BALI EXPRESS, BANGLI - Selain untuk malukat, klebutan (sumber mata air) Pasiraman Kasuma Dewi di Banjar Tegal, Bebalang, Bangli juga dianggap Tirtha Pangsut. Dikarenakan berasal dari kata pangsit (dicabutnya) sebuah alang-alang yang ada di tebing tempat klebutan tersebut. Banyak petistiwa niskala terjadi di kawasan ini.
Pemangku Pura Pasiraman Kasuma Dewi, Gusti Mangku Gede mengatakan, pernah salah satu warga setempat yang rencananya akan dioperasi karena menderita kencing batu, sembuh dalam hitungan hari, setelah nunas tirtha.
Warga tersebut sembuh karena rutin malukat dan minum tirtha di pasiraman . Sehingga saat kencing, ia pun merasa lancar dan batu yang dianggap mengganjal sebagai penyakit, pecah dan keluar saat kencing. “Tergantung dari keyakinan kita saja sebenarnya, kalau kita yakin dan percaya akan bisa sembuh, pasti akan diberikan jalan,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Banjar Tegal, Bebalang, Bangli, kemarin.
Sampai saat ini, lanjutnya, setiap harinya ada saja yang nunas Tirtha Pangsut untuk dikonsumsi dengan membawa galon air.
Bila nunas tirtha cukup hanya menghaturkan canang di pancuran. Namun, ketika akan malukat harus matur piuning terlebih dahulu di pura. Agar apa yang dimohonkan terkabulkan, dengan selalu berdoa atas keyakinan pada diri sendiri.
Ditambahkannya, tirtha tersebut bersumber dari satu klebutan saja. Sehingga dulu ditampung oleh warga setempat, yang dibuatkan penampungan seperti kolam. Namun pecah dan bocor, yang memunculkan tiga buah pancuran. Klebutan tersebut dulunya terdapat di jeroan pura. Karena tidak kuat juga, maka pecah kembali hingga ke jaba sisi pura, dan menjadikan tiga buah pancuran kembali. Nah, pancuran inilah hingga saat ini digunakan untuk malukat tanpa menggunakan sehelai kain tersebut.
Warga setempat, Ni Gusti Seriwati yang kebetulan nunas tirtha hanya untuk dikonsumsi, mengaku tidak setiap saat dapat nunas tirtha . Sebab, jika cuntaka dan kesebelan karena ada orang meninggal, maka tidak diizinkan memasuki areal pasiraman.
“Kalau ada yang kesebelan banjar, seperti ngaben, maka satu banjar kena kesebelan. Sehingga pasiraman ini ditutup sementara setelah kesebelan dianggap selesai. Orang yang sebagai penegen dan pengapit (tetangga) juga terkena dampak, karena orang yang akan ke sini pasti melewati banjar yang kesebelan. Sehingga secara otomatis berada di daerah yang termasuk cuntaka," jelas wanita 60 tahun tersebut.
Ia juga mengatakan, bahwa Pura Pasiraman yang piodalannya pada Budha Kliwon Matal ini, diempon oleh banjar setempat. Yaitu Banjar Tegal,Bebalang, Bangli yang berjumlah 120 kepala keluarga . Saat piodalan, lanjutnya, semua sasuhunan yang ada di banjar setempat melaksanakan wangsuhpada di klebutan yang ada di jeroan pura.
Ditambahkan Gusti Mangku Gede, , sempat ada seorang yang kesurupan saat melihat kondisi areal pasiraman untuk mengecek kondisi bangunan untuk dibuatkan proposal agar mendapat bantuan renovasi. Namun, ia tidak menggunakan kamben saat memasuki pura. Maka tiba-tiba kesurupan di jeroan Pura Pasiraman Kasuma Dewi. “Saat itu saya bingung, karena kesurupan lumayan lama. Kemudian saya mengambil tirtha, dan menghaturkan labuhan (sesajen). Dengan upakara canang dan berisi juga tabuh arak berem, baru yang bersangkutan kembali normal,” paparnya.
Editor : I Putu Suyatra