Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bunga Ratna; Berawal dari Siasat Dewa Hentikan Tapa Dua Raksasa

I Putu Suyatra • Jumat, 25 Agustus 2017 | 16:00 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bunga merupakan salah satu bagian tumbuhan yang pada umumnya indah dan harum. Karena itu, manusia secara umum menyukai bunga sebagai hiasan, ungkapan kasih sayang, terima kasih, penyemangat, dan sebagainya. Apalagi dalam seremonial, bunga menjadi bagian yang penting dalam dekorasi.


Bagi umat Hindu, bunga juga dijadikan sarana persembahan atau upakara. Di dalam canang, khususnya, bunga merupakan bagian penting. Bahkan ada sejumlah bunga yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan untuk dijadikan sarana upakara. Pun dalam penempatannya diatur sesuai dengan warna dewa-dewa tertentu.


I Nyoman Miarta Putra, S.Ag., M.Ag dalam bukunya yang berjudul Mitos-mitos Tanaman Upakara menyatakan, kata ‘bunga’ sering digunakan sebagai kata untuk memanifestasikan sebuah keagungan, keindahan, ketulusikhlasan, dan kesucian. Selain sebagai kata untuk mewakili objek bunga itu sendiri, bunga sering juga bermakna konotasi atau kiasan, misalnya ‘Bunga Bangsa’. Istilah bunga bangsa diberikan kepada seseorang yang mengharumkan nama bangsa, serta telah berkorban untuk kepentingan nusa dan bangsa, seperti para pahlawan yang gugur di medan perang.


Salah satu bunga yang dijadikan sarana upakara adalah bunga ratna. Bunga yang umumnya berbentuk bulat dan berwarna ungu ini dipersembahkan oleh umat Hindu di Bali saat hari suci. Tak seperti bunga lainnya yang dirangkai dalam persembahan, bunga ratna beserta tangkai dan daunnya biasanya diletakkan begitu saja di bawah canang yang dihaturkan.


Ternyata bunga ratna memiliki mitologi di balik penggunaannya. Dalam kitab Adi Parwa diceritakan, bunga ratna merupakan asal muasal bidadari yang cantik bernama Nilotama. Nilotama diciptakan oleh Dewa Wiswakarma guna menggoda dua raksasa yang bertapa demi tujuan tidak baik, yakni menguasai kahyangan. Dua raksasa kembar tersebut bernama Sunda dan Upasunda.


Diceritakan Sunda dan Upasunda bertapa dengan sangat tekun. Saking kuatnya tapa mereka, para dewa pun khawatir jika tujuannya menguasai kahyangan terwujud. Jika hal itu terwujud, maka para dewa akan terancam. Dimintalah petunjuk kepada Dewa Brahma untuk mengatasi problem tersebut. Oleh Dewa Brahma kemudian Dewa Wiswakarma menciptakan bidadari cantik untuk menggoyahkan tapa Sunda dan Upasunda.


Singkat cerita, Dewa Wiskarma yang ahli menciptakan sesuatu menciptakan bidadari yang sangat cantik dengan bunga ratna dan biji wijen. Dari hasil karyanya, terciptalah dewi yang berparas ayu dan mampu menaklukkan siapa pun yang memandangnya.


Bahkan konon Dewa Brahma yang kagum menciptakan empat kepala agar bisa melihat sang bidadari di arah manapun. Demikian pula Dewa Indra tak mau kalah. Ia menciptakan mata lainnya sehingga berjumlah seribu hanya untuk memandangi kecantikan sang bidadari.


Sesuai tujuan penciptaannya, bidadari Nilotama kemudian diutus untuk menggoyahkan tapa Sunda dan Upasunda. Dengan kecantikannya, raksasa Sunda pun tertarik. Raksasa Sunda mulai meninggalkan tapanya demi mengejar cinta sang bidadari. Hal yang sama juga dilakukan Nilotama kepada Upasunda. Alhasil Upasunda juga jatuh hati pada sang bidadari. Ia pun melupakan tapanya dan mulai mengejar sang bidadari.


Kemudian, antara Sunda dan Upasunda pun terjadi perselisihan. Karena memperebutkan bidadari Nilotama, mereka pun bertempur. Keduanya mengeluarkan seluruh daya upaya untuk saling menjatuhkan. Karena kekuatannya setara, keduanya kemudian tewas.


Keberhasilan bidadari Nilotama kemudian mendapat penghargaan dari para dewa. Setiap masyarakat yang menghaturkan persembahan, diarahkan untuk menggunakan bunga ratna di samping bunga lainnya. Selain lambang keindahan, bunga ratna juga dipercaya bisa memancarkan energi gaib untuk melindungi umat. Dengan demikian, selain sebagai persembahan, bunga ratna juga dijadikan sarana penolak bala atau penangkal kekuatan jahat.


Direktur Pascasarjana IHDN Denpasar, Dr. Drs. Ketut Sumadi, M.Par belum lama ini tak menampik mitologi tersebut berpengaruh besar terhadap umat Hindu di Bali. Oleh karena itu, umat percaya bunga ratna merupakan salah satu sarana yang disematkan dalam persembahan. “Sesuai mitologi, dari bunga ratna tercipta bidadari Nilotama yang mengalahkan raksasa jahat dengan kecerdasannya,” ujarnya.


Namun demikian, lebih luas, bunga menurutnya merupakan lambang kesuburan dan lestarinya lingkungan. Oleh karena itu, bunga juga memberikan pesan kepada umat untuk menjaga lingkungan tetap asri dan indah. Apalagi di era pembangunan seperti sekarang. Dengan semakin menjamurnya permukiman, hendaknya di setiap tempat disisihkan lahan untuk kawasan hijau.


“Jika alam lestari, bunga-bunga bisa tumbuh subur. Dengan demikian, pemandangan menjadi indah dan memberikan aura yang positif. Otomatis pikiran buruk yang dilambangkan dengan raksasa pun terlenyapkan,” terangnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #denpasar #ritual hindu