Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Saat Kajeng Kliwon atau Purnama-Tilem, Sering Ada Suara Angklung

I Putu Suyatra • Selasa, 31 Oktober 2017 | 15:00 WIB
Saat Kajeng Kliwon atau Purnama-Tilem, Sering Ada Suara Angklung
Saat Kajeng Kliwon atau Purnama-Tilem, Sering Ada Suara Angklung

BALI EXPRESS, BEDULU - Pura Yeh Pulu yang ada di Banjar Batu Lumbang, Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, memiliki keunikan tersendiri. Sebab, di Pura yang berada di pertengahan sawah tersebut mengeluarkan tirta. Seperti apa?


 


Pemangku Pura Yeh Pulu, I Wayan Kereg meyakini, tirta yang keluar dari areal Pura tersebut  untuk memperlancar pertumbuhan padi, dan terhindar dari serangan hama. Hal tersebut ia ungkapkan saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), di areal Pura Yeh Pulu, Senin kemarin (30/10).


Dirinya juga menerangkan sepanjang dinding pura, terdapat sebuah ukiran yang menceritakan kehidupan zaman dahulu. Ukiran itu dituangkan pada relief di permukaan batu padas.  Sehingga wisatawan pun banyak yang penasaran dan tertarik mengunjungi tempat tersebut.


"Sebenarnya dari mulai menanam bibit padi, sudah perlu diperciki tirta dari Yeh Pulu ini. Karena sangat mempengaruhi proses pertumbuhan agar sampai panen. Bahkan setelah itu tidak ada serangan hama," terang pria 66 tahun tersebut.


Jika penasaran dengan keberadaan pura tersebut, bisa langsung ke sana. Dari pusat Kota Denpasar, hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit. Menuju Patung Barong yang terdapat di Desa Batu Bulan. Dan ke kanan menuju arah Pasar Sukawati. Di lampu merah Sukawati ke utara sampai Desa Teges, Ubud. Dan ke kanan hingga sampai di perempatan Desa Bedulu, di timur Goa Gajah. Kembali belok kanan, di sana akan menemukan papan nama bertuliskan Pura Yeh Pulu. Hanya mengikuti petunjuk arah tersebut, akan sampai di depan pintu masuk pura.


 


Jero Mangku Kereg juga menjelaskan sejarah pura, ia menerangkan wilayah pura tersebut berdiri di Banjar Batu Lumbang, Desa Bedulu. Dalam perjalanan menuju pura, dapat melihat relief kuno yang sangat unik. Dipahat pada permukaan batu padas, sepanjang 25 meter.  Sedangkan lebar dari relief tersebut sekitar dua meter. Dirinya mengatakan relief itu sudah ditemukan pada tahun 1925 silam, oleh salah satu panglingsir desa setempat.


 


"Relief yang ada di sepanjang dinding ini, berupa pewayangan membentang dari utara ke selatan. Dan di ujung selatan relief, ada sebuah ceruk seperti digunakan untuk pertapaan," terang ayah empat anak tersebut.


 


Mangku Kereg juga memaparkan, cerita yang ada di sana berupa cerita rakyat Bali. Yaitu pada zaman kerajaan Bedahulu. Tempat itu juga dianggap sebagai tempat pertapaan,  yang digunakan oleh Raja Bedahulu.  Sebelum berperang dilakukan dengan kerajaan Majapahit. Ia mengatakan hal tersebut terjadi pada tahun 1343 Masehi.


 


Menurut Jero Mangku Kereg, Yeh Pulu berasal dari kata 'yeh' berarti air. Sedangkan 'pulu' merupakan sebuah gentong (tempat beras). Di mana Pulu tersebut ada di bagian barat relief. Dan di tengah-tengahnya terdapat sebuah klebutan (sumber air suci). Sedangkan air tersebut, yang sering ditunas (diminta) oleh krama subak setempat untuk digunakan wangsuhpada (diperciki) pada bibit padi, juga pada padi yang mulai berbuah. Mangku Kereg juga menyebutkan supaya  terhindar dari hama, dan bisa dipanen nanti.


 


"Pura ini berdiri di pertengahan sawah, dan di pinggir sebuah tebing. Di mana juga bersebelahan dengan aliran Tukad Patananu (Sungai Patanu). Pemedal pura juga menghadap ke selatan. Mungkin mereka yang datang ke sini terdahulu, berasal dari arah selatan. Dengan cara melewati Sungai Patanu," terang Mangku Kereg.


 


Disinggung terkait fungsi dari tirta Yeh Pulu tersebut, dirinya menyatakan sering digunakan untuk malukat. Agar membawa kesejahteraan dalam hidup. Terlebih pura tersebut sebagai sthana Dewi Sri dan Dewa Wisnu. "Sebelum dibuatkan jalan di utara pura, pamedek yang nangkil ke sini pasti melewati persawahan dari barat pura. Karena tempat berdiri pura di pinggir tebing, dan di atas jurang. Yang menjadi penghambat pemedek ke sini," ungkapnya.


 


Sedangkan jika malukat di sana, Mangku Kereg menjelaskan hanya cukup menggunakan sarana berupa canang atau pejati. Sedangkan cara malukat, yaitu nunas tirta dari Yeh Pulu tersebut dan malukat di jaba sisi pura. Supaya sisa air bekas malukat yang dianggap kotor, tak jatuh di areal utama mandala pura.


 


Disinggung terkait kejadian aneh, Manghku Kereg mengaku sering mendengar suara gambelan angklung. Itu pun pada hari tertentu, seperti rahinan Bali. Pada  Kajeng Kliwon, Purnama dan Tilem. Ia mengatakan ketika mendengar suara gambelan tersebut, merupakan pertanda kesejahteraan yang akan dialami. Baik dari pengempon pura maupun krama subak setempat.


 


Piodalan di Pura Yeh Pulu, hanya dilaksanakan dalam waktu setahun sekali. Yang jatuh pada Purnama Kasa. Sedangkan pelaksanaan piodalan nyejer (berlangsung) selama tiga hari. "Pura Yeh Pulu ini, diempon oleh krama Subak Uma Telaga. Di mana yang terdiri atas 125 krama subak. Dalam piodalan juga ada tiga pura sekitar Yeh Pulu yang berbarengan piodalannya. Yaitu Pura Ulun Suwi, Pura Mengening, dan Pura Yeh Putu sendiri," papar Mangku Kereg.


 


Dirinya menjelaskan Pura Ulun Suwi, sebagai pusat linggih Ida Sasuhunan berupa beras yang direka (disusun) seperti dewa-dewi. Pura Mengening, sebagai tempat pasucian (membersihkan) sasuhunan. Juga sebagai tempat membersihkan seluruh bahan maupun alat yang akan digunakan untuk kaluhur. Dalam prosesi piodalan berlangsung dan persiapan piodalan. Sedangkan Pura Yeh Pulu, sebagai tempat nunas tirta yang digunakan sebagai wangsuhpada.


 


Mangku Kereg juga mengungkapkan, jika prosesi pasucian berlangsung, beras sebagai sashununan tersebut harus dibersihkan sebanyak sebelas kali. Bertujuan agar benar-benar bersih. Ditanya kenapa harus sebelas, Mangku Kereg mengatakan karena belum tahu pasti dengan sumbernya. Karena memang harus tradisi seperti itu dijalankan oleh krama subak di sana. Agar ke depan, lahan dari persawahannya menjadi panen dengan tepat waktu dan tanpa gangguan hama.


 


"Yang dibersihkan di sana, hanya sarana dan prasarana dipersembahkan ke luhur (menuju ke dewa) saja. Jika tidak dipergunakan untuk ke luhur, tidak perlu disirat tirta dari Pura Mengening.  Di samping tempat pasucian, ada juga tempat malukat yang diyakini untuk kesejahteraan dalam hidup," terangnya. (bersambung)

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #gianyar #hindu #pura