layangna bebean, berasal dari kata Be yang berarti ikan. Layang-layang Be-bean berarti layangan berbentuk seekor ikan. Dimana bentuknya bagaikan ikan yang berenang dan menari-nari dalam air dan juga memiliki suara guangan yang indah, hidup ikan selalu tergantung pada air, sinar, tanah, udara dan angkasa yang semuanya itu merupakan unsur Maha di beberapa daerah di Bali layangna ini disebut layangna kepes. Bahkan di Desa Mengwi, Badung, layangan ini disebut layangna Potongan Badung dan Di wilayah Sanur juga memiliki bebean khas daerah Sanur yang memiliki sedikit perbedaan dari be-bean daerah lain.
Selanjutnya dikenal layangna pecuk. Layangan ini sangat simpel. Nama Pecuk diambil karena layang-layang ini mempunyai 4 sudut dan bentuknya menekuk yang dalam bahasa Bali adalah pecuk. Layangan ini sangat lincah di udara dan bisa menyambar nyambar, jadi dibutuhkan keahlian khusus untuk menerbangkannya. pecukan ini dapat dibandingkan dengan Ulu Chandra yaitu Windu yang merupakan Wijaksana simbol Hyang Widhi Wasa. Dalam festival layang-layang ini dinilai berdasarkan keahlian orang yang menerbangkannya dan ketahanan layangan ini berada di udara.
Dan yang terakhir adalah layangan janggan. Janggan merupakan layangan sakral salah satu layangan yang dipercaya sebagai naga sang penjaga kestabilan dunia. Menurut mitos, bumi ditopang oleh seekor kura-kura raksasa bernama Bedawang Nala. Dan bumi tersebut dikelilingi oleh tubuhseekor naga bernama naga besuki. Naga itulah yang diabadikan menjadi layangan janggan. “Janggan terlihat menarik dengan hiasan ekornya yang bisa mencapai ratusan meter,” tutur Anom Ranuara yang juga Sinam Pedalangan ini.
Sementara, Nyoman Supatra yang merupakan tokoh masyarakat Banjar Yangbatu Kangin mengatakan bahwa layangan Janggan adalah layang-layang adat Bali yang sakral. Sebelum dan sesudah diterbangkan, layangan ini harus disucikan terlebih dahulu. Seperti halnya Layang Janggan krama Banjar Yangbatu Kangin yang merupakan wahana dari Ida Bhtara Ratu Ayu Mas Anglayang sebagai perwujudan Ida Bhatara Siwa yang mengayomi dan memberikan kehidupan kepada seluruh masyarakat.
Editor : I Putu Suyatra