Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cakra; Jumlah Ribuan, Fungsi Beragam, Energi Penyokong Kehidupan

I Putu Suyatra • Minggu, 3 September 2017 | 16:42 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Belakangan ini banyak orang yang membuka praktik bimbingan spiritual atau pengobatan alternatif. Dan, biasanya menyebutkan salah satu ‘menu’nya berupa inisiasi hingga buka-tutup cakra.


Hal itu sering dikaitkan dengan kesehatan dan keberuntungan si pasien. Si pasien yang percaya pun terkadang dengan mudahnya menuruti arahan-arahan yang disarankan. Lantas, sudahkah yang bersangkutan betul-betul memahami tentang cakra dan kegunaannya?


 


Cakra berasal dari Bahasa Sanskerta yang berarti roda atau lingkaran. Cakra yang terdapat dalam tubuh manusia merupakan pusat-pusat energi yang sangat halus, sehingga tak kasat mata. Berdasarkan berbagai sumber, ada tujuh cakra utama yang terdapat di dalam tubuh manusia, yang disebut dengan istilah Sapta Cakra. Cakra utama tersebut dikatakan paling besar energi dan pengaruhnya terhadap seseorang.


Selanjutnya, Sapta Cakra tersebut mengendalikan cakra menengah yang jumlahnya mencapai ratusan. Cakra menengah tersebut kemudian mengendalikan cakra kecil yang jumlahnya mencapai ribuan. Cakra-cakra tersebut tersebar di seluruh tubuh, sehingga manusia memiliki energi untuk hidup dan menjalankan aktivitas dengan normal.


 Adapun Sapta Cakra tersebut dari bagian bawah tubuh terdiri dari, Muladara, Swadhistana, Manipura, Anahata, Wisuddha, Ajna, dan Sahasrara. Cakra Muladara konon berwarna merah dan berdaun empat dengan energi Dewa Brahma. Cakra Muladara terletak dua jari di atas dubur dan dua jari di bawah Lingga empat garis lebarnya berpangkal pada tulang ekor, mengembang sampai kebawah lekukan pantat. Untuk melatihnya, biasanya dengan gerakan yang dikombinasikan dengan ucapan “Vam, Sam, Sam, Sam”. Cakra ini berfungsi untuk ketahanan hidup dan berhubungan dengan organ paha, kaki, tulang, dan usus besar.
Kedua, adalah Cakra Swadhistana dengan pusat energi di kemaluan, yang letaknya sekitar tiga cm di atas Cakra Muladara. Konon cakra ini berwarna jingga, berdaun enam dengan energi dari Dewa Wisnu. Untuk melatihnya, biasanya dengan gerakan yang dikombinasikan dengan ucapan “Bam, Bham, Mam, Yam, Ram, Lam”. Cakra ini berhubungan dengan emosi, seksualitas, keinginan, dan kesenangan serta mempengaruhi organ kelamin, reproduksi, dan ginjal. Cakra yang ketiga dinamakan Cakra Manipura. Warnanya kuning, berdaun 10 dan merupakan energi dari Dewa Rudra. Letak cakra ini adalah di pusar. Untuk melatihnya, biasanya dengan gerakan yang dikombinasikan dengan ucapan “Dam, Dham, Nam, Tam, Tham, Dam, Dham, Nam, Pam, Pham”. Cakra ini berhubungan dengan penyembuhan dan pertumbuhan serta organ hati, empedu, dan perut.


Selanjutnya yang keempat adalah Cakra Anahata yang memiliki 12 daun dengan energi dari Dewa Iswara. Warna Anahata adalah hijau dengan letak di jantung. Fungsinya berhubungan dengan cinta, kasih sayang, mental, kesadaran, dan penyembuhan. Cakra ini memiliki getaran dan dapat dilatih dan kombinasi gerakan dengan ucapan “Kam, Kham, Gam, Gham, Nam, Cam, Cham, Jam, Jham, Nam, Tam, Tham”. Cakra Anahata berpengaruh pada organ jantung, paru-paru, lengan, dan tangan. Yang kelima adalah Cakra Wisuddha. Cakra ini letaknya di leher, tepatnya di bawah jakun. Warnanya biru muda dengan energi dari Dewa Maheswara. Cakra Wisuddha memiliki enam belas daun dengan getaran yang berbunyi “Am, Aam, Im, Iim, Um, Uum, Rem, Rrem, Lem, Llem, Em, Aim, Om, Aum, Am, Ah”. Cakra ini berhubungan dengan kemampuan komunikasi dan organ leher, bahu, lengan, telinga, dan tangan.
Selanjutnya, keenam dinamakan Cakra Ajna yang letaknya di antara kedua alis. Warna cakra ini adalah nila dengan energi Dewa Mahadewa. Adapun daunnya berjumlah dua dengan getaran “Ksam Ham”. Cakra Ajna berhubungan dengan pengetahuan dan intuisi serta berhubungan dengan organ mata. Yang ketujuh adalah Cakra Sahasrara yang letaknya di ubun-ubun. Warnanya adalah ungu atau violet dengan seribu daun. Karena diberkati oleh energi Siwa, maka ubun-ubun kerap disebut dengan Siwadwara. Fungsi Cakra Sahasrara adalah pemahaman serta berhubungan dengan organ otak. Getarannya adalah “Om”.


