BALI EXPRESS, TAMPAKSIRING - Pura Gunung Kawi di Tampaksiring, Gianyar, dipercayai sebagai salah satu tempat tinggal Raja Udayana. Bahkan, di tempat yang banyak terdapat pahatan unik ini, ada salah satu goa yang juga dijadikan tempat khusus meditasi.
Bendesa Adat Pura Gunung Kawi, I Wayan Lelos, mengatakan, Pura Gunung Kawi diketahui sudah ada sejak abad XI, yang juga menjadi tempat beryoga Raja Udayana zaman itu.
Berdasarkan cerita di masyarakat secara turun-temurun, lanjut Lelos, Raja Udayana diketahui memiliki seorang istri bernama Sri Guna Priya Dharma Patni yang tinggal pada areal pura.
Diketahui Raja Udayana memiliki tiga orang putra, yang pertama bernama Erlangga, putra nomor dua Marakata, sedangkan ketiga Anak Wungsu. Anak yang pertama kembali pulang ke kerajan yang ada di Pulau Jawa, karena istri Raja Udayana berasal dari Jawa. Dan, di Kediri Erlangga akhirnya menjadi raja.
“Di Gunung Kawi masih ada Marakata dengan Anak Wungsu. Namun, Marakarta meninggal dunia sehingga dilanjutkan oleh adiknya, Anak Wungsu,” terang Lelos kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya, Banjar Penata, Tampaksiring, Gianyar, pekan kemarin
Disinggung terkait asal-usul nama Gunung kawi, Lelos mengungkapkan kemungkinan lokasinya yang berada pada sebuah gunung. Memang secara tata letak, lanjutnya, terdapat satu pura payogan luhur di sebuah dataran yang tinggi, tepatnya berada di atas Pura Gunung Kawi. “Tyang napetan sampun wenten pura niki sekadi punika,” ujarnya. Maksudnya Lelos sudah mendapati situasi dan lokasi pura seperti adanya kini.
Dikatakannya, ada tiga mandala, di mana areal pura terbagi atas lima bagian berbeda-beda. Pada Pura Gunung Kawi terdiri atas tiga mandala. Di utara pura terdapat sebuah candi yang sangat megah dan besar, dinamai Candi Tebing. Disebut dengan Candi Tebing karena terletak di sebuah tebing. “ Terdapat sepuluh buah candi, lima buah candi terletak di sebelah timur Tukad Pakerisan, sedangkan empat lagi di sebelah barat tukad. Satunya lagi berada di wilayah Pura Bukit Gundul, yang masih menjadi areal pura tersebut,” bebernya.
Dijelaskannya, jumlah pura keseluruhan ada lima areal pura, yakni Pura Gunung Kawi, Pura Puncak Gunung Kawi yang berada di tempat yang lebih tinggi. Kemudian Pura Kawan, Pura Pemasaran Gunung Kawi, dan Pura Bukit Gundul. Lelos menambahkan tidak ada tapakan, hanya
disimboliskan dengan sebuah pratima di lima pura tersebut.
Di areal pura ada goa cukup banyak, persis layaknya sebuah rumah. Ada pula sebuah pancuran yang diyakini sebagai tempat permandian raja. Dijelaskannya, selain digunakan sebagai tempat sembahyang, pada areal Pura Gunung Kawi juga sering ada orang bermeditas dan malukat. “Menjelang Pilkada, pasti banyak ada pamedek yang datang. Bahkan, ada juga sampai makemit (bermalam),” terang Lelos.
Ditemui di tempat terpisah, Pemangku Pura Gunung Kawi, Jro Mangku I Ketut Wirawan mengakui bahwa di kawasan pura memang sering digunakan sebagai tempat meditasi. Bahkan, ada juga yang malukat di samping nunas tirta. “Tirta yang ada memang memiliki dua macam fungsi, yakni digunakan upacara ke luhur atau pada diri sendiri. Piodalan dilaksanakan pada Purnama Katiga, berlangsung selama empat hari.
Di Pura Gunung Kawi memang terdapat beberapa buah goa. Salah satu yang diyakini sebagai tempat Raja Udayanan bermeditasi, hingga kini dijaga dengan baik, terlebih soal kesuciannya. “Jika masuk ke goa khusus, tidak diperkenankan menggunakan alas kaki,” papar Jro Mangku I Ketut Wirawan, ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di jeroan Pura Gunung Kawi, Tampaksiring, Gianyar, pekan kemarin.
Pantangan tersebut, lanjutnya, memang sudah berlaku sejak dulu, sehingga tidak ada yang berani melanggarnya. Soal pantangan tersebut sudah ada peraturan tempampang dengan jelas di dinding payogan tersebut. “Jika itu dilanggar, wajib hukumannya untuk melaksankan upacara pembersihan. Atau menghaturkan banten guru piduka (mohon maaf) yang dihaturkan di pura,” jelas pria tiga anak tersebut.
Pada areal payogyan terbagi atas dua bagian. ketika masuk dari luar akan melihat dinding pembatas yang sangat besar, berbahan dari batu padas alami. Pada sebelah selatan, terlihat juga seperti bangunan yang menjadi tempat tinggal, berupa goa dengan bentuk memanjang. Sedangkan pada bagian utara, terdapat pula sebuah goa. Namun, di dalamnya ada sebuah palinggih dan dihiasi dengan wastra, yang tidak boleh dimasuki. Sebab di tempat itulah jadi tempat bermeditasi Raja Udayana. “Sampai saat ini, pamedek yang datang sering juga meditasi di payogan. Tetapi hanya di luar goa dan tidak masuk ke goa payogan,” jelasnya.
Bendesa Adat Pura Gunung Kawi, I Wayan Lelos tak menampik sering pamedek datang pada malam hari. Hal itu diketahui karena setiap akan ada pamedek yang nangkil untuk meditasi pasti memeberitahu dirinya terlebih dulu. “Itu kan malam hari, memang harus ada pemberitahuan kepada tokoh adat atau kepada krama yang sedang berjaga di sana. Agar diketahui dan didata orang yang nangki ke sana. Terlebih itu pada malam hari. Dari tokoh adat juga ikut serta menjaga keselamatan pamedek yang datang,” ungkap pria 64 tahun tersebut.
Jika berkeinginan menikmati pemandangan dan keasrian areal Pura Gunung Kawi, sangat mudah mencari lokasinya. Lokasinya satu jalur menuju Pura Tirta Empul Tampaksiring. Dari Kota Denpasar hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Melewati Pasar Blahbatuh ke utara, menuju Desa Bedulu Gianyar. Selanjutnya tempuh jalan lurus lagi ke utara sekitar enam kilometer, maka akan sampai di pusat Kecamatan Tampaksiring. Nah, di sisi jalan sudah terpampang dengan jelas papan nama yang bertuliskan Pura Gunung Kawi Tampaksiring.
Editor : I Putu Suyatra