BALI EXPRESS, DENPASAR - Sasih Kanem atau keenam, merupakan bagian dari 12 pembagian Sasih atau bulan sesuai kalender Bali. Sasih Kanem merupakan salah satu Sasih yang menarik untuk dibahas, karena pada sasih ini masyarakat Bali melaksanakan berbagai upacara untuk memuliakan alam, seperti Nangluk Merana dan Pacaruan. Di samping itu, Sasih Kanem juga kerap dikaitkan dengan mitos-mitos yang berisi fenomena gaib.
Menurut Direktur Pasca Sarjana Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par, setiap Sasih sesungguhnya memiliki fenomena tersendiri. “Sasih Kapat (keempat) misalnya, yang dipenuhi bunga bermekaran. Sasih tersebut sangat bagus untuk upacara Dewa Yadnya,” ujarnya, Senin (28/11) kemarin. Sedangkan Sasih Kanem, dikatakan sudah memasuki pertengahan.
“Ibaratnya manusia, sedang labil. Anomali cuaca seperti hujan dan panas yang bercampur baur. Karena dingin dan panas bercampur baur, maka mempengaruhi suhu dalam tubuh manusia,” jelasnya.
Berkenaan dengan cuaca yang kerap berubah, atau yang biasa disebut pancaroba, Sasih Kanem sering dianggap ekstrem oleh masyarakat Bali. Berbagai wabah penyakit pun menyebar, seperti flu, batuk, panas dalam, hingga demam berdarah. “Oleh karena itu, sering dikaitkan dengan mitos yang berhubungan dengan ‘Ilmu Kiri’. Ini adalah kepercayaan zaman purba, karena leluhur kita hidup bersama alam,” paparnya.
Sumadi mengatakan, para leluhur sangat memahami karakter alam dengan baik. Maka, setiap Sasih Kanem,dilakukan berbagai ritual seperti Nangluk Merana, nyawang, pementasan tari Sang Hyang, dan sebagainya. “Ritual merupakan salah satu penguat keyakinan umat terhadap dirinya. Dengan keyakinan yang kuat, maka umat bisa terhindar dari berbagai wabah penyakit. Demikianlah para leluhur kita terdahulu,” jelasnya.
Sumadi menerangkan, sesungguhnya para leluhur mengajarkan bahwa apapun Sasih-nya, manusia harus baik dengan alam. “Sekarang kan alam kita ‘banyak yang tidak harmonis lagi’ karena kemajuan fisik, sehingga banyak berpengaruh kepada fenomena wabah penyakit,” ujarnya. Karena peralihan kemarau ke hujan, lanjutnya, nyamuk makin banyak, bahkan jenis penyakit akibat nyamuk juga makin beragam. Di samping itu, serangga lainnya seperti lalat juga sedang merebak. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tetap menjaga kebersihan makanan agar terhindari dari sakit perut.
Berdasarkan sumber lainnya, pelaksanaan Nangkluk Merana yang dilakukan masyarakat ini, telah ada sejak zaman Rsi Markandya. Makna dan fungsinya sangat jelas untuk melaksanakan keselamatan lahir dan batin. Semua itu ada dalam sastra Lontar Purwaka Bumi. Di samping itu, tujuan ritual tersebut juga untuk memohon berkah kesuburan. Terlebih lagi, dalam pergantian Sasih ini harus dimaknai dengan baik, dilaksanakan dengan lascarya (tulus ikhlas), ngaturang bakti dan banten, memohon keselamatan agar terjadi penetralan kesimbangan sesuai dengan ajaran dan Lontar Cuda Mani.
Mengacu pada sumber sastra lainnya, dalam hubungan dengan upacara Nangluk Merana di antaranya bersumber dari Purana Bali Dwipa. Pada intinya sumber itu mengatakan, ketika Raja Sri Aji Jayakasunu mendapat petunjuk dari Hyang Maha Kuasa berbunyi sebagai berikut: “Malih aja lali ring tatawur ring sagara, manca sanak, nista madhya, uttama, nangken sasih kanem, kapitu, kaulu, pilih tunggil wenang maka panangluk mrana aranya. Yan sampun nangluk mrana, gring tatumpur tikus, walang sangit, mwah salwiring mrana ring desa, mwang ring sawah tan pa wisya, apan sampun hana labanya, wetning salwiring mrana saking samudra datengnya.” Artinya, jangan lupa melaksanakan kurban (tawur) di laut amanca sanak, tingkat kecil, sedang, utama, tiap-tiap sasih kanem, kapitu, kaulu, dapat dipilih salah satu di antaranya untuk dilaksanakan sebagai penolak hama dan bencana. Bilamana sudah melaksanakan upacara Nangluk Merana, penolak hama dan penyakit di sawah, maka tikus walang sangit, segala bentuk hama di tingkat desa maupun sawah tidak akan berbahaya, karena sudah dibuatkan upacara. Oleh karena segala wabah dari laut sumbernya.
Bila saat Sasih Kanem terjadi gempa bumi, ramalan tradisional Bali menyebutkan akan banyak orang susah menjalani hidup. Manusia menjadi sensitif dan cenderung berperilaku tidak wajar. Karena itulah, senantiasa diingatkan untuk waspada berbicara. Jika sampai pembicaraan Anda membuat telinga orang panas, keributan akan mudah terpantik. Bencana alam pun biasanya mengintai dan pencuri bergentayangan tanpa rasa takut.
Lebih lanjut Sumadi menjelaskan, saat ini manusia harus senantiasa mawas diri terhadap apa yang sudah dilakukannya terhadap alam. Hendaknya manusia belajar dari para leluhur yang tidak mementingkan diri sendiri, tapi juga merawat alam dengan benar. “Sekarang kan pembangunan sedang pesat yang sedikit banyak berpengaruh pada alam. Ini yang perlu kita perhatikan. Salah satunya adalah banyaknya pembangunan di kawasan pantai,” ujarnya. Bukannya tidak boleh, tapi ia mengaskan perlu konsistensi pihak terkait dalam penataan dan komitmen dalam menjaga lingkungan, sehingga kepentingan pariwisata bisa sejalan dengan pelestarian alam.
Editor : I Putu Suyatra