Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Pat Payung; Berusia 200 Tahun, Tempat Mohon Taksu

I Putu Suyatra • Minggu, 1 Oktober 2017 | 22:31 WIB
Pura Pat Payung; Tempat Mohon Taksu Kesenian dan Balian
Pura Pat Payung; Tempat Mohon Taksu Kesenian dan Balian

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pura Pat Payung, salah satu tempat suci yang berada di kawasan Pulau Serangan. Pura yang berada di tengah semak belukar di arah timur menuju pantai serangan ini, diperkirakan telah ada sejak 200 tahun yang lalu.


 


Nama Pat Payung  berasal dari kata ‘Pat’ yang berarti empat, dan payung berarti  payung atau peneduh. "Kata Pat Payung dapat diartikan sebagai empat peneduh arah mata angin, yaitu arah timur, arah barat, arah utara, dan arah selatan," ulas pemangku Pura Pat Payung, Jro Mangku Ketut Sudiarsa kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (25/1/2017).


Di lain pihak, lanjt Mangku Sudiarsa, ada sejarah yang mengatakan asal mula nama Pat Payung. Konon dahulu ada seorang juru kunci Kerajaan Majapahit yang diperintahkan untuk melakukan tapa di Pura Pat Payung. Atas permohonan pangempon pura, pertapa tersebut diminta untuk mencari, bagaimana sejatimya asal mula nama Pat Payung tersebut. Setelah tapa bratanya selesai, diungkapkan bahwa nama Pat Payung diambil dari cerita zaman dahulu. Ketika Raja Klungkung dan Raja Karangasem berperang, terhempaslah payung miliki Raja Klungkung dan jatuh di Pulau Serangan, tepat di Pura Pat Payung kini berdiri. Sehingga kawasan tersebut dinamai Pat Payung.


Pura yang piodalannya jatuh  pada Saniscara Kliwon, Wuku Uye yang dikenal dengan Tumpek Kandang, ini mulanya hanya ada satu buah palinggih yang berasal dari kayu dapdap atau turus lumbung. Kemudian, di bawah turus lumbung tersebut diletakkan bebatuan, sehingga lama-kelamaan menjadi banyak dan menyerupai bentuk palinggih. Setelah mengalami perkembangan, palinggih di pura ini menjadi bertambah, yaitu Palinggih Meru yang merupakan pangayat Pura Dalem Sakenan, Palinggih Dukuh Sakti, Palinggih Dewa Pat Payung, dan Palinggih Gong.


Penambahan palinggih di Pura Pat Payung dilaksanakan berdasarkan petunjuk gaib atau pawisik. Muasal dibangunnya Palinggih Gong, bermula dari adanya sekaa (kelompok) Gong yang memohon taksu atau kharisma di Pura Pat Payung. Pada mulanya, kelompok ini tergolong lancar dan mampu menguasai banyak lagu-lagu. Namun, setelah beberapa lama berjalan, kelompok tersebut bubar, sehingga alat gambelan tidak lagi dirawat. Kejadian aneh terjadi saat gambelan tersebut digunakan kembali, khususnya pada instrumen gong. Siapa pun yang memainkan gong tersebut, pasti akan jatuh sakit. Setelah ditanyakan kepada orang pintar, dikatakan bahwa gong tersebut harus distanakan di Pura Pat Payung. Hingga saat ini diyakini palinggih ini adalah tempat untuk memohon taksu kesenian.


Selain Pura Sakenan, dari beberapa pura yang berada di Pulau Serangan, Pura Pat Payung adalah satu-satunya pura yang memiliki palinggih pangayat untuk Bhatara yang berstana di Pura Sakenan. Karena diyakini Bhatara yang berstana di Pura Pat Payung adalah pangiring atau pangabih Ida Bhatara Dalem Sakenan. Dan, pangabih tersebut diberikan stana di Pura Pat Payung.


 


Di lingkungan Pura Pat Payung,  ada empat bangunan pura, yakni  Pura Dalem Jawi, yang diyakini sebagai stana ancangan Pura Pat Payung yang berasal dari Jawa. Karenanya, sangat dilarang menggunakan daging babi dalam setiap persembahan yang dilaksanakan di pura ini. Diyakini secara niskala atau gaib, pura ini berbentuk masjid, sehingga tak jarang umat muslim turut melakukan pemujaan di pura ini.


Yang kedua adalah Pura Pangayat Ida Dalem Ped yang berada di Nusa Penida, yang diyakini masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan Pura Pat Payung.


Pura yang ketiga adalah Pura Dalem Pesalakan, merupakan ancangan dari Pura Pat Payung. Dan, yang terakhir adalah Pura Pat Payung.


Kawasan di sekitar Pura Pat Payung dikenal sangat angker karena diyakini sebagai kawasan pusat berkumpulnya wong samar. Bila matahari mulai tenggelam,  kawasan ini seperti menebar aura magis yang membuat orang kadang merinding. Tak jarang masyarakat sekitar tidak berani melawati pura ini ketika sore hari. Di pura ini juga kerap dilaksanakan panglukatan, sarananya cukup menggunakan pajati dan bungkak saja. Selanjutnya pamedek yang hendak malukat akan dilukat oleh pemangku di jaba pura.


"Sebelum dilakukan pengurugan laut, penglukatan dilaksanakan di laut. Kala itu laut masih dekat dan berjarak hanya tiga meter, namun sekarang sudah jauh," ujar pria 39 tahun ini.


Lebih lanjut dijelaskan  Mangku Sudiarsa, hal yang diwarisi secara turun temurun oleh keluarganya adalah pesan bahwa kalau nanti dilaksanakan pemugaran pura, jangan sekali-kali memindahkan atau menggeser posisi Palinggih Dewa Pat Payung yang tepat berada di tengah pura.


Pura ini hanya diempon oleh dua orang kepala keluarga, yakni keluarga pemangku pura dan adiknya. Walaupun hanya berdua, kesehariannya banyak masyarakat yang tangkil ke pura ini, baik untuk bersembahyang dan malukat.


Selain itu, banyak masyarakat yang tangkil untuk memohon taksu balian, kesenian, jabatan, pengobatan, dan lainya. Konon, Bhatara di Pura Pat Payung sangat baik dan pemurah.



"Jadi, siapa saja boleh sembahyang di pura ini, apa pun kastanya, karena ini pura swagina, bukan pura paibon,” ujarnya.

Editor : I Putu Suyatra
#denpasar #pura #sejarah pura