Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jika Ternak Sakit, Bisa Mohon Obat dan Doa pada Ida Sedahan Ketut

I Putu Suyatra • Jumat, 13 Oktober 2017 | 15:15 WIB
Jika Ternak Sakit, Bisa Mohon Obat dan Doa pada Ida Sedahan Ketut
Jika Ternak Sakit, Bisa Mohon Obat dan Doa pada Ida Sedahan Ketut



BALI EXPRESS, BANGLI - Beberapa pura memang ada yang dipercayai jadi tempat untuk memohon  kesembuhan penyakit, terutama yang berkaitan dengan non medis (niskala). Namun, Pura Alas Angker sedikit berbeda, yaitu menjadi tempat untuk memohon atau mengatasi segala penyakit  hewan peliharaan.
Tidak sedikit masyarakat yang datang ke Pura Alas Angker di Kubu, Bangli, agar diberikan kesahatan dan keselamatan untuk   ternak peliharaannya. Hal itu diungkapkan pemangku Pura Alas Angker,  I Nyoman Sumarna saat ditemui  Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya Kubu, Bangli.
Keberadaan pura tersebut tidak langsung bisa dijangkau dari jalan raya,  dikarenakan tempatnya sedikit masuk ke dalam, di mana  letaknya bersebelahan dengan Pura Puseh, Desa Kubu, Bangli. Jika ingin mengunjungi pura ini,  tidak perlu khawatir. Cukup berpatokan pada Balai Banjar Kubu.  Jika dari Kota Denpasar,  butuh waktu di  perjalanan  sekitar satu setengah jam. Dari pusat Kota Bangli ke utara sampai bertemu Bukit Bangli. Jalurnya searah dengan Desa Wisata Tradisional Penglipuran, juga jalur Penelokan Kintamani. Sebelum masuk ke kiri jalur menuju Desa Panglipuran, di kanan jalan  ada sebuah Balai Banjar Kubu.  Balai banjar inilah yang dijadikan patokan, yang
bersebelahan dengan Pura Puseh setempat. Nah,  di sebelah selatan Pura Puseh itulah berdirinya Pura Alas Angker yang diyakini tempat  bersthana Ida Bhatara Sedahan Ketut.
Mangku Sumarna  menjelaskan, berdasar  sejarah pura, konon di Pura Puseh Kubu, tempat bersthananya Ida Bhatara yang beraos kirang (bersuara gagap), diketahui namanya Ida Bhatara Sedahan Ketut.
Ketika Ida Bhatara di Pura Puseh kedatangan tamu dari Desa Penglipuran, disambut oleh Ida Bhatara Sedahan Ketut. Dikarenakan suaranya yang gagap tersebut, membuat tamu berasal dari Penglipuran kurang paham dengan apa disampaikannya. Disebut dengan Sedahan Ketut karena merupakan saudara yang paling kecil.
Lantaran kejadian tersebut, Ida Bhatara Puseh pun merasa malu, sehingga Ida Bhatara Sedahan Ketut dipindahkan. Maka, dibuatkanlah tempat di selatan Pura Puseh, yaitu di antara hutan belantara yang diyakini angker oleh masyarakat setempat. Dari sanalah Sedahan Ketut diberikan tugas untuk menjaga dan mengawasi segala binatang yang ada di sekitar desa. Sehingga, diberikanlah pura itu dengan nama Alas Angker oleh warga yang ada di sana.


