Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Penataran Sasih; Tanah Bulan Stana Hyang Manik Galang

I Putu Suyatra • Rabu, 27 September 2017 | 23:26 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, PEJENG - Pura peninggalan sejarah banyak ditemukan di Gianyar, terutama di kawasan Pejeng. Salah satunya adalah Pura Penataran Sasih, yang  konon merupakan tempat bulan jatuh. Bagaimanakah kisahnya?


Pura Penataran Sasih merupakan salah satu pura kahyangan jagat atau pura utama di Bali. Pura ini memiliki jejak sejarah yang sangat panjang. Beberapa ahli menyebutkan Pura Penataran Sasih adalah pura tertua di Bali yang merupakan pusat kerajaan pada zaman Bali Kuna.


"Dari hasil penelitian terhadap peninggalan benda-benda kuno di areal pura, diduga Pura Penataran Sasih telah ada sebelum pengaruh Hindu masuk ke Bali, satu era dan zaman Dongson di China, sekitar 300 tahun Sebelum Masehi," ujar Penjaga Pura Penataran Sasih, I Wayan Buda yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (2/1) lalu.
Lebih lanjut dijelaskan Buda, nama Pura Penataran Sasih tak lepas dari mitos bulan jatuh yang berkembang di masyarakat. Konon, sasih dalam agama Hindu memiliki arti Bulan, maka pura ini jika diterjemahkan memiliki arti sebagai tanahnya bulan. Dalam purana dijelaskan bahwa Pura Penataran Sasih merupakan tempat berstananya Bhatara Hyang Manik Galang.
Di pura yang terletak di Desa Pejeng, Gianyar, ini terdapat genderang (nekara) perunggu berukuran 186,5 cm yang mengandung nilai simbolis yang sangat tinggi. Pada nekara tersebut terdapat hiasan kodok sebagai sarana penghormatan pada leluhur. Konon, nekara ini juga dijadikan media untuk memohon hujan oleh masyarakat pada masa itu.
Di samping nekara perunggu, di Pura Penataran Sasih juga terdapat peninggalan berupa pecahan prasasti yang ditulis pada batu padas. Hanya saja, tulisan berbahasa Kawi dan Sansekerta itu tidak bisa dibaca karena termakan usia. Namun, dari hasil penelitian, ada kemungkinan pecahan prasasti tersebut berasal dari abad ke-9 atau permulaan abad ke-10. 
Cukup banyak arca dan prasasti yang diletakkan di beberapa bangunan Pura Penataran Sasih. Arca-arca ini berasal dari periode yang beragam. Setelah kebudayaan pra Hindu berkembang di desa ini. Kemudian menyusul dengan dinasti Warmadewa yang juga menjadikan desa ini sebagai pusat kerajaan pada abad kedelapan sampai empat belas.
Di pura ini juga tersimpan beberapa peninggalan masa Hindu seperti prasasti batu yang berlokasi di jeroan bagian selatan. Prasasti tersebut berkarakter huruf dari abad ke-10. Di bagian jaba pura, di sebelah tenggara ada fragmen atau bekas bangunan memuat prasasti yang menggunakan aksara Kediri Kwadrat (segi empat) yang menyebutkan Parad Sang Hyang Dharma yang artinya bangunan suci. 
Parimandala (wilayah kesucian) Pura Penataran Sasih dibagi menjadi tiga halaman (mandala), yakni Utama Mandala (jroan atau halaman utama), Madya Mandala (jaba tengah atau halaman tengah) dan Kanista Mandala (jaba sisi atau halaman luar).


"Masing-masing halaman itu dibatasi oleh panyengker atau tembok yang lengkap dengan candi bentarnya," imbuhpria 73 tahun ini. 
Di lingkungan Pura Penataran Sasih terdapat pura yang terletak berdampingan. Di sebelah utaranya terdapat Pura Taman Sari dan Pura Ratu Pasek. Uniknya, pura ini sesungguhnya bukan sebagai tempat pemujaan leluhur warga Pasek. Hanya saja pengempon pura ini adalah warga Pasek. Di sisi timur Pura Penataran Sasih terdapat Pura Taman dan di sebelah selatan adalah Pura Ibu. Kemudian dibangun lagi Pura Desa dan Pura Puseh di Palebahan Bale Agung. Tutur Buda.
Diterangkan Buda, patirtan atau piodalan di Pura Penataran dilaksanakan bertepatan dengan hari Umanis Kuningan. Pujawali ini juga disebut Sesepan. Selain melaksanakan pujawali, di Pura Penataran Sasih juga melaksanakan Upacara Pangusabhan atau Padudusan yang bertepatan dengan hari Purnama Kesanga (bulan ke sembilan dalam kalender Bali).
Pada saat diselenggarakannya Upacara Pangusabhan, sepatutnya akan dipentaskan  tari-tarian sakral (ilen-ilen) Ida Bhatara. Pada saat dilaksanakan piodalan di Pura Penataran Sasih, di pura lainya yang berdampingan akan dilaksanakan bakti, seperti  di Pura Desa, Pura Ratu Pasek, Pura Taman Sari, Pura Taman, Pura Ibu, Pura Ratu Pejagalan, Pura Beji, Pura Semut, dan Pura Apit Aungan.
Sebagai pangrajeg atau panganceng Pura Penataran Sasih adalah Puri Agung Soma Negara Pejeng. Dan, sebagai pangempon yakni Desa Pakraman Jro Kuta Pejeng. Pada saat menyelenggarakan upacara Sesepan, segala jenis kegiatan upacara dan upacara dilaksanakan oleh Banjar Adat Guliang. Namun, pada saat dilaksanakannya upacara Ngusaba atau Padudusan, penyelenggaraan sepenuhnya di laksanakan oleh seluruh banjar adat yang berada di Desa Pakraman Jro Kuta. "Adapun sebagai panyiwi atau penyungsung yakni seluruh masyarakat Pejeng dan seluruh umat beragama Hindu," tutup Buda.

Editor : I Putu Suyatra
#gianyar #hindu