Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Demi Kesembuhan Ayahnya, Seorang Pemuda Tantang Maut Jadi Watangan

I Putu Suyatra • Senin, 27 November 2017 | 23:46 WIB
Demi Kesembuhan Ayahnya, Seorang Pemuda Tantang Maut Jadi Watangan
Demi Kesembuhan Ayahnya, Seorang Pemuda Tantang Maut Jadi Watangan

BALI EXPRESS, GIANYAR - Pentas Calonarang sangat idendik dengan adegan Watangan (mayat dari orang yang masih hidup) yang diusung ke kuburan tengah malam. Lakon berisiko ini, rela dilakukan seorang pemuda, Kadek Edi Wahyu Kususma Yudha demi kesembuhan orang tuanya. Bagaimana muasalnya menantang maut itu akhirnya dilakukan?


Menjadi Watangan tak sembarang orang mau melakoninya, karena risikonya sangat fatal. Pentas yang identik adu ilmu kanuragan antara aliran kiri dan kanan ini, akan terfokus kepada sosok orang yang dijadikan mayat, yang sudah melalui prosesi kematian dan siap dibawa ke setra atau kuburan tengah malam.


Bila nasib lagi apes, bukan tidak mungkin watangan itu akan tak bias bangkit lagi alias mati beneran karena dikalahkan oleh kekuatan orang yang menjalankan Ilmu Aji Ugig. Namun, selama ini, pentas Calonarang di Bali belum sampai menimbulkan korban meninggal yang menimpa orang yang jadi watangan.


Meskipun demikian, lakon ini tetap sangat riskan dan berbahaya, karena juga harus siap juga soal benteng kekuatan niskala dari diri sendiri di samping mengandalkan kekuatan  yang melaksanakan yang sumber kekuatannya dari Hyang Maha sempurna lewat sasuhunan atau dewa yang bersthana di tempat di mana Calonarang digelar. Namun, risiko berat itu sepertinya tak soal bagi Kadek Edi Wahyu Kususma Yudha. Pemuda asli Bedulu, Blahbatuh ini mau ngayah menjadi watangan agar ayahnya sembuh dari sakitnya yang tak jelas juntrungannya.


“Saya jadi watangan karena sudah pasrah, sebab ayah tidak kunjung sembuh dari peyakit yang tidak karuan. Sudah  ke sana - ke mari berobat tidak juga sembuh. Sehingga, saya berpikir untuk ngayah jadi watangan, kalau ayah saya diberikan kesembuhan,” terang pria 24 tahun ini, ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya Banjar Taman, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, akhir pekan kemarin.


Dikatakannya,  ayahnya sudah sakit-sakitan selama 12 tahun, karena itu saya putuskan untuk ngayah saat Calonarang jadi Watangan. “Jika ayah sembuh, saya masesangi (berjanji) menjadi watangan dan bukan yang lainnya, “ terangnya.


Hal itu dilakukan Kadek Edi karena sangat meyakini


bahwa Pura Dalem merupakan tempat sumber kehidupan dan juga kematian. “Saya hanya bermodalkan nekat dan berserah untuk tulus ngayah menjadi Watangan,” akunya.


Dalam proses menjadi Watangan, Kadek Edi mengaku memerlukan persiapan sekitar satu tahun lamanya. Yang paling penting ia katakan adalah kesiapan moral dan mental, apalagi  susah mendapatkan izin dari ibu sebelumnya  untuk bisa ngayah menjadi Watangan.


Di samping itu, ia selalu mohon izin kepada ibunya, juga selalu matur piuning di merajan dan diimbangi dengan meditasi.  Ketika sudah diberikan oleh ibunya, ia merasa lebih siap untuk kemudian menjalankan apa yang telah ditekadkan.


 “Saat sebelum menjadi Watangan itu saya sudah pasrah, dan berserah diri kepada sasuhunan yang malinggih di Pura Dalem. Saya juga tidak ada membawa jimat untuk kekebalan atau yang lainnya, karena sudah bertekad untuk ngayah,” terangnya.


Pada saat ngayah tersebut, Kadek Edi merasakan seperti orang tidur biasa. Yang ia lakukan hanya konsentrasi. Bicara orang disekitarnya ia bisa dengar dengan jelas.  “ Saya  hanya fokus untuk nunas ica (mohon keselamatan) saja, agar diberikan keselamatan selama pementasan berlangsung,” urainya.