Bersthananya Ida Bhatara Sedahan Ketut, sampai saat ini diyakini oleh masyarakat untuk memohon  keselamatan atau kesembuhan, terutama terhadap hewan peliharaan. 
Ketika hewan peliharaan sakit, seperti tidak mau makan, maka  warga langsung memohon dan  doa. Setelah itu, mereka berdatangan saat piodalan berlangsung. Tanpa disuruh pun mereka membawa sesajen sesuai dengan apa yang meraka haturkan dengan iklas.
Untuk memohon di pura yang piodalannya jatuh pada
anggara kasih perangbakat (selasa kliwon wuku perangbakat),  tak ruet. Hanya cukup memohon dari rumah masing masing, menggunakan sarana berupa canang atau pajati . Ketika sembuh dari grubug (penyakit hewan), mereka akan tangkil pada piodalan berlangsung. Tujuannya untuk naur sesangi (menepati janji). 
"Mereka juga nunas wangsuhpada  (tirta) untuk keselamatan hewan, dan kesehatan pamedeknya sendiri," terang  kakek bercucu lima tersebut.  Mangku Sumarna yang mengaku tak pernah mengalami peristiwa berkaitan dengan mistis ini, juga mengatakan tidak ada pantangan untuk nangkil ( datang sembahyang).
Dikarenakan dulu dikelilingi dengan hutan belantara,  lanjutnya, maka untuk menentukan pura dan menjaga kesucian, dibatasi oleh beberapa titik. Di sebelah utara merupakan Pura Puseh, Desa Kubu. Di sebelah timur adalah pura puncak pandakan, di selatan adalah jalan menuju Pura Taman Tirta. Sedangkan di sebelah barat adalah Jalan Raya Denpasar – Kintamani. Sedangkan terkait dengan palinggih, Mangku Sumarna  menyebutkan hanya ada satu buah palinggih, yakni  sebagai bersthananya Ida Bhatara Sedahan Ketut. Berdasarkan pembagian pura, terdiri dari utama mandala (bagian utama),  madya mandala (bagian tengah), dan nista mandala (bagian paling luar). “Dulu panyengkernya hanya menggunakan pohon kayu saja. Dikarenakan banyak warga yang merasa hewan peliharaannya sembuh, setelah memohon keselamatan di sini. Maka hampir semua renovasi pura bersumber dari dana punia warga setempat,” imbuh pria berumur 57 tahun tersebut.
Ia juga mengatakan, pangempon pura hanya berjumlah tiga kepala keluarga saja. Dikarenakan bukan tergolong Pura Khayangan Tiga. Bahkan, bukan juga termasuk Pura Dadia, tetapi bagian dari Pura Puseh yang mempunyai kaitan satu sama lain. Sehingga, diempon oleh keluarga pemangku saja,  tetapi setiap pelaksanaan upacara oleh warga setempat.
" Pada saat piodalan berlangsung, segala sarana upacara biasanya berasal dari warga. Saya hanya bertugas untuk menyelesaikan prosesi upacaranya saja," terangnya.
Mangku Sumarna mengatakan ,  pada zaman dahulu semasih desa setempat berstatus desa adat, Pura Alas Angker diempon oleh warga desa setempat. Namun, seiring berjalannya waktu dan hasil dari kajian para tokoh adat, bahwa pura tersebut terletak di tengah-tengah laba (warisan) milik mangku Pura Puseh. Lantaran pertimbangan itu pula,
pada tahun 1998, tanggung jawab dari Pura Alas Angker kemudian diserahkan kepada keluarga Jero Mangku Nyoman Sumarna yang  juga pemangku di Pura Puseh, Desa Kubu. Sehingga sampai saat ini tanggung jawab pura diserahkan kepadanya, baik dalam bentuk bangunan dan pelaksanaan upacara yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. “Tidak terlalu beban bagi saya, karena warga juga ada yang membantu dalam persiapannya. Bahkan ada beberapa warga yang mengahaturkan banten sudah jadi,” terang pria yang  keluarganya sudah turun temurun menjadi pemangku. Dirinya juga mengaku, bahwa rumah yang ditempatinya bukan pekarangan asli. Namun dikarenakan ngarangin (pindah tempat tinggal), sebab pekarangan tersebut kosong. Dikarenakan ditinggal oleh pemiliknya yang pindah ke desa sebelah, sehingga ia yang mengambil alih dari hak dan kewajiban atas pekarangan tersebut. Karena berada di wilayah pelabaan Pura Puseh, maka ia yang akan menerima konsekwensi dari kewajibannya juga. Termasuk menjadi pangempon sekaligus pemangku Pura Alas Angker.

Editor : I Putu Suyatra
#bangli #hindu #pura #sejarah pura