BALI EXPRESS, SANUR - Pura Blajong yang terletak di Jalan Danau Poso, Sanur, Denpasar, Bali, memiliki sejarah penting. Bahkan ada prasasti yang mencatat jejak kemanangan Raja Kesari Warmadewa. Dalam Prasasti itu terdapat angka tahun Saka 836 (914 Masehi).
Menurut Pemangku Pura Blanjong, Jro Mangku Made Mawa, Pura Blanjong ini adalah Pura Dang Kahyangan. Yang dipuja di Pura Dalem Blanjong ini adalah Ida Bhatara Dalem Blanjong. “Pura ini adalah Pura Dang Kahyangan yang disungsung oleh tiga desa Adat yakni desa Adat Renon, Desa Adat Cerancam, Desa Adat Lantang Irung dan Desa Adat Sukawati,” jelasnya.
Keberadaan Pura Dalem Blanjong ini menurut Mangku Made Mawa menjadi bagian dalam situs kepurbakalaan Prasasti Blanjong. Dalam Prasasti Blanjong dibahas mengenai keberadaan dari Pura Dalem Blanjong yang menjadi tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widi Wasa pada era pemerintahan Sri Kesari Warmadewa.
Di dalam Prasasti Blanjong selain dibahas mengenai keberadaan dan fungsi dari Pura dalem Blanjong, Prasasti ini berkaitan erat dengan kemenangan dari Sri Kesari Warmadewa, pendiri dinasti Warmadewa di Bali. Adapun isi dari prasasti Blanjong ini adalah menceritakan tentang keberadaan Pura Dalem Blanjong, yang menyebutkan Pura Dalem Blanjong ini terletak di Desa Blanjong di Kawasan pariwisata Sanur dan tidak jauh dari Pantai.
Selain itu, seperti yang dikutip Mangku Mawa, isi prasasti tersebut menyebutkan jika Pura Dalem Blanjong sempat mengalami pemugaran, dan prasasti Blanjong juga sudah diberi bangunan pelindung untuk mencegah terjadinya kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat bencana alam. “Yang menarik perhatian dari prasasti Blanjong ini adalah bentuknya yang berupa pilar silindris, pada jaman dahulu, tugu ini merupakan simbol kemenangan, sehingga prasasti ini sering diidentikan dengan tugu kemenangan,” papar Mangku Mawa.
Dengan tulisan, jika diartikan menjadi bahasa Indonesia adalah “Pada tahun 835 çaka bulan phalguna, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia beristana di keraton Sanghadwala, bernama Çri Kesari telah mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal. Inilah yang harus diketahui sampai kemudian hari.” Dengan prasasti ini, berharap kemenangan sang raja diketahui oleh anak cucu atau sang penerus. Terbukti hingga saat ini, orang tertarik untuk tahu keberadaan prasasti itu.
Prasasti Blanjong ini memiliki tinggi 177 Cm dengan diameter mencapai 62 Cm dan ditulis dengan menggunakan dua bahasa yakni bahasa Sanskerta dan Prenagari. Prasasti ini menyebut nama Raja Sri Kesari Warmadewa yang bertahta di Singhadwala yang telah mengalahkan Gurun dan Suwal.
Sebagai situs kepurbakalaan Prasasti Blanjong disebutkan Mangku Mawa dilindungi oleh Undang–undang perlindungan Nomor 11 Tahun 2010 dan menetapkan Prasasti Blanjong sebagai salah satu cagar budaya di Bali.
Sebagai situs purbakala, saat ini prasasti Blanjong kini mendapat penanganan yang baik, prasasti ini ditempatkan dalam sebuah lemari besar yang terbuat dari kaca. Hal ini dikatakan Mangku Mawa bertujuan agar prasasti tersebut dapat dilihat dari luar dengan jelas tanpa merusak prasasti.
Selain prasasti Blanjong, Pura Dalem Blanjong menurut Mangku Mawa juga memiliki beberapa arca peninggalan masa pemerintahan Sri Kesari warmadewa, yang terdiri dari Arca Ganesa yang disimpan dalam sebuah Gedong yang berada di sebelah barat Prasasti. “Arca ini saat ini tidak sempurna, karena belalai dan kedua tangannya patah,” terang Mangku Mawa.
Dari penampilan fisiknya, terlihat Arca Ganesha ini terbuat dari Batu padas dan dengan posisi duduk sempurna, dengan hiasan khas Ganesha yakni dilengkapi dengan kalung, dan telinga yang lebar serta badan yang gemuk dan kepala gajah yang kecil.
Peninggalan lain adalah beberapa patung binatang, yakni Patung Lembu yang menurut Mangku Mawa dipercaya sebagai Patung lembu nandini berbahan baku sama seperti arca Ganesha yakni Batu Padas. “Selain Patung Nadini masih banyak patung binatang lainnya yang menjadi koleksi dari Pura Dalem Blanjong ini, dan kondisi dari patung-patung peninggal ini saat ini tidak sempurna karena sudah dimakan waktu,” paparnya.
Editor : I Putu Suyatra