BALI EXPRESS, MENGWI - Kisah perjalanan Dang Hyang Nirartha ke Tanah Bali pada abad ke-14 meninggalkan jejak hampir di seluruh Bali, peninggalan ini berupa pura yang hingga saat ini tetap disusung oleh umat hindu Bali dengan beragam fungsi dan keunikan tersendiri dari Pura tersebut.
Salah satu jejak Dang Hyang Nirartha di Desa Mengwi adalah Pura Dang Kahyangan Taman Sari Mengwi. Menurut Pemangku Pura Dang Kahyangan Taman Sari Mengwi, Mangku Nyoman Raka Wijaya, keberadaan Pura Dangkahyangan Taman Sari Mengwi ini tidak terlepas dari kisah perjalanan Dang Hyang Nirartha ke Bali. “Dalam kitab nomor Vd 273/4 disebutkan ini sudah ada sejak tahun Saka 1411 (tahun 1489 M) dan keberadaannya tidak terlepas dari perjalanan suci Dang Hyang Nirartha ke Bali,” jelasnya.
Berdasarkan pada Babad ringkas Pura Dangkahyangan Taman Sari Mengwi yang dikisahkan oleh Mangku Raka, keberadaan Pura Taman Sari ini tidak terlepas dari kisah perjalanan suci Dang Hyang Nirartha ke Bali. Setelah sempat tinggal di Desa Mundeh, Dang Hyang Nirartha disebutkan melanjutkan perjalanan sucinya ke arah selatan.
Hingga akhirnya bertemu dengan satu karang yang disampinyanya terdapat Wulakan (mata air) yang sangat sejuk dan rindang serta disamping wulakan tersebut ditumbuhi oleh taman bunga yang wanginya memenuhi hidung.
Karena tempatnya sejuk dan rindang, akhirnya Dang Hyang Nirartha disebutkan melakukan Yoga Samadhi yang diiringi oleh puja puji dengan japa Mantra utama kepada Sang Pencipta. “Setelah melakukan yoga Semadhi, akhirnya Dang Hyang Nirartha menamakan tempatnya beryoga Semadhi tersebut dengan nama Pura Taman sari, dan Pura Wulakan untuk Wulakan atau sumber mata air yang ditemukan pada awal beliau mengunjungi tempat ini,” papar Mangku Raka.
Sedangkan daerah di sekitar pura dinamakan dengan Wilayah Mangupura, pura Taman Sari dan Pura Wulakan ini selanjutnya disebut sebagai Pura Kahyangan selayaknya pura penyungsungan jagat, yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi oleh keturunan Ida bhatara Dhang Hyang Nirartha dan Ida bhatara Dang Hyang Dwijendra.
Sehingga pujaan utama di Pura Taman Sari ini dikatakan Mangku Raka adalah Ida Bhatara Dhang Hyang Nirartha dan Ida Bhatara Dang Hyang Dwijendra. Selain itu di areal Pura juga terdapat beberapa palinggih lainnya Yakni Gedong tapakan yang berfungsiuntuk menyimpan tetapakan Idah Bhatara.
Jika dilihat dari urutan pura, dikatakan MangkukNyoman, pura Dang Kahyangan Taman Sari mengwi ini adalah pura ke sembilan dari kisah perjalanan spiritual Dhang Hyang Nirartha ke Bali. “Ini adalah pura kesembilan dari kisah Dharmayatra Dhang Hyang Nirartha setelah beliau meninggalkan desa mundeh,” lanjut Mangku Raka.
Untuk piodalan Pura, Mangku Nyoman menyebutkan jika piodalan pura jatuh pada Purnama Kapat atau dalam perhitungan kalender Masehi Purnama yang jatuh pada bulan Oktober. Piodalan pada purnama Kapat ini dikatakan Mangku Raka tidak terlepas dari kisah penemuan Wulakan oleh Dang Hyang Nirartha yang saat itu diperkirakan tepat pada bulan keempat kalender Bali (sasih kapat).
Dan piodalan pada Purnama Kapat ini tetap dilakukan hingga saat ini dan yang menjadi pengempon pura ini adalah krama Banjar Alengkajeng Desa Adat Mengwi. Meskipun piodalan dilaksanakan setahun sekali, namun dalam Lontar Kitab no Vd 273/4 disebutkan, pengempon Pura Taman Sari juga menghaturkan piodalan alit setiap bulan purnama.
Editor : I Putu Suyatra