Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Tirtha Harum, Serangan; Padukan Harmoni Magis Hindu Budha

I Putu Suyatra • Selasa, 29 Agustus 2017 | 22:18 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tanah Serangan, Denpasar, Bali, hingga kini diyakini sebagai tempat yang memiliki aura spiritual yang sangat tinggi. Berbicara tentang Pulau Serangan pasti pikiran kita tertuju pada Pura Sakenan. Namun, tak hanya itu, di Pulau Serangan terdapat beberapa pura unik, salah satunya adalah  Pura Tirtha Harum. Berikut sejarah salah satu tempat suci umat Hindu di Bali tersebut. 

Pura Tirtha Harum dari segi namanya, berasal dari dua suku kata, yakni ‘ Tirtha’ yang bermakna air suci, ‘Harum’ yang berarti berbau wangi. Dengan demikian, Tirtha Harum berarti  air suci yang berbau wangi. Tidak diketahui kapan berdirinya pura ini. namun yang pasti kesehariannya banyak orang penting di Bali yang tangkil ke pura ini.

Pemangku Pura Tirtha Harum, Jro Mangku Tirtha Harum kepada Bali Express (Jawa Pos Group),  Kamis (19/1), mungungkap sejarah pura tersebut. Konon berdirinya pura ini berasal dari sebuah air yang keluar dari dalam tanah. Hal ini dilihat oleh warga sekitar, namun tak berlangsung lama, hanya beberapa detik saja. Dan, dari air yang keluar tersebut tercium bau wangi atau harum. Karenanya, hingga kini pura tersebut dinamakan Pura Tirtha Harum.

Pura yang berlokasi di ujung tepi pantai timur Pulau Serangan ini,  dahulu dikelilingi oleh lautan. Jka hendak menuju pura ini harus menggunakan perahu atau jukung. Namun, setelah dilaksanakan reklamasi Pulau Serangan, akses menuju pura ini semakin mudah. Jadi, untuk menuju pura ini tidak perlu lagi  menggunakan jukung. Bahkan, sepeda motor bisa parkir hingga di depan pura. Di dalam pura ini terdapat Palinggih Taru, palinggih ini merupakan tempat pemujaan untuk pohon kayu santen yang dahulu ditebang. Kayu dari pohon tersebut selanjutnya digunakan untuk membuat pratima yang kemudian  distanakan di Pura Tirtha Harum.  

Selanjutnya ada yang namanya Palinggih Puncak Giri, yakni palinggih utama dan diyakini sebagai stana Bhatara Pura Tirtha Harum. Kemudian ada Palinggih Dalem Sloka, merupakan pangayat Ida Bhatara yang berstana di Pura Dalem Sloka yang berada di Alas Purwo, Jawa. Selanjutnya, Palinggih Gunung Agung, yang merupakan pangayat Ida Bhatara yang berstana di Gunung Agung. Selain itu, ada juga Palinggih Kresna, yang diyakini sebagai stana Bhatara Kresna. Uniknya, pada palinggih ini terdapat lebah atau tawon yang bersarang. Tidak diketahui dari mana asalnya, tiba-tiba sudah ada di palinggih tersebut. "Dahulu, pada saat pemugaran pura, lebah tersebut hilang, namun saat selesai diupacarai, lebah tersebut kembali bersarang di Palinggih Kresna tersebut," tutur pria 43 tahun ini.

Namun, yang unik dari pura ini adalah terdapat Klenteng atau Tempat Suci umat Budha. Pura ini menganut kepercayaan Siwa Budha, sehingga terdapat Klenteng di dalam sebuah pura. Konon, Klenteng ini merupakan peninggalan pedagang Cina yang sedang berlayar. Klenteng ini diyakini sebagai stana Ratu Mas Manik Subandar. Beliau adalah Dewa Perdagangan bagi umat Budha.

Piodalan di Pura Tirtha Harum dilaksanakan setiap enam bulan sekali, Anggara Kliwon atau Anggara Kasih, Wuku Perangbakat. Pada saat pujawali di pura ini, tetap dilaksanakan pujawali yang sama di Klenteng yang berada di lingkungan utama mandala pura. "Namun, pada saat Hari Suci Imlek, peringatan tetap dilaksanakan di Klenteng menggunakan tradisi Hindu, yaitu menggunakan Pras Pangambeyan. Dan yang membedakan, di palinggih yang lainya tidak dilaksanakan upacara," imbunya

Pura ini diempon oleh enam kepala keluarga, yang semuanya merupakan keluarga pemangku Pura Tirtha Harum. Namun, pura ini bukanlah Pura Paibon atau Pura Keluarga, lebih jelasnya pura ini disebut sebagai Pura Swagina, karena siapa saja boleh menghaturkan bakti di pura ini.  Sebab, tak jarang umat Budha yang identik dengan Cina, berdatangan untuk bersembahyang di pura ini. Mereka rata-rata memohon agar diberikan kelancaran saat berbisnis atau berdagang.

Jro Mangku Tirtha Harum, yang telah ngayah dari tahun 1980-an ini, mengatakan, sebelumnya seorang sanak saudaranya  yang menjadi pemangku.. Setelah ia beranjak dewasa, ada pawisik (petunjuk gaib) agar tahta kepemangkuan di Pura Tirtha Harum diserahkan. “Sejak itu, saya yang akhirnya  menjadi pemangku di sini menggantikan pemangku sebelumnya,”  jelas pria yang juga petani rumput laut ini.

Dikatakannya, banyak warga  yang melakukan pangelukatan di pura ini. Sarananya, cukup membawa sebuah pajati , selanjutnya akan dilukat di laut. "Dahulu pernah ada warga yang tak yakin memohon untuk dilukat, namun tiba-tiba air laut yang digunakan tiba-tiba menebar bau yang wangi,” beber Jro Mangku Tirtha Harum. 

Editor : I Putu Suyatra
#Tirtha harum #bali #serangan #hindu #denpasar #pura #sejarah