Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cuntaka bagi Umat Hindu Bali, Bukan Berarti Dilarang Sembahyang: Berikut Penjelasannya

I Putu Suyatra • Minggu, 10 September 2017 | 03:06 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR -  Cuntaka bagi umat Hindu di Bali adalah keadaan kotor secara jasmani maupun rohani yang dialami oleh seseorang akibat suatu peristiwa, seperti kematian anggota keluarga, kelahiran anak, menstruasi, dan sebagainya.

Pada saat cuntaka, biasanya umat Hindu dilarang untuk memasuki pura atau tempat suci umat Hindu di Bali.

Lalu bagaimana dengan pengucapan mantra atau sembahyang secara pribadi? 

Bagi yang melihat orang menstruasi, kematian, anak kecil, seolah-olah mereka tidak diperbolehkan untuk sembahyang.

“Karena tidak mendapat penjelasan yang benar, mereka akhirnya mengikuti. Tapi, bagi orang-orang yang mengerti tidak ada pantangan untuk sembahyang,” ujarnya.

Justru mantra itu, lanjutnya, yang akan menyucikan orang yang dikatakan cuntaka. 

Yang penting menurutnya adalah yang bersangkutan bisa fokus dan tidak merasa terganggu oleh hal yang dialami.

Misalnya yang menstruasi tidak merasa terganggu dengan keadaan dirinya dan dengan ketulusan bersujud serta mengucapkan mantra Omkara atau mantra lainnya.

“Karena kita meyakini Tuhan ada di dalam diri. Jadi kemana pemikiran kita? Apakah kita memuja Tuhan di luar diri atau di dalam diri kita?” ungkapnya. 

Sira Mpu menjelaskan bahwa seperti yang dikatakan Bhagawan Shri Satya Sai Baba, di zaman Kali ini kecenderungan manusia mencari Tuhan sangat jauh di luar dirinya, padahal Tuhan ada di dalam dirinya.

“Makanya lebih baik perbanyak penyucian diri karena Tuhan berada dalam diri dalam wujud Atman. Inilah konteks Brahman Atman Aikyam. Sesungguhnya Brahman adalah Atman itu sendiri,” tandasnya.  (*) 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Cuntaka #hindu #denpasar #sembahyang