Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Yuliastini: Ada yang Nawari Joged Aneh-aneh, Langsung Dimarah Pacar

I Putu Suyatra • Rabu, 29 November 2017 | 17:38 WIB
Yuliastini: Ada yang Nawari Joged Aneh-aneh, Langsung Dimarah Pacar
Yuliastini: Ada yang Nawari Joged Aneh-aneh, Langsung Dimarah Pacar

BALI EXPRESS, DENPASAR - Belakangan Joged Bumbung kena label tarian jaruh atau porno karena ulah oknum penari dan pangibing.


“Joged Bumbung memiliki pakem yang jelas. Sedangkan tarian yang tidak senonoh, hanya dilakukan oleh oknum joged atau pangibing yang belum paham seni tari joged saja,” terang salah satu penari joged, Putu Yuliastini.


Yulistiani yang sudah gemar menari sejak SD ini, mengaku tidak sreg melihat ulah penari joged porno.


“Kalau belajar khusus menari joged tidak pernah. Soalnya kalau dasar-dasar menari kan sudah bisa dari tarian lepas itu. Cuma dari melihat-lihat saja saat menonton joged, mulai dari gerakan dan pada saat gambelan mengiringi,” papar pemudi 25 tahun yang mengaku menari joged sesuai pakemnya.


Yuliastini menerangkan, yang terpenting dalam pakem joged adalah pangalang dan pangelemah. Pangalang adalah saat joged baru keluar dari langse (baru masuk panggung). Sedangkan pangelemah,  saat menari dengan membuka kepet (kipas) yang  merupakan ciri khas.


Setelah membuka kepet, lanjutnya,  sudah memulai untuk menari dengan pakem yang berlaku. Di samping itu, juga akan mencari pangibing yang diajak menari.


Yuliastini mengungkapkan bahwa pakem tari joged sebenarnya lebih susah, dari pada pakem tari lepas. Sehingga ketika tidak mengusai pakem, sangatlah sulit untuk bisa menari joged. Maka kebanyakan hanya mengandalkan goyangan saja. Beda dengan yang menari sesuai pakem, akan mengutamakan seni tariannya atau gerakan. Dan penggalan cerita calonarang, bisa juga dipentaskan saat menari. Seperti memukul pangibing layaknya rangda, juga ada mabang (tarian barong). Yang semua itu disesuaikan dengan gambelan.


“Jujur sampai sekarang tidak pernah mendapat tawaran menari dengan permintaan yang aneh-aneh. Kalaupun berani,  bisa dimarah langsung sama pacar saya,” terang wanita lima bersaudara .


Yuliastini mengaku mulai menari joged ketika mengikuti pacarnya yang seorang penabuh gambelan joged. “Saat itu saya hanya melihat saja dulu gerakannya , kemudian irama gambelan dan tariannya seperti apa. Karena keseringan mengikuti pacar saat magambel, memotivasi diri juga untuk belajar sendiri di rumah. Di samping itu, juga sudah ada dasar menari sebelumnya, seperti legong, oleg, dan tari yang lainnya,” terang pemudi asal Bangli ini.


Disinggung terkait kendala, Yuliastini mengatakan hampir tidak ada kendala dalam pementasan tari joged bumbung. Namun dalam menari ia jelaskan, tergantung joged dan pengibingnya saja. Sebab ketika penari menonjolkan hal yang tidak baik, otomatis pengibing juga akan ikut berprilaku tidak senonoh terhadap penari tersebut. Begitu pula dengan sikap para pengibing, seperti yang dijelaskan Yuliastini kadang ada pengibing yang tidak tahu seni, dan seenaknya saja melakukan ngibing yang tidak senonoh.


Diakuinya, ketika menari dengan pengibing akan sangat indah,  karena keduanya berkolaborasi di panggung dan diiringi gambelan yang mendukung pula. “Akan hadir tarian yang sangat indah bila keduanya berkolaborasi, bukan malah lepas dari alurnya,” sesalnya.


Yuliastini mengatakan, terkait gelung yang dipercayai sebagai sumber taksu, tergantung keyakinan penarinya. Namun gelungan yang ia pakai tidak berisi apa-apa. Hanya berisi hiasan  untuk mempercantik tampilan. Namun, tak ditampiknya ada juga penari yang mengaku setelah menggunakan gelungan lupa dengan segalanya.“Menari itu tergantung orangnya, kalau  keinginannya menari dengan cara yang seronok, bukan karena taksu yang ada di gelungnya. Kalaupun  taksu itu ada di gelungan, kan tidak mungkin akan dipakai pada pementasan yang erostis,” bebernya.


Disinggung terkait ada yang jahil saat pentas, ia mengatakan tidak pernah. Tetapi hanya gangguan seperti mati lampu atau masalah teknis lainnya. Kejadian seperti itu, sudah biasa dialami dan diatasi dengan sekaa (perkumpulan) jogednya.


“Kalau mati lampu kan otomatis sound system juga ikut mati. Jadi, gambelan tetap berjalan dan tarian juga tetap berlangsung. Kalua ada pangibing pun berlangsung dan tak berlaku aneh karena memang sejak awal penarinya memang sesuai pakemnya,” bebernya.


Yuliastini menambahkan, memang ketika pikiran sedang kosong, bisa saja penari mengalami kesurupan. Tetapi hal tersebut terjadi jika mamundut (mementaskan) sasuhunan yang berupa gelung joged untuk ditarikan di pura. Tapi kalau alasan karena ‘taksu’ gelung, lantas penari joged menari dengan seronok dengan pangibing, Yuliastini sangat tidak sependapat. 

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali