BALI EXPRESS, UBUD - Selain suka menampakkan diri, tapel celuluk yang awalnya hadiah pernikahan dari seorang pemangku di Sanur kepada warga negara Kanada, Mr. Carrel tersebut ternyata juga terkenal sangar. Tak heran, ketika Ida Ratu Gede Manik Amerika sudah malinggih, banyak warga yang menanti Ida masolah.
“Sebenarnya waktu pertama saya terima, kondisi tapel Ida Ratu Gede Manik tak sebaik sekarang. Sebab saat itu catnya sudah pudar. Beberapa goresan juga ada di wajah tapel itu. Yang paling kelihatan sekali, rambutnya juga sudah tipis,” ucap mantan Bupati Gianyar, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati melanjutkan ceritanya.
Karena kondisinya yang tidak lagi baik, walaupun nilai magisnya masih kental terasa, keputusan untuk menyucikan tapel celuluk tersebut, sesuai petunjuk baos orang pintar tetap dilakukan pihak puri. “Karena kondisinya itulah, saya beberapa kali memperbaikinya. Seperti mengganti rambut Ida (Ida Ratu Gede Manik Amerika, Red). Termasuk catnya juga diperbaharui. Perbaikan tersebut, jauh sebelum ngodakin sareng Ida Betara Lingsir. Jika tidak salah, itu sebelum tahun 2010 lalu,” sambung tokoh Puri Ubud, ini.
Ditanya apakah setelah malinggih di Merajan Puri Saren Kauh Ubud, Ida Ratu Gede Manik sempat tedun untuk masolah. Pria yang akrab disapa Cok Ace ini menuturkan, Ida Ratu Gombrang (sebutan lain Ida Ratu Gede Manik Amerika, Red) disebutkan pertama kali disertakan untuk tedun masolah, ketika dilangsungkan pementasan Calonarang di Pura Dalem Ubud. Dan seperti sudah menjadi ciri khas, Ida Ratu Gombrang kembali menunjukkan kekuatan mistisnya.
“Cerita dan kejadian aneh ketika Ida masolah memang banyak sekali. Termasuk waktu pertama kali masolah tersebut. Saat itu, suasana pementasan Calonarang memang selalu dibuat Ida mencekam. Saya sendiri tidak begitu tahu, kenapa sampai seperti itu,” ungkapnya.
Bahkan pernah suatu ketika Ida Ratu Gombrang masolah, saat keluar Ida Ratu Gede Manik sempat lari hingga sampai di kuburan. Padahal ketika itu, yang mundut sesuhunan yang juga memiliki sebutan Ida Ratu Amerika, itu seorang pria yang sudah lanjut usia.
Selain selalu membawa suasana mencekam saat masolah, oleh masyarakat, Ida Ratu Gede Manik juga dikenal sangar. Sebab menurut keyakinan Cok Ace, Ida Ratu Gede Manik memiliki temperamental tinggi, hingga sangat ditakuti. “Saya kurang tahu, kenapa seperti itu. Tapi itu memang sesuai dengan wujud Ida Ratu Gede Manik dalam dunia nyata,” bebernya.
“Selain itu, ketika Ida masolah terus ada yang mencoba mintonin, Ida akan lari sendiri dan terus mengejar orang yang itu. Walau pun lokasinya sangat jauh, Ida tak segan untuk mengejar,” imbuhnya.
Tidak hanya mengejar, menurut cerita Cok Ace, Ida Ratu Gede Manik juga tak segan mencari mereka yang bisa ngeleak, sekaligus menyebut namanya. Hal ini sebenarnya membuatnya waswas. Karena itu pihak Puri Ubud sempat memohon hal tersebut tidak dilakukan. “Ini pula yang membuat kami pernah memohon pada Ida sesuhunan, supaya tidak sampai menyebut-nyebut nama,” ungkapnya.
Dengan suasana mistis yang selalu melekat setiap Ida Ratu Gede Manik mesolah, membuat pementasan Calonarang akan ditunggu masyarakat.
“Itu sudah diketahui banyak masyarakat. Karena masyarakat memang sudah menunggu kejadian-kejadian aneh yang akan terjadi.
Lantas bagaimana dengan saat ini. “Kalau sekarang memang lebih stabil. Walau pun kadang-kadang masih kerap muncul juga sangarnya,” terangnya.
Tapi yang membuat Cok Ace heran, entah dari mana asal muasal informasi yang muncul di masyarakat, sekarang banyak masyarakat yang malah mesesangi dan nunas tamba (meminta obat) pada Ida Ratu Gede Manik. Inilah yang membuat hiasan Ida Ratu Gombrang saat ini begitu banyak. “Makanya hiasan Ida, seperti bunga sangat banyak sekarang. Karena itu merupakan aturan sesangi masyarakat,” ungkapnya.
Selain itu, meski sudah melinggih di Merajan Puri Saren Kauh Ubud, Ida Ratu Gede Manik diakui Cok Ace masih kerap tedun. Tapi kejadian itu biasanya terjadi pada malam di hari-hari tertentu saja. Atau pun ketika tengah terjadi sesuatu, yang mungkin bisa membawa musibah. “Kenapa kami yakin Ida tedun, sebab bunga yang biasanya terpasang di rambut Ida, ada yang menemukan di jalan yang sempat dilintasi. Atau pun ada daun yang menempel di rambut Ida,” pungkasnya. (habis)
Editor : I Putu Suyatra