Menariknya, ketika cakranya seseorang aktif, terkadang sebagian orang mengaitkan dengan kemampuan melihat penampakan gaib. Menurut Ketut Gede Suatma Yasa alias Guru Mangku Hipno, berdasarkan kesimpulan sementara dirinya dalam berpraktik sebagian orang keliru mengenai cakra. “Tujuan membuka cakra adalah untuk membangkitkan titik cahaya dalam tubuh kita yang akan menuntun pribadi agar lebih bijaksana, lebih luwes, dan lebih kuat resistensinya ketika mengalami cobaan. Jadi, tidak ada hubungan dengan membuka cakra dengan melihat penampakan,” jelasnya.


Secara gamblang, guru Mangku Hipno mengatakan, orang-orang yang cenderung melihat penampakan adalah orang-orang yang memiliki jiwa ketertekanan sehingga ia memunculkan sifat delusi dan ilusi. Dalam metafisika dan ilmu psikologi hal tersebut cenderung mengarah kepada orang-orang yang memiliki kelemahan kejiwaan atau bisa dikategorikan memiliki potensi mengalami gangguan kejiwaan. “Tapi bukan gila,” ujarnya. “Misalnya adalah kita percaya bahwa telah melihat penampakan, kemudian kita sakit karena penampakan itu,” terangnya.


Lebih lanjut, dalam Ilmu Psikologi modern, dikatakan Guru Mangku, hal tersebut cenderung berpotensi  mengalami gangguan OCD (Obsesif Compulsif Disorder). “Jadi cenderung mencari penyebab sakit dan penderitaan kita ke dalam ruang lingkup eksternal, bukan internal. Orang yang eksternal ini cenderung menciptakan masalah bagi dirinya, pribadi lain, karena setiap masalah yang dia alami dianggap bersumber dari orang lain, bukan dirinya,” jelasnya. Beda dengan orang-orang yang bersifat internal, orang-orang tersebut dikatakan memiliki kecerdasan emosional, intelektual, spiritual, dan kosmik terkendali. “Orang-orang ini menyadari apa yang ia tanam, itu yang ia petik. Apa yang ia lakukan, itulah yang mengakibatkan ia mengalami sesuatu,” paparnya.


Dengan demikian, pria kelahiran Buleleng tersebut mengatakan bahwa cakra itu ada dalam tubuh kita. “Itu hanya simbol-simbol. Tidak ada seorang pun yang persis tahu cakra itu benar-benar bentuknya apa, gerakannya bagaimana, karena hanya berdasarkan persepsi orang,” terangnya. Ia menerangkan bahwa cakra hanya bisa dibersihkan, sehingga kembali aktif dengan baik. Pembersihan cakra pun bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti yoga, meditasi, olah nafas, dan sebagainya, di bawah bimbingan guru yang betul-betul paham.


Guru Mangku menjelaskan bahwa bayi yang baru lahir menangis karena tahu dunia ini penderitaan. Tapi, orang yang melihat bayi baru lahir bersyukur dan penuh kegembiraan. Mereka sangat senang karena si bayi mungil dan menggemaskan. “Dalam perspektif metafisika, cakra bayi sempurna, menyala semuanya. Seiring pertumbuhan waktu cakra ini menjadi redup karena pola pikir, tindakan, perilaku yang salah, satu per satu cakra akan meredup,” jelasnya. Dengan demikian, dalam usia 20 tahun disarankan olehnya melakukan pembersihan cakra untuk mengembalikan kekuatan cakra tersebut, sehingga sistem dalam tubuh kita bekerja optimal. “Oleh karena itu cakra harus tetap terjaga nyala, gerak, dan konsistensinya,” pungkasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu #denpasar