BALI EXPRESS, DENPASAR - Umat Hindu di Bali mengenal trah Pande. Jumlahnya sangat banyak di Bali.
Umat Hindu di Bali yang menjadi bagian dari Trah Pande juga dikenal dengan perapen pembuatan senjata serta peralatan dari besi.
Selain itu, mereka juga memiliki beberapa pantangan. Salah satunya tidak makan ikan gabus. Kenapa?
Perapen merupakan tempat bekerja Pande membuat berbagai senjata mengerjakan sebuah alat-alat keperluan dari petani maupun tukang.
Di samping itu juga tempat pembuatan senjata yang dipasupati seperti keris, gada, maupun tombak. Pada perapen merupakan pertemuan tiga unsur alam yang ada di bumi.
Hal tersebut diungkapkan oleh Sire Mpu Pande Aji, ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di grianya, Banjar Tatasan Kelod, Tonja, Denpasar Kamis (14/12/2017).
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengungkapkan dari sejarah Pande yang bermula dari India waktu itu.
Sesuai perkembangan zaman, sehingga Agama Hindu mengalami beberapa kali penyaringan ketika sudah sampai di Bali. Di mana yang menyesuaikan dengan adat, tradisi dan budaya di Bali.
“Di India terdapat seorang Sire Mpu yang disebut Sang Ratu Putra Pande, yang zaman itu sudah mengerti membedakan mana unsur tanah dan unsur besi,” papar mantan guru agama Hindu tersebut.
Dikarenakan perkembangan zaman, maka tanah yang mengandung besi itu dapatlah diolah menjadi sebuah alat yang sederhana.
Bahkan sampai digunakan alat pertanian dan membantu pekerjaan lain. Di mana yang disebut dengan aga bawa, yaitu alat-alat pertanian.
Sehingga memudahkan melakukan pekerjaan dalam bercocok tanam zaman tersebut hingga sekarang. Namun pada zaat itu baru hanya sekadar berbentuk saja.
Dari dibuatkan sebuah alat aga bawa, maka sudah mulai penduduk berhenti hidup dengan berpindah-pindah (nomaden).
Karena sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Yang bertani sudah dengan mudah menggarap lahan pertanian, dan tukang sudah dapat membuat rumah yang kokoh.
Sire Mpu Pande Aji juga mengungkapkan, semenjak dibuatkan sebuah aga bawa tersebut, masyarakat mampu menghasilkan makanan.
“Di mana petani yang bercocok tanam menggunakan sebuah sabit, sekup, cangkul dan lain sebagainya. Di samping itu juga, mereka bisa membuat rumah karena ada sebuah alat bangunan. Seperti sebuah gregaji, ataupun pisau yang dibuatkan oleh pande zaman itu,” jelasnya.
Sedangkan setiba di Pulau Bali, mulailah ada kombinasi dengan adat dan budaya.
Yang terlebih dari kepentingan pada zaman kerajaan, dari pembuatan keris hingga tombak yang kerap dijadikan senjata untuk perang kala itu.
Selain untuk menjaga diri serangan binatang buas atau musuh. Terlebih juga dapat dijadikan berupa barang yang diperjual belikan.
Sire Mpu Pande Aji juga mengungkapkan bahwa menurut cerita yang ia dapatkan dari lelingsirnya, trah Pande sangat menghormati ikan jeleg (ikan gabus).
Sebab pada lelingsirnya terdahulu ketika menyeberang ke Bali dari Pulau Jawa, dibantu oleh seekor ikan gabus tersebut.
“Ketika menyeberang harus melewati lautan dan sungai, maka ada sebuah tempat berpijak seperti kayu. Itulah yang digunakan untuk menyeberang, ketika sudah sampai dan melihat kayu tersebut ternyata seekor ikan gabus. Maka pantang untuk trah Pande makan ikan gabus,” papar ayah 4 anak tersebut.
Ditanya jika makan ikan gabus, dirinya mengaku akan mengalami penyakit kulit. Yang paling parah pada sebuah bibir yang menjadi gatal-gatal dan melepuh.
Selain itu jika seroang pande yang hendak pergi ke sawah, ketika ada ikan gabus di sungai, pasti ikan tersebut akan diam saja. Sebab Sire Mpu Pande Aji meyakini bahwa ikan gabus tersebut mengetahui ada trah pande yang akan lewat.
Disinggung kenapa bisa demikian, ia sendiri menjelaskan kemungkinan telah ada perjanjian yang khusus pada leuluhurnya terdahulu.
Selain itu, dirinya menjelaskan asal mula dari perapen tersebut. Di mana yang berarti Pura Apian, berarti sebuah tempat pemujaan yang dipenuhi api.
Maka Sire Mpu Pande Aji juga mengungkapkan bagi yang memiliki ilmu aji ugig (usil) akan berpikir ketika memasuki areal perapen tersebut.
Sebab, di sana diyakini sebagai panglebur segala macam ilmu aji ugig.
Terkait pantangan yang lain, ia mengaku bagi orang yang cuntaka tidak diperkenankan untuk berada di areal perapen yang disucikan tersebut.
Selain untuk membuat senjata, Sire Mpu Pande Aji mengaku api yang dimiliki oleh trah pande terdapat dua jenis api.
“Yang pertama adalah api yang untuk mencari nafkah yaitu dari perapen, sedangkan api yang kedua adalah api sebagai penghidupan yang untuk memasak di dapur,” jelasnya.
Dalam pembuatan senjata memang siapa saja boleh membuat, namun dirinya menyebutkan jika nyepuh (membentuk) senjata tersebut harus dari trah pande.
Dikarenakan nyepuh itu merupakan titipan dari leluhurnya, yang sampai saat ini masih dilaksanakan.
Ditanya jika dibuat dan disepuh oleh orang selain trah pande, Sire Mpu Pande Aji menjelaskan akan terjadi sebuah kabrebeh (musibah).
“Kalau bisa membuat, ya memang boleh saja. Namun belum pantas karena bukan dari trah Pande. Jika itu dipaksakan akan mengalami sakit parah, badannya seperti busung lapar, mukanya semag-semug (lesu) dan sakit lainnya,” urai Sire Mpu Pande.
Selain itu, jika trah Pande saat bekerja mengerjakan pembuatan senjata dan terkena api tidak akan lama mengalami sakit.
Paling tidak ia mengatakan hanya beberapa hari saja ada bekas, selanjutnyan akan hilang dengan sangat cepat.
Itu bisa terjadi dikarenakan dalam pengerjaan tersebut dianggap telah melaksanakan Dharmaning Kepandean.
Pada tempat yang sama, ada salah satu krama yang datang ke gria mengaku sisya dari Sire Mpu Pande Aji.
Diketahui yang bernama Putu Sugiantara akan melaksanakan upacara nyambutin (upacara untuk balita).
Dalam hal itu juga Sugiantara menjelaskan seluruh upacara apa yang akan dilangsungkan di rumahnya selalu berkordinasi ke sana. Sebab merupakan siwanya yang berlangsung dari turun-temurun.
“Berawal dari nunas hari baik, cara upakara, dari baru lahir sampai ngaben saya pasti ke sini. Bahkan sampai nunas tirtanya saya hanya sampai di sini saja,” terang pria asli Abiansemal, Badung tersebut. (*)
Editor : I Putu Suyatra