Sebelumnya  ia mengaku sudah berkordinasi dengan jero mangku di Pura Dalem untuk  bersama-sama mendoakan. Edi juga mengaku, koordinasi juga sebagai salah satu cara untuk menghormati tokoh yang disucikan di pura tempat Calonarang.


Ngayah sebagai Watangan berlangsung sekitar satu setengah jam. Kadek Edi yang terlelap dibungkus kain kafan, yang sebelumnya melalui ritual kematian, mulai dari dimandikan hingga siap diberangkatkan akan dikubur, kemudian digotong tengah malam, mengelilingi desa, dan berakhir di setra, betepatan di tanah pamuhunan (tempat membakar mayat.


Di tanah pamuhunan, Kadek Edi kembali menjalani prosesi upacara yang bertujuan untuk mohon pengampunan kepada sasuhunan (sosok yang disembah sebagai manifestasi dari kekuatan Tuhan) yang ada di sana. Saat diarak sampai kuburan itulah, dilaksanakan prosesi ngundang (menantang) orang yang sakti agar menggunakan Ilmu Aji Ugignya, agar Watangan itu tak bisa bangun lagi alias mati sungguhan. “Bersyukur semuanya berjalan lancer,” terangnya.


Setalah selesai melaksanakan upacara di tanah pamuhunan tersebut, ia mengaku bisa sadar, bangun normal kembali. Bahkan, berjalan kembali seperti biasanya.


Namun, diakuinya berselang beberapa hari setelah ngayah tersebut, ia bermimpi dicari oleh seseorang yang mengajaknya berkelahi di tanah pamuhunan, tempatnya diturunkan saat ia jadi Watangan. Ia mengaku mau meladeninya, namun pada akhirnya orang tersebut kabur.


“Mungkin ada sebuah sugesti atau lainnya, sehingga saya bisa bermimpi seperti itu. Sebab, saat menjadi Watangan, juru undang memberikan waktu selama tujuh hari bisa dipinton (dicari secara niskala). Tepat di satu minggu setelah ngayah, saya mimpi hal tersebut,” ungkapnya.


Kadek Edi menegaskan,  hanya ingin ngayah dengan ikhlas,  tanpa ada keinginan untuk mencari ketenaran, dianggap sakti, ririh, kebal atau yang lainnya. Di samping itu, ia mengaku hanya menginginkan ayahnya sembuh. “Saya dalam keadaan kosong tanpa ada membawa jimat. Hanya ada orang yang  menuntun dalam proses tersebut,” bebernya.


Hambatan yang mengganjal diakuinya justeru dating dari ibunya yang sangat lama mempertimbangkannya. Apalagi dituding mencari masalah baru di tengah ayahnya sakit, dan dianggap


mau menonjolkan kesaktian. “Saya satu tahun minta izin, baru dikasi oleh ibu. Karena saya sudah berserah diri saja. Apalagi sesangi itu harus dilakukan, supaya ayah saya sembuh dan normal kembali. Syukur setahun setelah ngayah, ayah saya sembuh dari sakitnya,” tandasnya.


Ayah Kadek Edi, Made Sueta mengakui anaknya memang berawal dari hal yang kosong, tidak tahu apa dan bagaimana menjadi Watangan tersebut. Ia hanya bermodalkan ketulusan, dan berserah diri. “Pada intinya adalah kepercayaan kepada sasuhunan malinggih di sana dan kemahakuasaan Tuhan untuk memberikan perlindungan, sehingga saya sampai saat ini diberikan jalan untuk sembuh,” terang ayah dua anak tersebut.


Yang paling penting dalam pelaksanaan tersebut, lanjutnya, tidak ada niat untuk menantang orang lain. Dan, harus berangkat dari hati nurani yang memang benar-benar tulus.


Dikatakannya, banyak orang bertanya tanya soal apa bekal (kekuatan niskala) anak dan siapa yang membentenginya.


“Saya hanya jawab yang memegang dan dibawa hanya ketulusan ngayah saja. Yang ngisi adalah sasuhunan yang ada di Pura Dalem,” papar pria asli Bedulu tersebut. Dan memang benar, setelah menjadi watangan, ayahnya kini tak pernah masuk rumah sakit lagi. 

Editor : I Putu Suyatra