BALI EXPRESS, BANGLI - Setiap desa memiliki tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun. Bahkan dipercayai sebagai penolak bala, jika dilaksanakan dengan rutin. Seperti tradisi Magobag-gobagan di Desa Sala, Kecamatan Susut, Bangli. Seperti apa prosesinya?
Jero Mangku Taman Tirta menjelaskan tradisi Magobag-gobagan dilaksanakan subuh hari, ketika perayaan hari suci Galungan. Tradisi itu dilaksanakan agar masyarakat mendapatkan tirta daha (perawan). “Daha itu berarti pertama kali, seperti seorang wanita yang masih gadis dan pria yang bujang yang dianggap masih perawan dan perjaka. Karena itu, semua masyarakat menuju ke campuhan untuk mendapatkan tirta daha agar pertama kali menggunakan tirta itu,” terang Mangku Tirta ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di Desa Sala, Kecamatan Susut, Bangli, pekan lalu.
Mangku Tirta menejelaskan, tradisi Magobag-gobagan sudah dari dulu ada di desanya. Namun, karena perkembangan zaman, kian jarang dilaksanakan. “Dulu memang rutin dilaksanakan, mungkin saat itu belum ada air yang mengalir ke rumah warga. Makanya terus dilakukan saat Galungan tiba,” ungkapnya.
Tradisi ini, lanjutnya, dilaksanakan sebagai upaya pelestarian budaya mandi pada Yeh Daha (Dee) yang dilakukan warga setempat, perempuan dan laki-laki. Di mana sebelumnya dibuatkan barisan yang membedakan pria dan wanita. Ia juga mengatakan Magobag-gobagan adalah sebuah ritual dalam membangkitkan spiritual, menyambut hari suci Galungan, srkaligus sebagai tali silaturahmi antar krama.
Rangkaian Magobag-gobagan , pertama krama setempat berkumpul di areal Pura Taman Pecampuhan pukul 04.30. Kemudian sembahyang bersama di areal panglukatan. Setelah itu, seluruh krama turun menuju sungai, yang merupakan pencampuhan dari dua aliran sungai. Setelah pemangku menghaturkan bhakti, maka krama langsung membasahi rambut sampai ujung kaki. “Karena ini mengawali lagi, jadi hanya anggota sekaa teruna saja yang masih berada di sungai. Di bagi menjadi dua bagian. Dipisahkan pria dan wanita, kemudian dilanjutkan dengan saling melempar bunga sebanyak tiga kali,” terang pria yang mengaku mantan pegawai Telkom tersebut.
Acara lempar bunga tersebut, di mana wanitanya menggunakan bunga berwarna merah. Sedangkan pria menggunakan bunga berwarna putih. “Ini simbolis membangkitkan jiwa spiritual dengan penuh kesucian dan keberanian, sesuai dengan simbol bunga. Terlebih pada saat pelaksanaannya tepat hari Galungan, dimaksudkan untuk merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma, dengan jiwa yang suci dan berani,” urainya. Saat itu juga, lanjutnya, menghidupkan lilin yang dibawa oleh sekaa teruna. “Segala hal negatif dituangkan pada cahaya lilin, kemudian dihanyutkan di sungai,”imbuhnya. Setelah itu baru dilanjutkan dengan acara Magobag-gobagan.
Mangku Tirta menjelaskan, Gobag berarti mencipratkan air sungai kepada orang lain. Hal itu dilaksanakan oleh anggota sekaa teruna untuk menyambut hari Galungan dengan rasa senang. Dan mereka saling membalas mencipratkan air yang ada di campuhan tersebut.
Di tempat yang sama, Wakil Bendesa Adat Sala, I Wayan Koyan mengaku saat ia kecil memang sudah ada tradisi itu. Dikarenakan adanya sebuah aliran air yang sampai ke rumah warga, sehingga jarang warga yang mandi ke sungai. Bahkan, tradisi Magobag-gobagan yang biasanya dilaksankaan setiap enam bulan sekali tidak dilaksanakan. “Pada zaman saya anak-anak dulu, kalau hari raya bermain ke rumah teman dan belum mandi pasti ditertawakan. Sebab, sebelum dapat Yeh Daha belum dianggap mandi saat itu,” jelas guru fisika tersebut.
Koyan juga mengaku, di samping untuk memperkenalkan tradisi Magobag-gobagan, juga memperkenalkan tempat panglukatan Taman Tirta Sala, di samping untuk menghilangkan pikiran negatif sesama warga, yang punya rasa kesal, iri, dan dengki pada sesama warga. “Kalau dulu, seingat saya masih menggunakan obor untuk menuju ke sini. Dikarenakan medannya tidak seperti sekarang, yang mudah dilalui. Tapi kalau ada orang yang berkecimpung di dunia spiritual biasanya setiap Galungan ke sini. Supaya dapat Yeh Daha tersebut,” imbuhnya.
Warga yang cuntaka (kotor), seperti ada keluarganya yang meninggal dunia atau wanita yang sedang datang bulan, pabtang mengikuti tradisi ini. Di samping itu, lanjuy Koyan, juga tidak boleh mengajak bayi yang belum berumur satu oton.
Ditegaskannya, tradisi Magobag-gobagan ini akan diselenggarakan setiap enam bulan sekali secara rutin. “ Peserta yang pokok adalah sekaa teruna setempat untuk melaksanakannya. Sedangkan rangkaian sebelum tradisi dilakukan, boleh ikut warga setempat dan dari luar desa hingga pukul 07.00,” urainya.
Batasan itu dilakukan, lanjut Koyan, setalah jam tujuh sudah ada beberapa warga yang menggunkan air di hulu Sungai Sala, sehingga tidak dianggap Deha atau perawan lagi.
Setelah melaksanakan tradisi atau menyaksikan tradisi tersebut, masyarakat juga bisa langsung melaksanakan panglukatan. Karena bertepatan dengan Galungan sebagai hari suci. “Makanya sekalian dilaksankan untuk pembersihan secara rohani. Kalau dulu saya sampai berebut supaya bisa pertama kali untuk malukat di sini, agar dapat Yeh Daha itu,” papar pria 60 tahun tersebut.
Air Pecampuhan bersumber dari aliran air berasal dari bendungan Apuan, Susut, Bangli dengan aliran sungai yang bersumber dari bendungan Madangan, Bitera, Gianyar, bertemu menjadi satu. “Karena dianggap mempunyai hal yang positif, maka banyak warga yang malukat di Pencampuhan ini, terutama yang sakit secara niskala,” terangnya.
Jika penasaran dengan pelaksanaan tradisi tersebut, bisa berkunjung tempat pasiraman Taman Tirta di Desa Sala, Kecamatan Susut, Bangli. Jika mencarinya dari Kota Denpasar, membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Melewati Jalan Bypass Ida Bagus Mantra, sampai di lampu merah setelah Pantai Lebih, tempuh ke kiri menuju Desa Tulikup Gianyar.
Sampai di lapangan Tulikup ke utara mengikuiti jalan yang akan sampai di Kota Bangli. Ketika sudah berada di lampu merah bekas Rumas Sakit Bangli, belok ke kiri menuju arah Susut, maka akan sampai di Desa Sala, sebuah desa yang dikenal dengan panglukatan berisi patung naga.
Editor : I Putu Suyatra