BALI EXPRESS, DENPASAR - Bebantenan di Bali banyak memiliki istilah. Jadi, tak jarang apa yang dimaksudkan menjadi bias atau ambigu.
Hal inilah yang perlu ditekankan agar tidak terjadi kesalahan yang menjamur sehingga menjadi sebuah kebiasaan.
Banten Suci memiliki tiga tamas yang disusun berurutan. Ketiga tamas ini merupakan simbol Tri Murti, yaitu Utpeti, Stiti, dan Pralina.
Pada Tamas yang pertama merupakan simbol Utpeti atau penciptaan alam semesta.
"Hal itu disimbolkan dengan Nasi Penek dan Rerasmen yang terdapat pada tamas pertama," ujar Pimpinan Yayasan Dharma Acarya, Drs. Ida Bagus Putu Sudarsana, yang setelah medwijati bergelar Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (9/1).
Selanjutnya, pada Tamas kedua merupakan simbol Stiti atau pemeliharaan. Di mana, setelah alam semesta tercipta, dilanjutkan oleh penciptaan isi alam, baik isi alam Bhuwana Agung maupun Bhuwana Alit. Sehingga, pada tetandingan Tamas kedua terdapat jajan yang merupakan simbol senjata Ista Dewata.
Dan, yang tak kalah penting adalah dua jajan Suci yang terdapat pada setiap celemek pada Tamas kedua yang merupakan simbol Kemahasucian Sang Hyang Widi. Sedangkan kekuatan pemeliharaan disimbolkan dengan Pala Bungkah dan Pala Gantung.
Selain itu, terciptanya alam semesta beserta isinya, Sang Hyang Widi akan melaksanakan Hukum Rta dengan adanya kekuatan pralinanya, sebagai tanda kemahakuasaan-Nya dengan sebutan Siwa Rudra.
Hal ini disimbolkan dengan adanya Jajan Saraswati, yang disimbolkan berupa binatang cecek (cicak). Namun, yang menjadi fokus bukan binatangnya, melainkan kata cecek dalam bahasa Bali memiliki arti Kecek yang artinya titik.
"Titik itulah yang memiliki makna sebagai simbol Windhu Ameteng yang merupakan alamnya Sang Hyang Siwa atau Siwa Loka," pungkas pungkas Ida Nak Lingsir.
Editor : I Putu Suyatra