BALI EXPRESS, DENPASAR - Jika melihat derasnya laju modernisasi, maka bukan tidak mungkin kebiasaan masyarakat Bali akan tergerus. Buktinya kini mulai memudar kebiasaan membuat tetaring dalam pelaksanaan yadnya di Bali. Benarkah model seperti dikembangkan?
Jika dilihat dari kebutuhannya, tetaring dan uperengga lainya tidaklah begitu penting. Bahkan , ada yang menilai itu hanya sebagai dekorasi semata dan sarana agar tidak kepanasan. Jika digali secara mendalam, tentu setiap umat yang hendak melaksanakan yadnya diwajibkan untuk menyertakan berbagai kelengkapan uperengga tersebut.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa fungsi tetaring saat ini hanya sebatas peneduh saja, tanpa mempertimbangkan makna dan fungsinya sesuai dengan tattwa ,yakni pelindung jalanya upacara yadnya.
Dekan Pendidikan Agama dan Seni Universitas Hindu Indonesia, Dr. I Made Yudhabakti ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) , kemarin, menjelaskan bahwa tetap dibenarkan untuk menggunakan tenda dan jenis peneduh lainnya. Hal ini dikarenakan alasan efektivitas dan produktivitas dari yang melaksanakan yadnya.
“Namun, jika dilihat secara niskala, maka tidak ada fungsi pelindung dalam tenda, hanya saja secara sekala-nya memang benar melindungi dari hujan dan panas,” jelasnya.
Dari beberapa pengalaman yang dijumpai di masyarakat, belum ada yang berani melanggar kebiasaan umat Hindu ini. Hal ini diyakini jika dilanggar, maka pelaksanaan yadnya tidak akan berjalan dengan lancar. “Kalau mau beryadnya persiapanya wajib matang, baik sekala maupun niskala,” ungkapnya.
Jika melihat alasan efektivitas dan produktivitas, tentu masyarakat hendaknya tetap membuat sarana tetaring. Hanya saja yang menjadi fokus adalah di mana kegiatan yadnya tersebut dilaksanakan. “Sisanya yang tidak digunakan untuk pelaksanaan yadnya dan untuk kepentingan undangan saja, dapat menggunakan tenda,” paparnya.
Yudhabakti mengatakan, seluruh Kelabang yang digunakan dalam pelaksanaan yadnya rata-rata memiliki fungsi yang sama. “Hanya saja yang kini mulai memudar adalah pemasangan tetaring dalam pelaksanaan Yadnya. Sedangkan yang lainnya, umat masih menaati sesuai tattwa,” tutupnya.